# AS-Iran Panas Lagi, Harga Minyak Naik Lima Persen dalam Sepekan > Harga minyak dunia melemah di akhir pekan, namun Brent dan WTI tetap mencatat kenaikan mingguan akibat konflik AS-Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Harga minyak Brent dan WTI melemah pada perdagangan terakhir pekan ini, namun tetap membukukan kenaikan mingguan setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-11 07:54:00 - Author: Yunila Wati - Editor: Yunila Wati - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/as-iran-panas-lagi-harga-minyak-naik-lima-persen-dalam-sepekan - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/as-iran-panas-lagi-harga-minyak-naik-lima-persen-dalam-sepekan.md ## Article **KABARBURSA.COM** - Harga minyak dunia memang ditutup melemah pada perdagangan Jumat, tetapi koreksi tersebut belum mampu menghapus penguatan yang telah terbentuk sepanjang pekan.  Pasar minyak masih mencatat kenaikan mingguan setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global, terutama dari kawasan Teluk. Minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional turun 68 sen atau sekitar 0,9 persen ke level USD75,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan Amerika Serikat juga melemah 64 sen atau sekitar 0,9 persen menjadi USD71,44 per barel. Meski berakhir di zona merah pada perdagangan terakhir pekan ini, pergerakan harga secara mingguan masih menunjukkan tren positif. Brent diperkirakan membukukan kenaikan sekitar 5 persen selama sepekan, sedangkan WTI naik sekitar 4 persen.  Pasar rupanya masih memberikan premi risiko yang tinggi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Fokus utama pelaku pasar saat ini masih tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis dan menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.  Sebelum konflik kembali memanas pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia diangkut setiap hari melalui jalur tersebut. Kini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan. Data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas tanker pada Kamis waktu setempat, 9 Juli 2026, hampir berhenti sepenuhnya setelah meningkatnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.  Kondisi ini membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan sambil menunggu perkembangan situasi. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran terjadi setelah Iran menyerang sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar yang sedang melintasi perairan dekat Oman. Insiden tersebut memicu rangkaian eskalasi baru dan meningkatkan kewaspadaan para pemilik kapal terhadap risiko keamanan di kawasan. ## **AS-Iran Kembali Lancarkan Serangan?** Di saat yang sama, konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga kembali meningkat. Pasukan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk setelah sebelumnya Amerika Serikat melakukan serangan ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.  Perkembangan tersebut memperburuk kondisi gencatan senjata yang sebelumnya sudah berada dalam situasi rapuh. Media di Iran juga melaporkan adanya ledakan di sejumlah wilayah bagian selatan negara tersebut, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi salah satu fasilitas nuklir Iran. Rangkaian peristiwa tersebut semakin memperbesar perhatian pasar terhadap risiko geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) ikut memberikan peringatan bahwa eskalasi terbaru konflik Amerika Serikat dan Iran dapat mengubah proyeksi sebelumnya mengenai surplus pasokan minyak dunia pada tahun depan.  Sebelumnya, IEA memperkirakan pasar minyak akan mengalami kelebihan pasokan, namun meningkatnya risiko gangguan distribusi membuat proyeksi tersebut kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, harga minyak tidak terus bergerak naik sepanjang perdagangan. Setelah sempat mencapai level tertinggi pada pertengahan pekan, harga mulai mengalami koreksi karena belum muncul eskalasi baru dalam semalam.  Tidak adanya serangan tambahan dari Amerika Serikat terhadap Iran menjadi salah satu faktor yang meredakan sebagian kekhawatiran investor. Namun, ruang penurunan harga tetap terbatas karena persoalan utama belum terselesaikan. Aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih belum kembali normal sehingga risiko terhadap pasokan global tetap membayangi pasar.  Selama jalur pelayaran tersebut belum kembali beroperasi sepenuhnya, pelaku pasar masih mempertahankan premi risiko dalam pembentukan harga minyak. Perkembangan lain yang turut menjadi perhatian datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada pertengahan pekan, Trump mengatakan dirinya tidak memperkirakan perang akan kembali berlangsung dan menyebut bahwa apa pun yang terjadi akan berakhir dengan cepat.  Pernyataan tersebut sempat memberikan sedikit ketenangan bagi pasar, meski belum cukup menghilangkan kekhawatiran terhadap situasi di lapangan. Pasar juga menilai positif keputusan pemerintah Amerika Serikat yang hingga kini belum menjadikan infrastruktur energi Iran sebagai sasaran serangan. Langkah tersebut dinilai membantu mengurangi risiko terganggunya produksi minyak secara langsung, meskipun operasi militer terhadap sejumlah fasilitas militer Iran masih berlangsung. Dengan kondisi tersebut, pasar minyak saat ini bergerak di antara dua sentimen utama. Di satu sisi, belum adanya gangguan langsung terhadap fasilitas produksi minyak memberikan ruang bagi harga untuk terkoreksi dari level tertinggi pekan ini.  Di sisi lain, aktivitas pelayaran yang masih terganggu di Selat Hormuz membuat kekhawatiran terhadap distribusi minyak global tetap bertahan sehingga harga masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan pekan sebelumnya. Perdagangan pekan depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pelaku pasar juga akan terus memantau kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai indikator utama untuk mengukur kelancaran distribusi minyak dunia.  Selama risiko terhadap jalur pelayaran strategis tersebut belum mereda, pasar diperkirakan masih akan mempertahankan perhatian besar terhadap setiap perkembangan yang muncul dari kawasan Teluk.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan