Logo
>

Efek Instan BI Rate 5,50 Persen, Rupiah Naik Level

Rupiah menutup perdagangan di kisaran Rp18.050-Rp18.100 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp18.234, didorong kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen dan membaiknya sentimen global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Efek Instan BI Rate 5,50 Persen, Rupiah Naik Level
Mata uang Garuda berhasil menutup perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, di kisaran Rp18.050-Rp18.100 per dolar AS. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Rupiah akhirnya mampu keluar dari tekanan yang membayangi perdagangan beberapa dalam beberapa hari terakhir. Setelah sempat terperosok hingga menyentuh level Rp18.234 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda berhasil memangkas pelemahan dan menutup perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, di kisaran Rp18.050-Rp18.100 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menjadi salah satu pembalikan arah paling dramatis dalam beberapa pekan terakhir. Di awal perdagangan, pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap keluarnya arus modal asing dan meningkatnya risiko global yang membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia sepanjang tahun ini.

Namun, situasi berubah setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang tidak banyak diperkirakan pelaku pasar.

Bank sentral secara mengejutkan menggelar rapat di luar jadwal dan memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut melengkapi kenaikan 50 basis poin pada rapat reguler Mei 2026, sekaligus mempertegas komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah gejolak pasar global.

Respons pasar berlangsung sangat cepat.

Sesaat setelah pengumuman, rupiah langsung menguat tajam hingga menyentuh Rp18.020 per dolar AS. Meski penguatan tersebut tidak bertahan lama, mata uang Indonesia tetap mampu mempertahankan sebagian besar kenaikannya dan bergerak stabil di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS hingga penutupan perdagangan.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang lebih agresif berhasil memberikan sentimen positif bagi pasar, meskipun tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang.

Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilisasi rupiah menjadi prioritas utama karena mata uang Indonesia masih menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di kawasan Asia sepanjang 2026.

Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun berjalan, rupiah telah melemah sekitar 8 persen terhadap dolar AS. Bahkan, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Mei lalu serta penggunaan cadangan devisa sekitar USD12 miliar untuk intervensi pasar belum mampu menghentikan tren pelemahan tersebut.

Kondisi itu membuat BI memilih langkah yang lebih tegas melalui kenaikan suku bunga di luar jadwal.

Menurut Kepala Riset Asia ANZ di Singapura Khoon Goh, keputusan tersebut menunjukkan bahwa Bank Indonesia tidak dapat terus mengandalkan intervensi pasar dalam skala besar karena cadangan devisa terus mengalami penurunan.

Langkah menaikkan suku bunga dinilai menjadi instrumen yang lebih efektif untuk mempertahankan daya tarik aset berbasis rupiah sekaligus meredam tekanan terhadap nilai tukar.

Sentimen positif tidak hanya datang dari dalam negeri.

Di pasar global, indeks dolar AS mulai melemah dari posisi tertinggi dalam sembilan pekan terakhir setelah muncul kabar bahwa Iran dan Israel mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan. Meredanya ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko dan mendorong penguatan mata uang emerging market di Asia.

Bursa saham kawasan yang sebelumnya mengalami tekanan juga bergerak menghijau menjelang penutupan perdagangan, mengikuti membaiknya sentimen global.

Meski demikian, penguatan rupiah hari ini belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun justru melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, mencerminkan bahwa pelaku pasar masih meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia.

Tekanan tersebut berasal dari kombinasi sentimen domestik dan eksternal, mulai dari aksi jual besar-besaran pada aset Indonesia, kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi nasional, hingga ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan.

Sejumlah analis juga menilai bahwa stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter.

Pemulihan kepercayaan investor membutuhkan langkah yang lebih komprehensif berupa kepastian arah kebijakan ekonomi, disiplin fiskal yang konsisten, serta penguatan tata kelola dan iklim investasi.

Dengan kata lain, kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen memang berhasil memberikan ruang napas bagi rupiah pada perdagangan hari ini. 

Namun, keberlanjutan penguatan mata uang Garuda akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga koordinasi kebijakan serta memulihkan kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi global yang masih berubah dengan cepat.

Untuk sementara, rupiah berhasil keluar dari tekanan terberatnya. Namun perjalanan menuju level yang lebih stabil masih akan menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam beberapa pekan mendatang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79