# Tak Cuma Biodiesel, Sawit Disebut Punya Potensi di Sektor Kesehatan > Guru Besar FKM UI Ratu Ayu Dewi Sartika mendorong pemerintah memperluas hilirisasi sawit ke sektor kesehatan melalui pengembangan produk berbasis minyak sawit merah. Menurutnya, komoditas sawit tidak hanya bernilai untuk energi dan kosmetik, tetapi juga berpotensi mendukung perbaikan gizi dan pencegahan stunting. Tantangan utama saat ini adalah standardisasi dan sertifikasi bahan baku. Ratu menilai pengembangan minyak sawit merah yang memenuhi standar kualitas dapat memperkuat industri pangan fungsional sekaligus mendukung kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Guru Besar FKM UI menilai hilirisasi sawit perlu diperluas ke sektor kesehatan melalui pengembangan minyak sawit merah untuk mendukung pencegahan stunting. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-16 16:30:00 - Author: Harun Rasyid - Editor: Citra Dara Vresti Trisna - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/tak-cuma-biodiesel-sawit-disebut-punya-potensi-di-sektor-kesehatan - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/tak-cuma-biodiesel-sawit-disebut-punya-potensi-di-sektor-kesehatan.md ## Article **KABARBURSA.COM**** **- Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Ratu Ayu Dewi Sartika, mengatakan pengembangan produk turunan sawit untuk sektor kesehatan perlu berjalan seiring dengan agenda hilirisasi yang saat ini difokuskan pemerintah.  Selama ini, pemanfaatan kelapa sawit selama ini umumnya masih mengarah ke kebutuhan energi hingga industri kosmetik. Padahal, kelapa sawit sebagai salah satu komoditas andalan Indonesia tersebut punya potensi untuk mendukung perbaikan gizi masyarakat, termasuk mencegah stunting melalui pengembangan produk pangan berbasis minyak sawit merah. Penerima Riset Grant Sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu mengungkapkan, pemanfaatan sawit seharusnya tidak berhenti pada produk pangan konvensional maupun biodiesel, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang mendukung kesehatan masyarakat. “Kalau misalnya itu menjadi satu fokus atau program pemerintah, bisa dibarengi dengan transformasi hilirisasi. Ini justru malah makin memperkuat, bukan lagi rebutan (minyak sawit), tapi justru memanfaatkan. Jadi enggak ada yang kebuang," ujar Ratu dalam media briefing Road to PERISAI 2026 di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026. ### **Mengapa Hilirisasi Sawit Perlu Diperluas ke Sektor Kesehatan?** Ia menjelaskan, berbagai fraksi hasil pengolahan sawit dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda. Salah satunya adalah fraksi olein yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional. Sedangkan fraksi lainnya yang disebut steril, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri lain. Dari sisi ketersediaan bahan baku, Ratu Ayu menilai pasokan minyak sawit merah mencukupi apabila industri pengolahannya berkembang secara berkelanjutan. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada aspek standardisasi dan sertifikasi produk. Menurut Ratu, sangat sulit menemukan produk minyak sawit merah yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan memiliki sertifikasi yang masih berlaku sebagai bahan baku industri pangan. “Kalau mau melihat kebutuhan, itu bisa tercukupi. Namun yang menjadi masalah adalah mengenai sertifikasi,” ujarnya. Sejak mulai meneliti minyak sawit merah pada akhir 2004, ia mengaku belum menemukan produk yang memenuhi seluruh persyaratan untuk mendukung pengembangan produk turunan secara berkelanjutan.  Beberapa produk yang sempat memperoleh sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diketahui sudah tidak lagi diproduksi atau sertifikasinya tidak diperpanjang. Padahal, keberadaan bahan baku yang telah tersertifikasi menjadi syarat penting agar produk turunan dapat diproduksi secara luas dan memperoleh izin edar. Selain persoalan sertifikasi, perubahan kebijakan juga menjadi tantangan pengembangan riset dan industri minyak sawit merah.  Ratu menyebut, sektor kesehatan butuh pasokan bahan baku yang konsisten sehingga industri harus mampu menjamin keberlanjutan produksi dengan standar kualitas yang sama. Ia menjelaskan, setiap metode produksi minyak sawit merah menghasilkan kandungan karotenoid yang berbeda. Perbedaan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas produk turunan yang dikembangkan untuk kebutuhan kesehatan. “Yang dibutuhkan adalah kadar karotenoid yang ada di dalam minyak kelapa sawit ini. Kalau prosesnya saja berbeda, kadarnya berbeda, nanti membuat produk turunannya lebih sulit. Sehingga dipastikan bahwa minyak kelapa sawitnya sendiri itu harusnya terstandarisasi,” jelas Ratu. Ke depannya, Ratu berencana melanjutkan proses sertifikasi produk olahan minyak sawit merah, termasuk memperoleh sertifikat halal dan izin edar Makanan Dalam Negeri (MD) dari BPOM. Di samping itu Ratu mengatakan, Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan Malaysia yang telah memiliki beragam produk minyak sawit merah untuk konsumsi masyarakat. “Saya berencana untuk proses lebih lanjut untuk sertifikat izin, terutama halal dan juga izin MD. Itu yang memang belum ada sama sekali di Indonesia. Tapi kalau kita ke Malaysia, produknya banyak banget bahkan jauh lebih murah. Itu menjadi PR juga buat kita,” terangnya. ### **Bagaimana Minyak Sawit Merah Berpotensi Membantu Mencegah Stunting?** Lebih jauh, ia menilai hilirisasi sawit semestinya juga diarahkan untuk menjawab persoalan gizi nasional yang hingga kini masih menjadi tantangan, termasuk tingginya angka stunting. Di satu sisi, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga berupaya menurunkan prevalensi stunting dari 18,8 persen pada 2025, menjadi 17,5 persen pada 2026 Menurut Ratu Ayu, upaya pencegahan stunting tidak cukup dilakukan setelah anak lahir, melainkan harus dimulai sejak masa kehamilan. Pemenuhan vitamin A, zat besi, serta berbagai mikronutrien menjadi faktor penting terutama pada trimester ketiga kehamilan. “Kalau bicara stunting, diberikannya hanya kepada anak saja yang sudah jelas-jelas memasuki usianya sudah satu tahun ke atas itu terlambat. Periode untuk menjadi stunting dari seorang anak itu mulainya dari sejak awal konsepsi. Titik kritisnya ada di ibu hamil trimester ketiga. Di hasil penelitian kami terbukti itu semuanya,” tegasnya. Karena itu, ia berharap pengembangan minyak sawit merah tidak hanya dipandang sebagai bagian dari industri sawit, tetapi juga sebagai peluang menghadirkan inovasi pangan bergizi yang mampu memperkuat upaya pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan