Logo
>

Selamat Tinggal Saham Big Banks, Asing Kini Masif Koleksi ANTM hingga EMAS

Asing mulai melepas saham bank besar dan beralih ke ANTM, BREN, EMAS hingga PACK di tengah sentimen komoditas global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Selamat Tinggal Saham Big Banks, Asing Kini Masif Koleksi ANTM hingga EMAS
Aktivitas asing menunjukkan rotasi dari saham bank besar ke komoditas, emas, dan energi seperti ANTM, BREN, EMAS, hingga PACK. Foto: Dok. KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM — Pergerakan investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) awal Mei 2026 memperlihatkan pola yang menarik. Ketika saham-saham perbankan besar mulai dilepas, sebagian dana justru mengalir ke emiten berbasis komoditas, energi, hingga emas.

Pola tersebut terlihat dari aktivitas tiga broker asing dengan nilai transaksi terbesar, yakni CGS International Sekuritas Indonesia (YU), UBS Sekuritas Indonesia (AK), dan Korea Investment and Sekuritas Indonesia (BQ), selama periode 1–13 Mei 2026.

Pada perdagangan terakhir di bursa sebelum libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, Rabu, 13 Mei 2026, ketiga broker asing itu tercatat melakukan pembelian bersih cukup besar pada beberapa saham tertentu.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi tujuan utama akumulasi dengan nilai beli bersih mencapai Rp103,3 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp39,6 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp24,1 miliar, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) Rp14,3 miliar, serta PT Emas Antam Indonesia Tbk (EMAS) Rp10,5 miliar.

Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar justru mengalami tekanan jual asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat dibukukan net sell Rp68,8 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp43,2 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp31,4 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp21,2 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp19,1 miliar.

Jika dilihat sekilas, data ini tampak seperti perpindahan biasa. Namun pola transaksi sepanjang awal Mei menunjukkan cerita yang lebih panjang.

Asing tak Sekadar Masuk Sehari, ANTM Dikoleksi Bertahap

Akumulasi pada ANTM terlihat berlangsung berulang sebelum lonjakan pembelian 13 Mei. Pada 6 Mei, tiga broker asing tersebut tercatat melakukan pembelian bersih Rp34,9 miliar di harga rata-rata Rp3.760. Aktivitas beli kembali muncul pada 11 Mei sebesar Rp19,3 miliar dan 12 Mei Rp13,4 miliar.

Puncaknya terjadi pada 13 Mei ketika nilai akumulasi melonjak menjadi Rp103,3 miliar meski harga rata-rata pembelian turun ke sekitar Rp3.501 per saham. Artinya, pembelian tidak hanya dilakukan ketika harga naik, tetapi justru bertambah saat harga terkoreksi.

Pola seperti ini kerap dibaca pelaku pasar sebagai akumulasi bertahap atau position building, yakni strategi masuk perlahan sebelum eksposur diperbesar.

Fenomena tersebut cukup menarik mengingat ANTM dalam beberapa bulan terakhir mendapat sentimen dari penguatan harga emas global, prospek hilirisasi mineral, hingga narasi pengembangan rantai pasok kendaraan listrik.

Harga emas dunia sendiri masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian geopolitik global dan perang di Timur Tengah. Data Trading Economics menunjukkan harga emas dunia turun ke bawah USD4.650 per ons pada perdagangan Jumat kemarin dan berada di jalur pelemahan hampir 2 persen sepanjang pekan. 

Koreksi ini dipicu lonjakan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan lanjutan.

Suku bunga tinggi umumnya membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga sehingga berpotensi menekan harga logam mulia dalam jangka pendek.

Tekanan serupa juga terlihat di pasar domestik. Harga emas batangan Antam tercatat turun cukup tajam. Mengacu pada laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam pada Sabtu pukul 09.09 WIB merosot Rp50 ribu menjadi Rp2,769 juta per gram, dari posisi sebelumnya Rp2,819 juta per gram. Tidak hanya harga jual, nilai beli kembali (buyback) juga ikut terkoreksi menjadi Rp2,576 juta per gram.

Pola serupa muncul pada BREN. Data menunjukkan broker asing sempat melakukan jual bersih pada 7 Mei sebesar Rp17,7 miliar. Namun arah berubah pada pekan berikutnya. Pada 12 Mei, asing masuk Rp9,8 miliar dan meningkat tajam menjadi Rp39,6 miliar pada 13 Mei.

Menariknya, pembelian itu terjadi saat harga rata-rata turun dari kisaran Rp4.700 menjadi sekitar Rp3.284. Pergerakan tersebut memberi sinyal bahwa sebagian investor mulai kembali melirik sektor energi setelah koreksi harga.

Dalam konteks global, sektor energi memperoleh perhatian karena harga minyak mentah sempat bergejolak akibat terganggunya pasokan Timur Tengah. Ketika ketidakpastian energi meningkat, saham dengan eksposur sektor energi sering menjadi pilihan rotasi modal.

Saham Bank Besar Mulai Dilepas

Sementara itu, pola pada saham bank menunjukkan kecenderungan berbeda. BBRI mengalami tekanan jual hampir sepanjang awal Mei oleh tiga broker asing tersebut. Pada 5 Mei tercatat net sell Rp96 miliar, disusul Rp60,3 miliar pada 7 Mei dan Rp47,5 miliar pada 8 Mei.

Meski sempat terjadi pembelian pada 11–13 Mei, secara keseluruhan nilai jual masih dominan. ASII juga menunjukkan pola fluktuatif, namun belum sekuat akumulasi pada ANTM.

Fenomena pelepasan bank besar ini belum tentu mencerminkan pandangan negatif terhadap fundamental emiten. Bisa jadi, investor asing hanya melakukan rotasi sektor setelah reli saham perbankan beberapa waktu terakhir.

Dalam strategi portofolio global, perpindahan dana dari sektor defensif menuju komoditas lazim terjadi ketika risiko geopolitik meningkat atau muncul ekspektasi kenaikan harga energi dan bahan baku.

PACK dan EMAS Ikut Masuk Radar

Dua saham lain yang menarik perhatian ialah PACK dan EMAS. Pada PACK, aktivitas broker asing cenderung agresif dengan pola jual-beli cepat. Setelah sempat mencatat net sell Rp8,6 miliar pada 5 Mei dan Rp7,3 miliar pada 12 Mei, akumulasi besar muncul pada 13 Mei sebesar Rp14,3 miliar.

Pola akumulasi pada PACK juga muncul berdekatan dengan sentimen korporasi besar yang menyita perhatian pasar. Salah satu katalisnya datang dari masuknya pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam ke struktur kepemilikan emiten tersebut.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, pemilik Jhonlin Group itu mengakuisisi sekitar 6,83 miliar saham PACK atau setara 21,12 persen kepemilikan perseroan. Transaksi dilakukan pada harga Rp137 per saham dengan total nilai mendekati Rp936,7 miliar.

Aksi tersebut langsung memicu perhatian investor karena dianggap memperkuat ekspektasi terhadap prospek bisnis nikel ke depan. Pasalnya, PACK diketahui bergerak di sektor yang berkaitan dengan rantai pasok mineral, sementara permintaan nikel global masih ditopang kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Sentimen masuknya Haji Isam tampaknya ikut beriringan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan saham PACK. Data broker menunjukkan setelah sempat mengalami tekanan jual pada awal Mei, akumulasi asing kembali muncul dan mencapai Rp14,3 miliar pada 13 Mei dengan harga rata-rata pembelian sekitar Rp303 per saham.

Meski belum dapat disimpulkan sebagai perubahan tren jangka panjang, kombinasi antara aksi korporasi pemegang saham baru dan meningkatnya minat transaksi asing membuat PACK mulai masuk radar pelaku pasar.

Sementara pada EMAS, tekanan jual cukup dominan pada awal bulan. Net sell mencapai Rp20,2 miliar pada 5 Mei dan Rp12,8 miliar pada 7 Mei. Namun tren berbalik menjelang pertengahan bulan dengan pembelian Rp4 miliar pada 12 Mei dan Rp10,5 miliar pada 13 Mei. Perubahan arah ini menunjukkan investor asing mulai masuk kembali setelah koreksi harga.

Rotasi ke Saham Komoditas

Jika seluruh data digabungkan, pola yang muncul tampaknya bukan sekadar pembelian acak terhadap saham tertentu. Ada indikasi sebagian investor asing mulai mengurangi eksposur pada saham defensif seperti bank besar dan beralih ke tema komoditas, energi, serta logam mulia.

ANTM memperoleh manfaat dari sentimen emas dan hilirisasi mineral. BREN terkait narasi energi. EMAS berada dekat dengan tema safe haven. Bahkan PACK menunjukkan aktivitas spekulatif yang meningkat.

Meski demikian, rotasi seperti ini belum cukup untuk disimpulkan sebagai perubahan tren jangka panjang. Pergerakan asing masih sangat dipengaruhi dinamika global, mulai dari konflik Timur Tengah, harga minyak, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga volatilitas komoditas.

Namun satu hal mulai terlihat. Awal Mei 2026 memberi sinyal bahwa sebagian modal asing tampaknya mulai mencari cerita baru di luar saham bank besar yang selama ini mendominasi pasar Indonesia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).