# ESDM Kebut Uji Coba Tabung CNG, Targetkan Rampung Juli > Kementerian ESDM uji coba CNG 3 kg bahan serat komposit pengganti LPG. Harga lebih murah 40 persen dan hemat subsidi APBN Rp30 triliun. Cek infonya di sini. Targetkan rampung Juli ini, pengujian fase ketiga fokus mematangkan aspek keselamatan tekanan tabung serat komposit tipe 4 demi memangkas subsidi energi hingga Rp30 triliun. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-09 14:00:00 - Author: Gusti Ridani - Editor: Syahrianto - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/esdm-kebut-uji-coba-tabung-cng-targetkan-rampung-juli - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/esdm-kebut-uji-coba-tabung-cng-targetkan-rampung-juli.md ## Article KABARBURSA.COM – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral atau ESDM menargetkan seluruh rangkaian uji coba tahap ketiga terhadap pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG rampung dalam waktu dekat ini. ESDM menyebut, Pemerintah saat ini fokus menguji tingkat ketahanan dan keamanan tekanan pada tabung gas guna memastikan komoditas baru tersebut siap didistribusikan secara aman kepada masyarakat luas. Langkah akselerasi teknologi ini menjadi strategi taktis pemerintah untuk menghentikan ketergantungan impor gas sekaligus meredam laju pembengkakan anggaran subsidi energi. Jika pengujian fase akhir ini berjalan mulus, implementasi komersial bahan bakar ramah lingkungan tersebut bersiap diumumkan secara resmi pada Agustus mendatang. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa faktor keselamatan menjadi parameter paling krusial dalam pengujian kelayakan tabung gas seukuran 3 kilogram ini sebelum dilepas ke pasar domestik. "Itu masih dalam uji coba. Saya katakan beberapa kali bahwa menyangkut dengan CNG itu dilakukan uji coba tahap ketiga. Kalau uji coba tahap ketiganya insyaallah berhasil, baru bisa kita implementasikan. Karena apa? Karena tabung tiga kilonya itu kan tekanannya itu kan. Nah, kalau sudah coba selesai insyaallah di bulan Juli ini selesai baru kemudian kita umumkan ya," kata Bahlil Lahadalia dalam keterangannya kepada media, dikutip Kamis, 9 Juli 2026. Bahlil menyebut, pihaknya memberikan perhatian penuh pada aspek teknis tekanan volume gas mengingat karakteristik CNG sangat berbeda dengan liquid petroleum gas atau LPG konvensional. Penyelarasan material tabung berlapis pengaman tinggi kini sedang dimatangkan oleh tim teknis guna menghindari risiko kebocoran di tingkat konsumen rumah tangga maupun usaha mikro. Bahlil optimistis bahwa penuntasan uji coba fase ketiga ini akan menjadi landasan hukum yang kuat bagi regulator untuk menyusun skema distribusi dan peta jalan konversi energi nasional secara bertahap. "Ya kita doakanlah lebih cepat," ujar Bahlil menanggapi estimasi waktu pengumuman resmi hasil kelayakan proyek konversi tersebut kepada publik. Di samping keunggulan dari aspek keselamatan teknis, implementasi meluas dari gas alam terkompresi ini membawa angin segar bagi ketahanan fiskal negara. Berdasarkan kalkulasi internal kementerian, harga jual komoditas CNG di tingkat hilir diproyeksikan jauh lebih kompetitif, yakni berkisar 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan dengan tarif LPG yang beredar saat ini. Penurunan struktur biaya produksi gas secara signifikan ini otomatis akan memotong beban alokasi subsidi energi tahunan pemerintah yang selama ini menguras kas APBN hingga menembus angka Rp90 triliun. "Yang jelas harganya lebih murah 30 sampai 40 persen daripada LPG. Kalau 30 sampai 40 persen, sekarang subsidi kita berapa, 86 triliun sampai 90 kali rata-rata lah. Kalau katakan 30 persen, berarti kan 27 triliun sampai 30 triliun bisa kita lakukan efisiensi," urai Bahlil mengenai potensi penghematan belanja subsidi negara. Pemerintah berencana mengalokasikan ruang perbaikan fiskal sebesar puluhan triliun rupiah hasil dari penghematan subsidi tersebut ke dalam program pembangunan nasional yang bersifat jauh lebih produktif. Kementerian ESDM memastikan bahwa masa depan ketahanan energi nasional akan sangat bergantung pada keberhasilan diversifikasi gas bumi domestik, sehingga devisa negara tidak lagi habis tersedot untuk membiayai komoditas impor. "Ini kan bisa kita bangun untuk yang lain-lain lagi, tapi semuanya ini dalam proses tahapan uji coba yang ketiga ya," pungkas Bahlil Lahadalia. Sebelumnya, Kementerian ESDM menegaskan bahwa tabung Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram (kg) di masa depan tidak akan menggunakan material logam konvensional, melainkan langsung mengadopsi teknologi tabung paling mutakhir (advance) berbahan serat komposit penuh atau full fiber. Langkah ini menjadi pembeda mendasar dengan tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg atau 'gas melon' yang jamak beredar di dapur masyarakat saat ini, yang seluruhnya masih mengandalkan material logam penuh. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pilihan menggunakan teknologi full fiber ini merupakan jawaban atas tingginya tekanan kompresi gas pada CNG. Logika sederhananya, CNG memerlukan wadah yang jauh lebih kuat karena karakteristik volumenya yang dipadatkan secara ekstrem. "Maka kita berpikir gimana nih cara mengantarkan gas ini ke konsumen? Salah satu caranya, gas tersebut kita manfaatkan dikompres. Nah, kalau secara sederhananya itu dari jeruk kita kompres jadi kelereng. Jadi jeruk-jeruk yang besar-besar tadi dikecil-kecilin biar bisa diantarkan melalui tabung. Tapi memang tekanannya tinggi ya karena kan ditekan," kata Laode dalam sesi podcast Kementerian ESDM. Tak main-main, Laode membeberkan bahwa tekanan di dalam tabung CNG berkisar antara 200 hingga 250 bar. Angka ini melonjak sangat jauh jika dibandingkan dengan tekanan tabung LPG biasa yang hanya berkisar di level 8 hingga 10 bar. "Tekanan tinggi ini artinya dia bisa mendorong keluar begitu ya. Kalau wadahnya kurang kuat, dia keluar lagi. Yang kita pakai sekarang memang tekanannya sudah segitu, sudah 250 bar di dalam tabungnya," tambahnya. Guna meredam kekhawatiran publik mengenai aspek keselamatan pada gas bertekanan tinggi tersebut, pemerintah menyiapkan infrastruktur wadah CNG dari klaster teknologi tertinggi, yaitu Tipe 4. Laode memaparkan, secara umum ada empat klasifikasi teknologi tabung yang berkembang di dunia industri saat ini. Tipe 1 merupakan tabung konvensional yang komposisinya 100 persen terbuat dari logam bumi. Beranjak ke Tipe 2 dan Tipe 3, materialnya mulai menggunakan campuran atau dilapisi oleh pelindung berbahan serat (fiber) sehingga bobotnya menjadi lebih ringan namun jauh lebih kuat. "Nah, Tipe 4 sudah sama sekali fiber, sangat ringan dan sangat kuat, tetapi sangat mahal. Jadi makin ke tipe nambah itu dia makin mahal, makin advance teknologinya," urai Laode. Perbedaan kelas teknologi inilah yang membuat tabung CNG masa depan bernasib sangat kontras dengan tabung gas melon saat ini.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan