# Bahlil Belum Setujui Harga Ekspor Listrik Hijau ke Singapura, Ini Alasannya > Pemerintah menahan izin ekspor listrik bersih ke Singapura karena negosiasi harga belum win-win solution. Indonesia incar kesepakatan bernilai ekonomis. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa otoritas hilir energi nasional masih menahan izin terkait rencana ekspor listrik bersih berbasis energi baru terbarukan atau EBT ke Singapura ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Carbon Trading - Published At: 2026-07-09 13:57:00 - Author: Gusti Ridani - Editor: Hutama Prayoga - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/carbon-trading/bahlil-belum-setujui-harga-ekspor-listrik-hijau-ke-singapura-ini-alasannya - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/carbon-trading/bahlil-belum-setujui-harga-ekspor-listrik-hijau-ke-singapura-ini-alasannya.md ## Article **KABARBURSA.COM **- Pemerintah Indonesia belum mengetok palu kesepakatan final terkait rencana ekspor listrik bersih berbasis energi baru terbarukan atau EBT ke Singapura. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa otoritas hilir energi nasional masih menahan izin tersebut karena proses negosiasi formula harga dan regulasi teknis dinilai belum memberikan keuntungan yang berimbang atau win-win solution bagi kedua belah pihak. Langkah kehati-hatian ini diambil demi melindungi nilai keekonomian aset energi nasional. Indonesia tidak ingin terburu-buru melepas pasokan listrik hijau dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS terapung dan hamparan panel surya di Batam, Kepulauan Riau, sebelum tercapai titik temu harga yang menguntungkan bagi kas negara. Bahlil mengungkapkan bahwa komitmen awal kerja sama ini sebenarnya telah diikat dalam tiga nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) sejak satu tahun lalu. Kesepakatan itu mencakup ekspor listrik hijau, pembangunan kawasan industri hijau, hingga penyediaan fasilitas penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS). "Terkait dengan listrik ke Singapura proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga dan regulasi kita. Kan memang harga itu ada di pemerintah, kita pengin ada win-win saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan. Nah, tinggal di titik itu aja kalau sudah ada pembahasan. Tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu. Kita pengin semuanya harus punya manfaat yang win-win lah untuk kedua pihak ya. Saya merasa belum win-win," kata Bahlil kepada media, dikutip Kamis, 9 Juli 2026. Bahlil menjelaskan, pasokan listrik ramah lingkungan yang akan dikirim ke Singapura tersebut bersumber dari megaproyek infrastruktur panel surya yang terkonsentrasi di wilayah Batam. Kawasan tersebut dinilai paling strategis secara geografis untuk membangun ekosistem rantai pasok energi bersih karena kedekatan jarak wilayah dengan Singapura. Meski proses negosiasi tarif masih berjalan alot, pemerintah memastikan draf skema investasi ke depan tidak hanya berfokus pada sisi hulu pembangkitan semata. Kerja sama bilateral ini juga akan mencakup investasi pembangunan infrastruktur jaringan transmisi kabel bawah laut. "Ekspor listrik Singapura listrik hijau. Solar panel, solar panel di Batam. Akan diarahkan ke sana, akan ada kerja sama ya," jelas Bahlil mengenai kesiapan teknis fasilitas pembangkit dan transmisi interkoneksi tersebut. Ketegasan sikap Indonesia dalam mengulur kesepakatan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah memegang kendali penuh atas penentuan tarif ekspor energi. Kementerian ESDM tidak akan membiarkan harga listrik hijau domestik ditekan oleh struktur pasar sepihak dari negara pembeli. Bahlil optimistis sengketa tarif ini akan segera mencair dalam waktu dekat seiring dengan intensifnya komunikasi tingkat tinggi antarpemerintah. Indonesia menargetkan kesepakatan baru nanti harus mampu menggerakkan roda ekonomi kawasan Batam sebagai pusat industri hijau baru di Asia Tenggara. ## DIM Tandatangani MoU dengan Perusahaan Singapura Sebelumnya, Pemerintah Indonesia resmi menunjuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia sebagai lembaga yang memimpin pengembangan perdagangan listrik lintas negara Cross-Border Electricity Trade (CBET) antara Indonesia dan Singapura. Penunjukan tersebut ditegaskan dalam pertemuan tahunan Singapore-Indonesia Leaders’ Retreat yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, baru-baru ini. Sebagai tindak lanjut, Danantara melalui anak usahanya, Danantara Investment Management (DIM), menandatangani tiga nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi asal Singapura untuk menjajaki kerja sama perdagangan listrik rendah karbon dan pembangunan jaringan interkoneksi kelistrikan lintas negara. MoU pertama diteken bersama Keppel Electric dan Sembcorp Utilities, anak usaha Sembcorp Industries, guna mengeksplorasi potensi kerja sama pembelian listrik rendah karbon yang diimpor ke Singapura. Selain itu, Danantara juga menandatangani MoU dengan Singapore Energy Interconnections (SGEI) untuk memfasilitasi pertukaran informasi serta penjajakan kerja sama di bidang teknis dan komersial terkait pembangunan interkoneksi listrik lintas negara. Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan Singapura menargetkan pembangunan proyek perdagangan listrik lintas negara dengan kapasitas sedikitnya 3,4 gigawatt (GW) pada 2035. Pemerintah kedua negara menilai proyek tersebut akan memperkuat konektivitas energi regional sekaligus mempercepat upaya dekarbonisasi melalui pemanfaatan listrik rendah emisi karbon. Selain itu, proyek ini juga diharapkan mampu menarik investasi baru dan membuka lapangan kerja di sektor energi bersih Indonesia. Untuk mendukung target tersebut, Indonesia dan Singapura sepakat menyiapkan kerangka regulasi, kebijakan, serta berbagai persyaratan investasi yang dibutuhkan dalam perdagangan listrik lintas negara. Kedua pemerintah juga akan mengembangkan Cross-Border Renewable Energy Certificate (REC) Framework yang mengacu pada standar internasional guna mendukung sistem pencatatan dan pelacakan sertifikat energi terbarukan sebelum aliran listrik pertama mulai beroperasi. Menteri yang membidangi Energi serta Sains dan Teknologi Singapura, Tan See Leng, menilai sejumlah proyek ekspor listrik dari Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang positif. Menurutnya, dukungan politik dari kedua negara menjadi modal penting untuk mempercepat realisasi proyek tersebut. “Sejumlah proyek potensial ekspor listrik di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang baik. Dengan kemauan politik dari kedua pemerintah dan koordinasi yang erat antara Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura dengan mitra di Indonesia, saya yakin proyek-proyek ini dapat melewati berbagai tantangan yang tersisa dan mulai beroperasi sebelum dekade ini berakhir,” ujar Tan See Leng, dalam keterangan tertulis Danantara, Senin, 6 Juli 2026. Ia menambahkan, proyek tersebut tidak hanya meningkatkan ketahanan energi dan keberlanjutan bagi kedua negara, tetapi juga mendukung visi pembangunan ASEAN Power Grid melalui penguatan konektivitas sistem kelistrikan di kawasan. (*)   ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan