# INACO (JELI) Langsung ARA, Antrean Beli 269 Juta Saham Masih Menggunung > Saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) langsung menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Hingga pukul 10.50 WIB, saham bertahan di Rp1.125 atau naik 25 persen dari harga IPO Rp900 dengan antrean beli mencapai sekitar 269 juta saham. Saham JELI langsung ARA pada hari pertama perdagangan. Antrean beli mencapai 269 juta saham, ditopang dominasi pasar INACO. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-07 11:15:00 - Author: Desty Luthfiani - Editor: Moh. Alpin Pulungan - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/inaco-jeli-langsung-ara-antrean-beli-269-juta-saham-masih-menggunung - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/inaco-jeli-langsung-ara-antrean-beli-269-juta-saham-masih-menggunung.md ## Financial Entities - Stock Code: AKRA - Stock Name: AKR Corporindo Tbk. - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – Saham PT Niramas Utama Tbk atau JELI langsung menyentuh batas atas auto rejection (ARA) pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 7 Juli 2026. Hingga pukul 10.50 WIB, saham emiten pemilik merek INACO itu bertahan di level Rp1.125 per saham atau melonjak 25 persen dari harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp900 per saham. Pergerakan saham JELI menunjukkan minat beli yang masih kuat. Hingga waktu tersebut, harga pembukaan, tertinggi, dan terendah sama-sama berada di level Rp1.125, yang menandakan saham tetap terkunci di posisi ARA sejak awal perdagangan. Tekanan beli juga tercermin dari antrean pada sisi bid. Data perdagangan menunjukkan masih terdapat sekitar 2.698.378 lot atau setara hampir 269,84 juta saham yang mengantre pada harga Rp1.125. Sementara itu, pada sisi penawaran jual atau offer belum terlihat antrean di level harga tersebut sehingga transaksi masih didominasi permintaan beli. Sepanjang perdagangan hingga pukul 10.50 WIB, frekuensi transaksi telah mencapai sekitar 46.310 kali dengan volume perdagangan sekitar 3.580 lot dan nilai transaksi sekitar Rp402,19 miliar. Kenaikan harga tersebut turut mendongkrak kapitalisasi pasar Perseroan. Saat IPO, PT Niramas Utama Tbk memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp1,139 triliun berdasarkan harga penawaran Rp900 per saham. Setelah saham menyentuh Rp1.125 per saham, nilai kapitalisasi pasarnya meningkat menjadi sekitar Rp1,424 triliun. Dengan demikian, nilai pasar Perseroan bertambah sekitar Rp285 miliar hanya dalam beberapa jam setelah resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia. Antusiasme investor terhadap saham JELI sebenarnya sudah terlihat sejak masa penawaran umum perdana. Pada saat IPO, Perseroan menghimpun dana sebesar Rp239,4 miliar melalui pelepasan 266 juta saham baru atau sekitar 21,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Minat investor ritel terhadap penawaran saham tersebut juga terbilang tinggi. Penjatahan terpusat atau pooling allotment mengalami kelebihan permintaan (*oversubscription*) hingga 273,37 kali dengan jumlah pemesan mencapai 630.491 investor, menjadikannya salah satu IPO dengan partisipasi investor ritel terbesar di pasar modal Indonesia sepanjang 2026. ### **INACO Kuasai Hampir Separuh Pasar Jelly Nasional** Di balik tingginya antusiasme investor tersebut, PT Niramas Utama Tbk membawa bisnis yang telah lama dikenal melalui merek INACO. Perseroan merupakan salah satu pelaku utama di industri makanan penutup berbasis kelapa dan serat alami dengan portofolio produk yang mencakup nata de coco, jelly, pudding, gummy candy, jelly drink, hingga minuman kelapa. Berdasarkan prospektus IPO, posisi INACO di pasar domestik tergolong dominan. Perseroan menguasai sekitar 49,57 persen pangsa pasar produk jelly nasional. Dengan kata lain, hampir satu dari dua produk jelly yang beredar di Indonesia berasal dari merek INACO. Selain itu, pangsa pasar Perseroan pada kategori nata de coco mencapai 19,87 persen, sedangkan untuk produk pudding sekitar 16,01 persen. Untuk menopang penjualan, Perseroan mengoperasikan jaringan distribusi yang telah menjangkau 251 titik di berbagai wilayah Indonesia. Produk-produknya juga telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Jepang, China, India, Thailand, Australia, Kanada, Singapura, dan Amerika Serikat. Setelah menjadi perusahaan terbuka, strategi pertumbuhan INACO tidak hanya difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pengembangan portofolio produk. Perseroan menilai meningkatnya tren konsumsi makanan berbahan alami dan kaya serat menjadi salah satu peluang yang akan terus dikembangkan melalui produk seperti aloe vera, konnyaku, jelly drink, minuman kelapa, serta berbagai makanan penutup berbasis serat alami. Sejalan dengan strategi tersebut, sebagian besar dana hasil IPO akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, khususnya produk gummy jelly, guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Perseroan juga menargetkan perluasan pasar internasional ke kawasan Afrika dan Eropa sebagai pelengkap jaringan ekspor yang selama ini telah mencakup Asia Pasifik dan Amerika Utara. Dengan tambahan kapasitas produksi pasca-IPO, INACO berharap pertumbuhan penjualan dapat ditopang secara bersamaan oleh pasar dalam negeri maupun ekspansi ekspor. ### **Konsumsi Masyarakat Masih Jadi Penopang** Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu faktor yang menopang prospek industri makanan dan minuman, termasuk bagi emiten baru JELI. Meski survei terbaru menunjukkan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, tingkat keyakinan konsumen Indonesia masih berada pada zona optimistis. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 berada di level 120,9. Angka tersebut memang menurun dibandingkan April 2026 yang sebesar 123,0, tetapi masih berada jauh di atas level 100 yang mencerminkan konsumen tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi. Penurunan optimisme terlihat pada sejumlah komponen survei. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 112,2 dari 116,5 pada bulan sebelumnya. Persepsi masyarakat terhadap pembelian barang tahan lama juga menurun menjadi 108,3 dari 112,6. Sementara itu, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja turun menjadi 105,0 dari 108,8. Temuan tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi, namun mulai lebih selektif dalam melakukan pengeluaran. Bagi sektor makanan dan minuman, kondisi itu menjadi salah satu indikator yang tetap diperhatikan karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama permintaan domestik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan porsi lebih dari separuh total perekonomian nasional. Di dalam struktur pengeluaran rumah tangga, kelompok makanan dan minuman secara konsisten menjadi salah satu komponen belanja terbesar masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang yang mendukung ekspansi JELI setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Perseroan mengarahkan sebagian besar dana hasil penawaran umum perdana saham untuk meningkatkan kapasitas produksi, khususnya produk gummy jelly, guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Prospektus Perseroan juga menunjukkan INACO masih memiliki posisi yang kuat di pasar makanan penutup berbasis kelapa. Pada kategori jelly, pangsa pasar Perseroan mencapai sekitar 49,57 persen. Di segmen nata de coco, pangsa pasarnya sekitar 19,87 persen, sedangkan untuk produk pudding mencapai sekitar 16,01 persen. Selain mengandalkan pasar domestik, Perseroan telah membangun jaringan distribusi melalui 251 titik distribusi di Indonesia. Produk-produknya juga telah dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, China, India, Thailand, Australia, Kanada, Singapura, dan Amerika Serikat. Ke depan, perusahaan juga menargetkan perluasan ekspor ke kawasan Afrika dan Eropa sebagai bagian dari strategi pertumbuhan pasca-IPO.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan