# Lonjakan Harga Energi Diprediksi Picu Masyarakat Berpindah ke Listrik Mandiri > Peneliti UI menilai lonjakan harga energi akan mendorong masyarakat beralih ke listrik mandiri berbasis PLTS atap dan baterai. PLN diminta adaptif. Peneliti UI memprediksi kenaikan harga energi mempercepat adopsi PLTS atap dan baterai sebagai sumber listrik mandiri rumah tangga. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Ekonomi Hijau - Published At: 2026-07-08 14:00:00 - Author: Gusti Ridani - Editor: Moh. Alpin Pulungan - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/ekonomi-hijau/lonjakan-harga-energi-diprediksi-picu-masyarakat-berpindah-ke-listrik-mandiri - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/ekonomi-hijau/lonjakan-harga-energi-diprediksi-picu-masyarakat-berpindah-ke-listrik-mandiri.md ## Financial Entities - Stock Code: ADRO - Stock Name: Alamtri Resources Indonesia Tb - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – Gelombang transisi energi dinilai tengah menggeser cara masyarakat memenuhi kebutuhan listrik. Jika selama puluhan tahun rumah tangga sepenuhnya bergantung pada jaringan PLN, ke depan kondisinya diperkirakan berubah seiring semakin murahnya teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap dan baterai penyimpan energi. Dosen Teknik Sistem Energi sekaligus Peneliti Tropical Renewable Energy Center (TREC) Universitas Indonesia, Eko Adhi Setiawan, menilai tren tersebut tidak lagi sekadar wacana. Menurut dia, masyarakat mulai menyadari bahwa harga bahan bakar akan terus meningkat sehingga mendorong mereka mencari sumber energi yang lebih mandiri. Perkembangan teknologi PLTS atap, baterai penyimpan energi, hingga kendaraan listrik juga dinilai mempercepat perubahan pola konsumsi energi rumah tangga. “Sejak tahun 2010 di Indonesia khususnya, ketika orang sudah bisa pasang PLTS sekarang baterai di mana-mana, mobil listrik ada juga di mana-mana, sebenarnya tiap rumah sudah punya sistem sendiri. Jadi, ini harus dipahami dan disadari bahwa ternyata teknologi menggiring sistem atau menggiring dunia untuk bisa menyediakan listriknya sendiri,” kata Eko dalam webinar Reformasi Jaringan Listrik Indonesia yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR), Selasa, 7 Juli 2026. Menurut Eko, tren tersebut akan semakin menguat ketika harga baterai penyimpan energi dan PLTS terus turun. Di saat yang sama, tekanan terhadap keamanan energi akibat dinamika geopolitik global diperkirakan membuat harga bahan bakar fosil semakin rentan bergejolak. Kondisi tersebut, kata dia, akan mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan listrik dan mencari alternatif energi secara mandiri. “Kalau ini terjadi, maka masing-masing akan mencari solusinya sendiri-sendiri,” ujar Eko. Melihat perkembangan tersebut, Eko mengingatkan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT PLN (Persero), agar tidak lagi menggunakan pendekatan lama dalam mengelola sistem ketenagalistrikan nasional. Menurut dia, kebijakan yang membatasi partisipasi masyarakat justru berpotensi mendorong semakin banyak rumah tangga membangun sistem kelistrikan yang sepenuhnya terpisah dari jaringan PLN atau *off-grid*. Sebaliknya, Eko menilai tren pembangkitan listrik mandiri seharusnya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, PLN, operator, dan masyarakat. Menurut dia, regulasi perlu lebih adaptif, termasuk dengan memperbesar kuota pemasangan PLTS atap agar transisi energi tidak terhambat. “Kuota diperbesar, jangan dihambat-hambat. Hal-hal kayak gitu adalah sesuatu yang normal karena memang sistem menuju ke sana. Jadi, jangan pakai cara pandang lama,” tegasnya. Eko menilai semakin luasnya partisipasi publik dalam pengembangan PLTS Atap tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi PLN. Justru, keterlibatan masyarakat dapat membantu memperkuat ketahanan sistem kelistrikan sekaligus mengurangi kebutuhan investasi jaringan apabila dikelola secara terintegrasi. Karena itu, Eko mendorong pemerintah dan operator listrik nasional membangun pola kerja sama yang saling menguntungkan, bukan sekadar mempertahankan dominasi sistem yang telah berjalan selama puluhan tahun. Menurut dia, semakin besarnya partisipasi masyarakat dalam memproduksi listrik seharusnya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional, bukan ancaman bagi PLN. “Ketika partisipasi publik ini menguat, maka keuntungan ada di kedua belah pihak. Saya selalu mengatakan mutual benefit. Ingat loh, mutual benefit. Bukan benefit pada orang customer saja. Ini sebenarnya mutual benefit buat PLN juga. Nah, dengan semangat mencari mutual benefit ini, ini harus jadi kata kunci sehingga kita bisa saling bekerja sama,” kata Eko. ### **Benarkah Biaya PLTS Makin Kompetitif?** Prospek pemanfaatan PLTS yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi atau baterai dinilai semakin kuat dari sisi keekonomian. Sejumlah lembaga riset internasional mencatat biaya teknologi baterai terus menurun, sementara listrik dari energi surya kian kompetitif dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil. Temuan tersebut sejalan dengan pandangan sejumlah pelaku industri energi yang menilai sistem kelistrikan rumah tangga berbasis PLTS dan baterai akan semakin menarik di tengah meningkatnya kebutuhan akan pasokan listrik yang lebih fleksibel dan efisien. Berdasarkan *Battery Price Survey 2024 *yang diterbitkan *BloombergNEF* (BNEF), harga rata-rata paket baterai *lithium-ion *global turun menjadi USD115 per *kilowatt-hour* (kWh) atau sekitar Rp2,05 juta per kWh. Angka tersebut merosot sekitar 20 persen dibandingkan 2023 dan menjadi penurunan tahunan terbesar sejak 2017. *BloombergNEF* menilai tren tersebut didorong oleh kapasitas produksi baterai yang kini melampaui pertumbuhan permintaan serta melemahnya harga bahan baku.   Penurunan biaya baterai itu diperkirakan akan terus meningkatkan daya saing sistem PLTS yang dipadukan dengan penyimpanan energi. Dengan biaya investasi yang semakin rendah, penggunaan listrik dari pembangkit surya tidak lagi hanya bergantung pada ketersediaan sinar matahari, tetapi juga dapat disimpan dan dimanfaatkan saat malam hari atau ketika kebutuhan listrik meningkat. * Dari sisi biaya pembangkitan, tren serupa juga terlihat pada teknologi energi terbarukan. Laporan Renewable Power Generation Costs in 2024* yang diterbitkan International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan biaya pembangkitan listrik dari energi surya skala utilitas terus menurun dan menjadi salah satu sumber listrik baru dengan biaya paling kompetitif dibandingkan pembangkit berbasis fosil di berbagai negara. Penurunan tersebut ditopang oleh semakin murahnya harga modul surya, inverter, serta teknologi penyimpanan energi.   IRENA juga mencatat sekitar 91 persen proyek pembangkit energi terbarukan yang mulai beroperasi pada 2024 menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan alternatif pembangkit berbahan bakar fosil. Secara rata-rata, listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tercatat 41 persen lebih murah dibandingkan pembangkit fosil dengan biaya terendah, sedangkan pembangkit listrik tenaga bayu atau angin darat memiliki biaya 53 persen lebih rendah. Masih dalam laporan yang sama, IRENA menyebut biaya sistem penyimpanan energi berbasis baterai skala utilitas telah turun sekitar 93 persen sejak 2010, menjadi sekitar USD192 per kWh atau setara Rp3,42 juta per kWh pada 2024. Penurunan tersebut didorong oleh peningkatan skala manufaktur global, kemajuan teknologi, serta efisiensi rantai pasok industri baterai. Sementara itu, *BloombergNEF* dalam riset terpisah menyebut biaya proyek penyimpanan energi berbasis baterai terus mencetak rekor terendah. Pada 2025, biaya acuan global untuk proyek baterai berdurasi empat jam turun 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi USD78 per *megawatt-hour *(MWh) atau sekitar Rp1,39 juta per MWh. Menurut BloombergNEF, penurunan harga paket baterai, meningkatnya persaingan produsen, serta penyempurnaan desain sistem menjadi faktor utama yang mempercepat penurunan biaya tersebut. Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga baterai tidak hanya berdampak pada industri kendaraan listrik, tetapi juga mulai mengubah keekonomian sistem kelistrikan rumah tangga dan pembangkit energi terbarukan. Kombinasi PLTS dan baterai kini semakin dipandang sebagai salah satu opsi yang kompetitif untuk memenuhi kebutuhan listrik sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem energi.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan