# Blokade AS Bikin Harga Minyak Panas, Pasokan Mulai Tidak Aman? > Harga minyak dunia naik ke level tertinggi sebulan dipicu konflik AS-Iran, ancaman pasokan Selat Hormuz, dan ekspektasi penurunan stok minyak AS. Harga minyak Brent dan WTI mencapai level tertinggi dalam sebulan setelah konflik AS-Iran kembali memanas dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-15 07:28:00 - Author: Yunila Wati - Editor: Yunila Wati - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/blokade-as-bikin-harga-minyak-panas-pasokan-mulai-tidak-aman - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/blokade-as-bikin-harga-minyak-panas-pasokan-mulai-tidak-aman.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Harga minyak dunia kembali melambung, bahkan mencapai harga tertinggi sepanjang bulan. Kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, mendorong hatga minyak melonjak 2 persen. Pasar merespons situasi di Timur Tengah sebagai gangguan yang bisa saja merontokkan pasokan minyak. Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional ditutup naik USD1,43 atau 1,7 persen menjadi USD84,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD1,20 atau 1,5 persen ke level USD79,34 per barel.  Kedua kontrak tersebut mencatat penutupan tertinggi sejak pertengahan Juni, sekaligus memperpanjang reli yang telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Secara teknikal, penguatan tersebut juga membawa Brent kembali memasuki wilayah *overbought* selama dua hari beruntun. Kondisi ini terakhir kali terjadi pada Maret dan mencerminkan kuatnya dorongan beli yang muncul di tengah meningkatnya risiko geopolitik. ## **Blokade AS Kurangi Distribusi Minyak Dunia** Akar penguatan harga minyak berasal dari perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran, langkah yang dinilai meningkatkan potensi terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk. Sebelum konflik kembali memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Posisi strategis tersebut membuat setiap ancaman terhadap jalur pelayaran ini hampir selalu memicu reaksi cepat di pasar energi karena berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan global. Situasi berkembang dengan cepat sepanjang perdagangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengumumkan rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan menghadapi Iran.  Namun, hanya beberapa jam sebelum kebijakan itu diberlakukan, pemerintah Amerika mengubah pendekatan dengan membatalkan pungutan tersebut dan menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal selain kapal berbendera Iran. Perubahan kebijakan tersebut sempat membuat harga minyak WTI bergerak melemah pada awal perdagangan karena pasar melihat risiko gangguan distribusi sedikit berkurang. Akan tetapi, sentimen tersebut tidak bertahan lama. ## **Rudal Iran Hantam Tanker Uni Emirat Arab** Harga minyak kembali berbalik menguat setelah muncul laporan bahwa rudal jelajah Iran menghantam dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan seorang awak kapal asal India dan menyebabkan delapan awak lainnya mengalami luka-luka.  Insiden tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa aktivitas pelayaran di kawasan Teluk masih menghadapi risiko tinggi meskipun terdapat berbagai upaya diplomatik dalam beberapa pekan terakhir. Perkembangan tersebut juga menimbulkan keraguan terhadap efektivitas nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan konflik. Harapan bahwa kesepakatan tersebut mampu menciptakan stabilitas jangka panjang mulai memudar setelah kembali terjadi serangkaian aksi militer dalam beberapa hari terakhir. ## **Konflik Ukraina Vs Rusia Belum Usai** Tidak hanya Timur Tengah, pasar energi juga menghadapi tekanan dari kawasan Eropa Timur. Ukraina mengklaim berhasil menyerang dua kilang minyak Rusia yang berada di Bashkortostan dan Krasnodar. Serangan terhadap fasilitas energi tersebut dilaporkan memaksa Rusia mengurangi ekspor minyak solar atau diesel ke pasar internasional. Dampaknya terlihat jelas pada pasar produk olahan. Kontrak berjangka diesel Amerika Serikat melonjak sekitar 21 persen sepanjang Juli, jauh melampaui kenaikan minyak mentah WTI yang berada di kisaran 14 persen pada periode yang sama.  Lonjakan harga diesel tersebut ikut mendorong margin keuntungan kilang minyak ke level tertinggi berdasarkan data LSEG, menunjukkan bahwa gangguan terhadap pasokan produk olahan kini menjadi perhatian tambahan bagi pelaku pasar. Di luar faktor geopolitik, pasar juga tetap memantau perkembangan ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi mempengaruhi prospek permintaan energi global. Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen Amerika melambat lebih besar dari perkiraan selama Juni seiring turunnya harga energi.  Perlambatan inflasi tersebut sempat meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli. Namun, pelaku pasar belum sepenuhnya menghapus kemungkinan adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.  Chairman Federal Reserve Kevin Warsh, dalam kesaksiannya di hadapan Kongres kembali menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjalankan mandat menjaga stabilitas harga meskipun mendapat tekanan politik agar segera menurunkan suku bunga. Perkembangan tersebut menghadirkan dua sentimen yang bergerak berlawanan bagi pasar minyak. Di satu sisi, perlambatan inflasi dapat mendukung aktivitas ekonomi dan konsumsi energi apabila kebijakan moneter menjadi lebih longgar.  Di sisi lain, konflik geopolitik justru mendorong kenaikan harga minyak yang berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi global. ## **Perkiraan Persediaan Minyak Mentah AS Berkurang** Karena itu, perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, tetapi juga pada data fundamental pasar minyak Amerika Serikat.  Laporan persediaan minyak dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA) menjadi indikator penting untuk mengukur keseimbangan pasokan dan permintaan di negara konsumen minyak terbesar dunia. Analis memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika berkurang sekitar 2,7 juta barel selama pekan yang berakhir 10 Juli. Jika proyeksi tersebut terealisasi, maka penurunan stok akan terjadi untuk ke-13 kalinya dalam 14 pekan terakhir.  Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu stok minyak mentah Amerika turun 3,9 juta barel, sementara rata-rata penurunan lima tahun terakhir berada di kisaran 1,5 juta barel. Rangkaian faktor tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh dinamika permintaan, tetapi juga oleh meningkatnya risiko terhadap pasokan global. Selama ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan produsen energi lainnya belum mereda, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergerak sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik maupun data fundamental yang mencerminkan kondisi pasokan dunia.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan