Logo
>

Harga Minyak Dunia Diramal Melonjak pada Pekan Depan

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah WTI pekan depan berpotensi menyentuh level USD93,3 per barel

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Harga Minyak Dunia Diramal Melonjak pada Pekan Depan
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia diprediksi akan kembali melonjak pada pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah WTI pekan depan berpotensi menyentuh level USD93,3 per barel dan berpotensi menembus USD107,1 per barel.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan minyak mentah Brent akan menembus harga USD110 per barel dan bahkan bisa mencapai USD116 per barel.

Menurutnya, penguatan tersebut tidak lepas dari masih memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serika-Isarel dan Iran

"kenapa? karena Iran salah satu negara penghasil Brent crude oil ya untuk bahan bakar abtur," ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 22 Maret 2026.

Ibrahim menyampaikan lonjakan harga minyak, khususnya Brent, telah mendorong peningkatan biaya transportasi udara, yang pada akhirnya berpotensi memicu tekanan inflasi global.

Di sisi lain, serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah serta konflik yang juga melibatkan Rusia di sektor gas Ukraina turut memperkuat ekspetasi bahwa harga energi akan tetap tinggi dalam waktu lebih panjang.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat bank sentral global cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga yang tinggi guna meredam tekanan inflasi.

Minyak Dunia Bergejolak

Sebelumnya diberitakan, harga minyak dunia bergerak volatil dalam beberapa hari terakhir di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, dengan Brent bertahan di kisaran USD99,5-107 per barel dan WTI di level USD93,5–96 per barel.

Harga tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan global. Dalam beberapa sesi perdagangan, harga bahkan sempat melonjak hingga menembus USD110–115 per barel sebelum kembali terkoreksi.

Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi.

Pasar menyoroti ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen suplai minyak dunia. Risiko gangguan di titik ini dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga dalam waktu singkat.

“Kontrak berjangka minyak mentah naik seiring Selat Hormuz tetap ditutup,” kata analis pasar energi, dikutip dari Reuters, 20 Maret 2025.

Selain jalur distribusi, tekanan juga datang dari laporan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi minyak.

Kondisi ini membuat pergerakan harga menjadi sangat fluktuatif, dengan perubahan yang cepat mengikuti perkembangan situasi geopolitik.

Upaya untuk meredakan kekhawatiran pasar dinilai belum memberikan dampak signifikan.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar masih memperkirakan harga minyak bertahan di level tinggi dalam jangka pendek. “(Goldman Sachs) memperkirakan harga Brent akan berada di atas USD100 per barel pada Maret,” demikian proyeksi yang dikutip dari Reuters, 21 Maret 2026.

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan risiko gangguan pasokan dibandingkan permintaan. Perkembangan konflik di Timur Tengah serta keamanan jalur distribusi utama tetap menjadi penentu utama arah harga dalam waktu dekat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.