# Investasi Terus Naik, KEK Mandalika Mulai Berburu SDM Kompeten > Investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terus meningkat hingga mencapai Rp6,06 triliun pada triwulan I 2026 dengan penyerapan 20.862 tenaga kerja. Pemerintah merespons pertumbuhan tersebut dengan memperkuat pelatihan vokasi dan program magang untuk memenuhi kebutuhan SDM, khususnya di sektor hospitality. Di sisi lain, data BPS menunjukkan pasar kerja NTB masih didominasi sektor informal. Artikel ini juga mengulas temuan riset Universitas Brawijaya yang menilai dampak KEK Mandalika terhadap pertumbuhan ekonomi daerah belum signifikan secara statistik sehingga penguatan kualitas SDM dinilai menjadi kunci agar manfaat investasi lebih luas dirasakan masyarakat. Investasi KEK Mandalika terus bertambah. Pemerintah mempercepat pelatihan vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor pariwisata. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-07 09:30:00 - Author: Moh. Alpin Pulungan - Editor: Moh. Alpin Pulungan - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/investasi-terus-naik-kek-mandalika-mulai-berburu-sdm-kompeten - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/investasi-terus-naik-kek-mandalika-mulai-berburu-sdm-kompeten.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Arus investasi di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Mandalika terus bertambah. Hingga triwulan I 2026, nilai investasi kumulatif di kawasan tersebut telah mencapai Rp6,06 triliun dengan penyerapan 20.862 tenaga kerja. Namun, laju investasi itu dinilai perlu diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam *Focus Group Discussion* (FGD) Identifikasi Kebutuhan Tenaga Kerja dan Pelatihan di KEK Mandalika yang digelar Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan di Lombok, Jumat, 3 Juli 2026, lalu. Forum itu mempertemukan pemerintah, pengelola kawasan, lembaga pelatihan vokasi, dan pelaku usaha untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja, kompetensi yang dibutuhkan industri, hingga penyusunan program pelatihan yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha di KEK Mandalika. Pemerintah menilai penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung investasi yang terus berkembang di kawasan tersebut. Langkah tersebut juga dikaitkan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen pada 2026 melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja dan penguatan keterkaitan antara pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri. Selain itu, penguatan pelatihan vokasi juga menjadi bagian dari Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp6,26 triliun untuk mendukung program pemagangan yang mulai dijalankan sejak Juli 2026. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan KEK memiliki posisi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, menurutnya, kawasan tersebut harus didukung oleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Bagi saya, Kawasan Ekonomi Khusus merupakan salah satu instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika kita berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, salah satu jawabannya adalah KEK, karena memang dibentuk pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Yassierli, dikutip dari keterangan tertulis Dewan Nasional KEK, Selasa, 7 Juli 2026. Ia juga menilai program magang dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesiapan tenaga kerja di tengah perlambatan ekonomi. “Ketika ekonomi sedang menghadapi berbagai tantangan, program magang menjadi salah satu solusi untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja dalam memasuki dunia kerja,” katanya. Menurut Yassierli, pelaksanaan Program Magang Nasional sebelumnya telah diikuti sekitar 100.000 peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen memperoleh tawaran bekerja dari perusahaan tempat mereka menjalani program magang. Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha, baik dalam bentuk vertical mismatch maupun horizontal mismatch. Kondisi itu, menurutnya, perlu dijawab melalui pelatihan yang berorientasi pada kesiapan kerja (*job-ready training*) dan dirancang sesuai kebutuhan riil industri. * Di sisi lain, pengelola KEK Mandalika juga mengaku kebutuhan tenaga kerja kompeten akan terus meningkat, terutama di sektor pariwisata dan hospitality, seiring bertambahnya investasi di kawasan tersebut. General Manager PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) I Made Pari Wijaya mengatakan perusahaan terus menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi bagi tenaga kerja, khususnya untuk memenuhi kebutuhan sektor jasa dan parhotelan. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Lombok Timur menyatakan siap menyelenggarakan pelatihan bagi sekitar 6.000 peserta. Khusus pelatihan di bidang hospitality, lembaga tersebut memiliki kapasitas hingga 17 kelas yang dapat berjalan secara bersamaan. Melalui forum tersebut, pelaku usaha juga akan dilibatkan dalam penyusunan kurikulum pelatihan, penyediaan instruktur dari industri, serta pemetaan kebutuhan tenaga kerja sebagai dasar penyusunan program pelatihan dan pemagangan. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan masih membuka pendaftaran bagi perusahaan maupun instansi yang ingin menjadi penyelenggara Program Magang Nasional Batch 1 Angkatan 2 hingga 15 Juli 2026. ### **Belum Berdampak Signifikan ke Ekonomi Daerah** Masuknya investasi ke KEK Mandalika juga masih menyisakan ruang pertumbuhan yang cukup besar. Berdasarkan data investasi resmi Dewan Nasional KEK, hingga triwulan I 2026 realisasi investasi kumulatif di kawasan tersebut mencapai Rp6,06 triliun dengan penyerapan 20.862 tenaga kerja. Angka itu meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencatat investasi kumulatif Rp5,83 triliun dan menyerap 19.362 pekerja. Artinya, hanya dalam tiga bulan pertama 2026, investasi bertambah sekitar Rp230 miliar disertai tambahan sekitar 1.500 tenaga kerja. Meski demikian, capaian tersebut masih jauh dari target jangka panjang KEK Mandalika yang dipatok sebesar Rp28,63 triliun dengan potensi penyerapan hingga 587.000 tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja terampil diperkirakan akan terus meningkat seiring masuknya investasi baru ke kawasan. Dorongan memperkuat pelatihan vokasi juga tidak lepas dari kondisi pasar tenaga kerja di Nusa Tenggara Barat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi NTB pada Februari 2025 masih berada di level 3,22 persen, sedangkan Kabupaten Lombok Tengah, lokasi KEK Mandalika, mencatat TPT sebesar 3,36 persen. Di sisi lain, BPS juga mencatat pekerja sektor formal di NTB baru mencapai sekitar 870,88 ribu orang atau sekitar 28,20 persen dari total penduduk bekerja. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja di NTB masih bekerja di sektor informal sehingga peningkatan keterampilan melalui pelatihan vokasi dinilai menjadi salah satu tantangan untuk memenuhi kebutuhan industri yang mulai berkembang di kawasan ekonomi khusus. Fokus pelatihan di bidang hospitality juga sejalan dengan arah pengembangan KEK Mandalika. Berdasarkan profil resmi kawasan, Mandalika memang dirancang sebagai kawasan ekonomi khusus berbasis pariwisata dengan prioritas investasi pada sektor perhotelan, resor, fasilitas meeting, incentive, convention and exhibition* (MICE), sport tourism, pusat gaya hidup, ritel, hingga berbagai fasilitas pendukung destinasi wisata. Dengan karakter investasi seperti itu, kebutuhan tenaga kerja tidak hanya berasal dari sektor konstruksi saat pembangunan berlangsung, tetapi juga dari industri jasa yang membutuhkan kompetensi pelayanan, pengelolaan hotel, kuliner, hingga penyelenggaraan berbagai ajang internasional. Meski investasi di KEK Mandalika terus bertambah, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa besarnya nilai investasi belum otomatis tercermin pada pertumbuhan ekonomi daerah di sekitarnya. Penelitian berjudul *Evaluasi Dampak Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat Pendekatan Difference-in-Differences* yang diterbitkan dalam *Scripta Economica: Journal of Economics, Management, and Accounting* edisi Juli 2026 mencoba menguji sejauh mana keberadaan KEK Mandalika benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lombok Tengah dibandingkan kabupaten dan kota lain di Nusa Tenggara Barat. Berbeda dengan kajian deskriptif, penelitian tersebut menggunakan metode *Difference-in-Differences* (DiD), yakni pendekatan ekonometrika yang lazim digunakan untuk mengevaluasi dampak suatu kebijakan. Peneliti membandingkan perkembangan ekonomi 10 kabupaten dan kota di NTB sepanjang 2014 hingga 2024, dengan Lombok Tengah sebagai wilayah perlakuan karena menjadi lokasi KEK Mandalika, sementara sembilan daerah lainnya dijadikan wilayah pembanding. Analisis juga memasukkan sejumlah variabel pengendali, seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), jumlah penduduk, tingkat pengangguran terbuka, dan investasi daerah. Sebelum menguji dampaknya, peneliti terlebih dahulu memastikan bahwa tren pertumbuhan ekonomi Lombok Tengah sebelum KEK beroperasi relatif sejajar dengan daerah pembanding. Hasil uji asumsi parallel trend menunjukkan koefisien interaksi *Treat × Tahun* sebesar minus 0,0105 dengan p-value 0,975. Nilai tersebut menunjukkan tidak terdapat perbedaan tren pertumbuhan yang signifikan sebelum kebijakan diterapkan sehingga metode yang digunakan dinilai layak untuk mengukur dampak KEK secara empiris. Ketika KEK mulai beroperasi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Lombok Tengah memang mengalami peningkatan. Hasil estimasi menunjukkan nilai *Difference-in-Differences* sebesar 0,102 atau setara dengan peningkatan sekitar 10,2 persen dibandingkan wilayah pembanding. Namun, secara statistik peningkatan tersebut belum dapat dinyatakan signifikan karena memiliki p-value 0,598 atau jauh di atas ambang signifikansi 5 persen. Dengan kata lain, penelitian ini belum menemukan bukti yang cukup kuat bahwa peningkatan PDRB per kapita di Lombok Tengah benar-benar disebabkan oleh keberadaan KEK Mandalika. “Hasil estimasi *Difference-in-Differences* menunjukkan koefisien sebesar 0,102, yang mengindikasikan peningkatan PDRB per kapita sekitar 10,2 persen lebih tinggi di wilayah perlakuan setelah KEK beroperasi. Namun, efek tersebut tidak signifikan secara statistik (*p-value* 0,598), sehingga dampak KEK Mandalika terhadap PDRB per kapita belum dapat disimpulkan secara meyakinkan,” tulis peneliti Nisrina Yasyfi Mumtaz dari Universitas Brawijaya yang meneliti KEK tersebut. Penelitian itu juga mencoba menelusuri apakah investasi menjadi mekanisme utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Hasilnya menunjukkan belum demikian. Pada pengujian *mechanism check*, koefisien dampak KEK terhadap investasi tercatat minus 3,243 dengan p-value 0,203 sehingga dinilai belum signifikan secara statistik. Peneliti menyimpulkan bahwa selama periode pengamatan, keberadaan KEK Mandalika belum mampu meningkatkan investasi daerah secara nyata dibandingkan kabupaten dan kota lain di NTB. Meski demikian, penelitian tersebut juga menemukan bahwa investasi tetap memiliki hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Saat variabel investasi dimasukkan ke dalam model, koefisien investasi tercatat positif sebesar 0,00657 dan signifikan. Artinya, peningkatan investasi memang berkontribusi terhadap kenaikan PDRB per kapita. Namun, hubungan tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa KEK Mandalika menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan investasi tersebut.   Peneliti juga melakukan serangkaian *robustness check* atau uji ketahanan model dengan berbagai kombinasi variabel. Hasilnya tetap konsisten. Pada empat model yang diuji, koefisien dampak KEK selalu bernilai positif, tetapi seluruh p-value masih berada di atas tingkat signifikansi sehingga kesimpulan utama penelitian tidak berubah. Menariknya, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa KEK Mandalika gagal. Peneliti justru menemukan indikasi bahwa manfaat kawasan mulai terlihat pada sektor tertentu. Aktivitas ekonomi di sektor jasa, akomodasi, dan pariwisata mengalami peningkatan lebih cepat dibanding sektor lain. Dampak ekonomi juga cenderung lebih terasa di wilayah yang berdekatan langsung dengan kawasan inti KEK. Namun, efek limpahan atau spillover effect ke wilayah lain di NTB masih terbatas sehingga belum mampu mengangkat PDRB regional secara signifikan.   Dalam bagian kesimpulan, penulis memberikan catatan bahwa manfaat ekonomi KEK Mandalika masih cenderung terkonsentrasi di dalam kawasan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat keterkaitan ekonomi dengan wilayah sekitar melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelibatan tenaga kerja lokal, integrasi UMKM ke dalam rantai pasok kawasan, serta evaluasi berkala agar investasi yang masuk benar-benar menghasilkan efek pengganda terhadap perekonomian daerah. “Meskipun pembangunan KEK Mandalika mencerminkan komitmen investasi yang besar secara nominal, manfaat ekonominya masih cenderung terkonsentrasi di dalam kawasan dan belum menghasilkan efek pengganda (*spillover effect*) yang kuat terhadap perekonomian Kabupaten Lombok Tengah dalam jangka pendek,” tulis Nisrina.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan