# Dolar AS Keok, Yen Melesat Kalahkan Euro dan Poundsterling > Dolar AS melemah terhadap yen dan rupiah. Simak penyebab penguatan yen Jepang, rupiah, serta sentimen global yang memengaruhi pasar mata uang. Yen mencatat penguatan setelah Jepang mendorong dana pensiun meningkatkan investasi domestik, sementara rupiah menguat berkat prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif di tengah tekanan geopolitik global. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-11 08:30:00 - Author: Yunila Wati - Editor: Yunila Wati - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/dolar-as-keok-yen-melesat-kalahkan-euro-dan-poundsterling - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/dolar-as-keok-yen-melesat-kalahkan-euro-dan-poundsterling.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Dolar Amerika Serikat akhirnya kehilangan momentum pada perdagangan Jumat waktu setempat, 10 Juli 2026. Mata uang Negeri Paman Sam itu melemah terhadap Yen Jepang. Rupiah juga sedikit menguat meskipun perkembangan geopolitik di Timur Tengah, masih suram. Yen menjadi salah satu mata uang dengan penguatan paling menonjol pada perdagangan hari itu. Mata uang Jepang tersebut terapresiasi sekitar 0,38 persen terhadap dolar Amerika Serikat sehingga kurs bergerak ke level 161,77 yen per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh 161,27 yen.  Meski demikian, secara mingguan dolar masih menguat sekitar 3 persen terhadap yen. Penguatan yen dipicu oleh pernyataan pemerintah Jepang yang berencana mendorong Dana Investasi Pensiun Pemerintah atau Government Pension Investment Fund (GPIF). Ini adalah dana pensiun terbesar di dunia, yang tujuannya untuk meningkatkan investasi pada aset-aset keuangan domestik. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah agar GPIF mengalokasikan investasi yang lebih besar ke instrumen keuangan di dalam negeri. Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian pasar karena perubahan strategi investasi dana pensiun berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset berdenominasi yen. Meski yen menguat, pelaku pasar masih menilai langkah pemerintah Jepang tersebut baru sebatas rencana kebijakan. Karena itu, investor masih menunggu kepastian mengenai bentuk implementasi yang akan dilakukan sebelum melakukan penyesuaian portofolio dalam skala lebih besar. Tidak hanya Dolar AS, Euro dan poundsterling masing-masing melemah sekitar 0,4 persen terhadap yen. Sebelumnya, mata uang Jepang sempat bertahan di dekat level terendah dalam empat dekade sehingga pasar terus mencermati kemungkinan adanya langkah lanjutan dari otoritas Jepang untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Sementara itu, indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama dunia bergerak relatif stabil di kisaran 100,92. Pergerakan yang cenderung terbatas tersebut menunjukkan investor mulai menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat sebelum menentukan arah transaksi berikutnya. Euro sendiri diperdagangkan di kisaran USD1,142, sedangkan poundsterling berada di sekitar USD1,3407 setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni. Selain dipengaruhi faktor domestik Jepang, pasar valuta asing juga masih dibayangi perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan yang kembali meningkat membuat investor terus memantau dampaknya terhadap harga energi dunia.  Konflik tersebut telah mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas global. Walaupun harga minyak sempat melemah pada perdagangan Jumat, secara mingguan minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate masih mencatat kenaikan karena kekhawatiran terhadap pasokan energi belum sepenuhnya mereda. Kenaikan harga energi kemudian memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September mencapai sekitar 63 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Ekspektasi tersebut muncul setelah sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa inflasi masih berada di atas target dan tetap menjadi perhatian utama dalam penentuan kebijakan moneter. Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Jumlah klaim tunjangan pengangguran kembali menurun, mencerminkan bahwa aktivitas perekrutan berjalan lebih lambat tetapi tingkat pemutusan hubungan kerja juga tetap rendah.  Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipertimbangkan Federal Reserve dalam mengevaluasi arah suku bunga. ## **Rupiah Naik 63 Poin, Karena Apa?** Di tengah dinamika global tersebut, rupiah justru mampu mengakhiri perdagangan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS dari posisi sehari sebelumnya di Rp18.128 per dolar AS. Penguatan rupiah didukung sentimen positif dari dalam negeri setelah International Monetary Fund (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026. Lembaga tersebut juga memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,1 persen pada 2027. Proyeksi IMF tersebut menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan kawasan Emerging and Developing Asia yang diperkirakan berada di kisaran 4,8 persen pada 2026. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen untuk 2026 dan 2027. Dari sisi domestik, data penjualan mobil nasional turut memberikan gambaran mengenai aktivitas konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales kendaraan mencapai 77.550 unit pada Juni 2026 atau meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut. Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang semester pertama 2026 mencapai 436.564 unit atau naik 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, perhatian pelaku pasar masih banyak tertuju pada perkembangan eksternal. Konflik Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda sepenuhnya. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi faktor yang memengaruhi harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan global memasuki pekan depan dengan fokus pada dua faktor utama. Dari Amerika Serikat, investor menantikan data inflasi terbaru yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.  Sementara, dari sisi geopolitik, perkembangan situasi di Timur Tengah masih akan menjadi penentu utama pergerakan harga energi, pasar obligasi, mata uang, hingga aset-aset berisiko di pasar global.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan