# Geser Nikel, Bauksit Kuasai Investasi Hilirisasi Kuartal II-2026 > Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya menyalip nikel sebagai kontributor terbesar pada Kuartal II-2026. Pergeseran ini didorong pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan bauksit oleh investor domestik maupun asing. Total investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun pada triwulan II atau sekitar 29,8 persen dari investasi nasional. Pemerintah menargetkan pengembangan ekosistem industri bauksit seperti yang telah dibangun pada sektor nikel untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri nasional. Investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar pada Kuartal II-2026, menyalip nikel seiring percepatan pembangunan smelter dan industri aluminium. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-16 17:00:00 - Author: Gusti Ridani - Editor: Citra Dara Vresti Trisna - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/geser-nikel-bauksit-kuasai-investasi-hilirisasi-kuartal-ii-2026 - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/geser-nikel-bauksit-kuasai-investasi-hilirisasi-kuartal-ii-2026.md ## Article **KABARBURSA.COM**** **– Peta hilirisasi komoditas mineral di Indonesia mulai mengalami pergeseran struktural yang signifikan. Komoditas bauksit diklaim mampu menyalip nikel untuk menduduki posisi nomor satu dalam kontribusi realisasi investasi hilirisasi nasional pada Kuartal II-2026.  Lompatan ini dipicu oleh masifnya eksekusi pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) bauksit yang digarap oleh pelaku usaha dalam negeri maupun asing pada periode April–Juni tahun ini.  Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengonfirmasi bahwa posisi nikel yang bertahun-tahun merajai investasi industri hilir kini mulai tergeser oleh geliat proyek bauksit.  “Biasanya kita tahu selalu nikel yang di nomor satu. Nah, ini ada *shifting* (pergeseran), bauksit nomor satu. Ada* shifting* bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel," kata Rosan saat memaparkan realisasi investasi dalam keterangan persnya, pada Kamis, 16 Juli 2026. Berdasarkan data yang dilansir dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi, total realisasi investasi khusus di bidang hilirisasi pada Kuartal II-2026 mencatatkan angka Rp152,7 triliun, atau tumbuh sebesar 5,7 persen dibandingkan tahun lalu. Angka ini menyumbang porsi krusial, yakni mencapai 29,8 persen dari total realisasi investasi nasional pada triwulan kedua.  Secara akumulatif sepanjang Semester I-2026 (Januari-Juni), total investasi sektor hilirisasi telah menembus Rp206,5 triliun untuk sektor mineral. Sektor pendukung hilirisasi lainnya diikuti oleh industri perkebunan dan kehutanan senilai Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi (migas) sebesar Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan mencapai Rp3,8 triliun. ### **Mengapa Investasi Hilirisasi Bauksit Mampu Menyalip Nikel?** Sebelumnya diberitakan, peningkatan investasi di sektor bauksit menunjukkan pemerintah mulai memperluas fokus hilirisasi ke rantai industri aluminium. Pengembangan tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya mengekspor bijih bauksit, tetapi juga menghasilkan alumina dan aluminium yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan ke dalam maupun luar negeri. Namun, percepatan pembangunan fasilitas pengolahan juga mulai memunculkan perhatian dari sejumlah lembaga riset. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), misalnya, menilai pengembangan industri aluminium perlu diimbangi dengan perencanaan pasokan bahan baku yang matang agar kapasitas pengolahan tidak tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan sektor pertambangan memasok bijih bauksit.  Dalam laporannya, CREA memperkirakan kapasitas produksi alumina Indonesia dapat meningkat dari sekitar 7 juta ton pada 2025 menjadi 32,5 juta ton pada 2030. Sejalan dengan itu, kebutuhan bijih bauksit diproyeksikan melonjak dari sekitar 14 juta ton menjadi sekitar 65 juta ton per tahun apabila seluruh proyek yang direncanakan terealisasi.  Lembaga tersebut mengingatkan bahwa percepatan hilirisasi perlu disertai pengembangan tambang baru, kepastian pasokan bahan baku, serta perencanaan energi yang memadai agar industri aluminium dapat berkembang secara berkelanjutan. Dengan demikian, peningkatan investasi tidak hanya memperbesar kapasitas produksi nasional, tetapi juga mampu menjaga keberlangsungan rantai pasok dalam jangka panjang.  Hilirisasi industri mineral ini juga menjadi pendorong utama pemerataan ekonomi nasional, karena sebanyak 75,7 persen atau setara Rp227,3 triliun investasi hilirisasi tersebut terdistribusi di luar Pulau Jawa, seperti Maluku Utara dan Sulawesi.  ### **Bagaimana Strategi Pemerintah Memperluas Hilirisasi Selain Nikel?** Rosan menegaskan, pemerintah tidak akan mengendurkan laju hilirisasi meski peta komoditasnya mulai bergeser. Fokus kementerian ke depan adalah memperdalam pohon industri komoditas non-nikel agar bisa memiliki ekosistem yang matang dari hulu ke hilir.  Saat ini, komoditas nikel dinilai telah berhasil membangun ekosistem yang utuh mulai dari bijih nikel, nikel sulfat, katoda, anoda, sel baterai, hingga battery pack untuk kendaraan listrik (EV). Keberhasilan tata ekosistem komprehensif inilah yang ingin diduplikasi pemerintah pada komoditas bernilai tinggi lainnya.  Pemerintah menilai, pengembangan ekosistem tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat daya saing industri nasional. Dengan rantai produksi yang semakin lengkap, Indonesia diharapkan mampu menarik investasi lanjutan, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Nikel memang sudah hampir the *whole ecosystem*, tentunya yang berhubungan dengan EV battery. Nah, itu juga yang ingin kita laksanakan untuk bauksit, turunan dari kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan yang lain-lainnya. Kita melihat dan memprioritaskan yang di mana memang ada dalam blueprint kita mengenai hilirisasi yang kita mempunyai competitive advantage," tutup Rosan.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan