# Manulife IM: Konflik Timur Tengah dan Inflasi Bayangi Pasar Global Semester II 2026 > Manulife Investment Management memperkirakan pasar global pada semester II 2026 akan bergerak semakin tidak merata akibat konflik geopolitik, inflasi, dan kebijakan bank sentral yang masih cenderung hawkish. Perusahaan merekomendasikan strategi investasi aktif dengan fokus pada diversifikasi portofolio. Peluang dinilai masih terbuka pada saham Asia, khususnya sektor AI, semikonduktor, manufaktur canggih, serta obligasi Asia yang menawarkan imbal hasil menarik dan durasi lebih pendek. Komoditas terkait pembangunan infrastruktur AI juga dipandang prospektif. Manulife IM menilai pasar global makin terfragmentasi pada semester II 2026 dan merekomendasikan strategi investasi aktif dengan fokus Asia, AI, dan obligasi. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-15 11:30:00 - Author: Desty Luthfiani - Editor: Citra Dara Vresti Trisna - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/manulife-im-konflik-timur-tengah-dan-inflasi-bayangi-pasar-global-semester-ii-2026 - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/manulife-im-konflik-timur-tengah-dan-inflasi-bayangi-pasar-global-semester-ii-2026.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Manulife Investment Management (Manulife IM) memperkirakan pertumbuhan pasar global pada semester II 2026 akan semakin tidak merata di tengah berlanjutnya konflik geopolitik, perubahan arah kebijakan bank sentral, serta perbedaan siklus ekonomi di berbagai kawasan. Dalam laporan pandangan pasar Asia dan strategi investasi semester II 2026 yang dirilis di Hong Kong, Manulife IM menyebut bank sentral global diperkirakan tetap mempertahankan sikap hawkish untuk merespons risiko inflasi. Kondisi tersebut membuat pengelolaan investasi secara aktif dan seleksi aset menjadi semakin penting. Meski konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakpastian dalam jangka pendek, Manulife IM menilai pasar Asia tetap memiliki daya tarik karena didukung ekspansi infrastruktur teknologi dan ketahanan energi domestik yang memberikan manfaat diversifikasi bagi portofolio global. Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan prospek ekonomi global pada paruh kedua tahun ini masih dibayangi gangguan rantai pasok, tingginya harga komoditas, serta belum pastinya normalisasi jalur energi dan distribusi barang. "Ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi," kata Shao Rabu, 15 Juli 2026. Menurut dia, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara yang memiliki ketahanan energi domestik yang kuat maupun yang memperoleh manfaat langsung dari perkembangan teknologi dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Shao menambahkan, Cina relatif mampu meredam dampak lonjakan harga minyak global melalui diversifikasi impor energi, pengendalian harga domestik, dan cadangan energi yang memadai. "Dengan didukung pertumbuhan dasar yang solid, para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas untuk merespons secara dinamis apabila kondisi eksternal memburuk," ujarnya. Sementara itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, Luke Browne, mengatakan kondisi makro yang semakin tidak merata memperkuat pentingnya strategi alokasi aset yang selektif dan terdiversifikasi. "Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset," katanya. Menurut Browne, kepemimpinan pasar saham diperkirakan tidak lagi hanya didominasi saham teknologi berkapitalisasi besar dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi juga akan meluas ke aset berkualitas tinggi dengan valuasi yang menarik. Ia menilai pendekatan multi-aset yang seimbang menjadi kunci menghadapi volatilitas akibat geopolitik maupun valuasi pasar. ### **Aset Apa yang Menarik pada Semester II 2026?** Selain itu, Manulife IM juga melihat peluang pada aset riil, termasuk komoditas yang terkait dengan pembangunan infrastruktur AI, serta instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Di sisi lain, perusahaan lebih memilih obligasi berdurasi pendek untuk membantu mengelola risiko suku bunga. Di pasar saham Asia, Head of Asia Equities Manulife Investment Management, June Chua, mengatakan prospek kawasan masih konstruktif menjelang semester II 2026. Menurutnya, Cina mulai menunjukkan perbaikan prospek laba perusahaan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan setelah melewati periode pelemahan. "Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Cina dalam jangka menengah," ujar Chua. Ia menambahkan Taiwan dan Korea Selatan masih memperoleh manfaat dari momentum pertumbuhan ekosistem AI. Rantai pasok semikonduktor yang kuat serta peningkatan teknologi dinilai terus mendorong pertumbuhan laba di sektor tersebut. Di kawasan ASEAN, Chua menilai prospek pemulihan tetap terbuka meskipun tantangan jangka pendek masih ada. "Kami melihat adanya upaya kebijakan yang terkoordinasi serta penguatan permintaan domestik yang dapat mendukung pemulihan yang lebih berkelanjutan. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif menjadi semakin penting," katanya. Dari sisi pendapatan tetap, Head of Asia Fixed Income Manulife Investment Management, Murray Collis, mengatakan obligasi Asia masih berada pada posisi yang baik di tengah ketidakpastian arah suku bunga global. Menurutnya, obligasi Asia menawarkan kombinasi imbal hasil yang lebih tinggi dengan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis sehingga mampu memberikan bantalan terhadap volatilitas suku bunga. Manulife IM juga melihat peluang pada obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dan sejumlah obligasi mata uang lokal yang didukung fundamental ekonomi serta kebijakan yang solid. Selain itu, obligasi berimbal hasil tinggi (high yield) di Asia dinilai masih menarik karena didukung fundamental yang membaik, sedangkan obligasi investment grade tetap ditopang pertumbuhan ekonomi kawasan. Jepang dan India juga disebut menawarkan peluang berbeda sesuai dinamika kebijakan dan kondisi pasar masing-masing. Collis menambahkan terbatasnya pasokan bersih obligasi dolar Asia turut menopang valuasi pasar. "Dengan latar belakang tersebut, obligasi Asia tetap berada dalam posisi yang baik untuk memberikan pendapatan dan diversifikasi, sekaligus menawarkan ketahanan relatif pada semester kedua 2026," ujarnya. Manulife Investment Management menyimpulkan bahwa keberhasilan pengelolaan portofolio pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan investor beradaptasi terhadap perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antar kawasan dan inflasi yang masih bertahan. Menurut perusahaan, neraca korporasi Asia yang kuat, fleksibilitas kebijakan, serta pertumbuhan struktural di sektor teknologi masih menjadi faktor pendukung bagi peluang investasi jangka panjang.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan