# The Fed: Perang hingga AI Jadi Sebab Inflasi AS Masih Tinggi > The Fed menyatakan inflasi AS masih tinggi akibat tarif impor, perang, dan investasi AI. Pasar kini mencermati arah suku bunga berikutnya. The Fed menyebut tarif impor, perang, dan lonjakan investasi AI membuat inflasi AS tetap tinggi meski pasar tenaga kerja masih stabil. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Makro - Published At: 2026-07-11 10:05:00 - Author: Moh. Alpin Pulungan - Editor: Moh. Alpin Pulungan - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/makro/the-fed-perang-hingga-ai-jadi-sebab-inflasi-as-masih-tinggi - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/makro/the-fed-perang-hingga-ai-jadi-sebab-inflasi-as-masih-tinggi.md ## Financial Entities - Stock Code: AALI - Stock Name: Astra Agro Lestari Tbk. - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mengakui tekanan inflasi di Negeri Paman Sam kembali menguat sepanjang musim semi tahun ini. Kenaikan tarif impor, lonjakan biaya energi akibat perang, hingga masifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) disebut menjadi faktor yang mendorong harga-harga semakin sulit dikendalikan. Dalam laporan kebijakan moneter kepada Kongres Amerika Serikat yang dirilis Jumat, 10 Juli 2026, The Fed menyebut inflasi masih berada jauh di atas target jangka panjang bank sentral sebesar 2 persen. “Inflasi telah meningkat pada tahun ini dan masih berada di level yang tinggi dibandingkan dengan target jangka panjang Komite Pasar Terbuka Federal sebesar 2 persen,” tulis The Fed dalam laporannya, dikutip dari *Reuters*, Sabtu, 11 Juli 2026. Laporan tersebut mengacu pada indeks *Personal Consumption Expenditures *(PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, yang hingga Mei 2026 masih bergerak sekitar dua kali lipat dari target inflasi bank sentral. Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja dinilai relatif stabil. The Fed menilai keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja masih terjaga meski pertumbuhan angkatan kerja mulai melambat. “Pasar tenaga kerja telah stabil, dengan permintaan dan pasokan yang secara umum berada dalam kondisi seimbang,” tulis laporan tersebut. The Fed mencatat tingkat pengangguran Amerika Serikat pada Juni 2026 berada di level 4,2 persen yang masih tergolong rendah. Lowongan pekerjaan juga relatif datar, sementara angka pemutusan hubungan kerja masih terkendali. Namun, perlambatan pertumbuhan angkatan kerja mulai menjadi perhatian. Menurut bank sentral, penurunan angka imigrasi dan meningkatnya populasi usia lanjut menyebabkan pasokan tenaga kerja tidak lagi tumbuh secepat beberapa tahun sebelumnya. “Perlambatan yang signifikan dalam imigrasi serta terus menurunnya partisipasi angkatan kerja akibat penuaan penduduk telah menyebabkan melambatnya pertumbuhan pasokan tenaga kerja,” demikian isi laporan tersebut. Meski menghadapi tantangan tersebut, The Fed menilai kapasitas ekonomi Amerika Serikat masih berkembang cukup solid. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dinilai mampu mengimbangi perlambatan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Sepanjang beberapa bulan pertama 2026, ekonomi Amerika Serikat tumbuh sekitar 2,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong oleh derasnya investasi pada sektor AI, meski masih tertahan oleh lesunya pasar perumahan dan konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh moderat. Laporan kepada Kongres ini juga menjadi yang pertama sejak Kevin Warsh resmi menjabat sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell pada akhir Mei lalu. Warsh dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan anggota DPR dan Senat Amerika Serikat pekan depan dalam agenda evaluasi rutin kebijakan moneter. Sejak Desember tahun lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, meningkatnya tekanan inflasi, terutama setelah pecahnya konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari, membuat pelaku pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini semakin terbuka. Meski Kevin Warsh belum bersedia memberikan sinyal arah kebijakan berikutnya, proyeksi para pejabat The Fed pada pertemuan 16-17 Juni menunjukkan pandangan yang terbelah. Sebagian anggota memperkirakan suku bunga masih perlu dinaikkan, sementara sebagian lainnya menilai suku bunga dapat dipertahankan atau bahkan diturunkan apabila tekanan inflasi mulai mereda. Menariknya, laporan kali ini juga menyoroti kecerdasan buatan sebagai salah satu faktor yang dalam jangka pendek justru berpotensi meningkatkan inflasi. Permintaan terhadap listrik, cip semikonduktor, dan berbagai material pendukung pembangunan pusat data AI disebut masih sangat tinggi sehingga ikut mendorong kenaikan harga. Selain itu, The Fed kembali menyinggung pertumbuhan jumlah uang beredar atau M2, sesuatu yang terakhir kali dibahas secara eksplisit dalam laporan kebijakan moneter pada 2016. Menurut bank sentral, pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa lonjakan pasokan uang yang disertai belanja pemerintah dalam jumlah besar dapat mempercepat inflasi ketika pasokan barang sedang terbatas. Dalam laporannya, The Fed mencatat pertumbuhan M2 kini telah kembali ke kisaran yang umum terjadi sepanjang dekade 2010-an. Bank sentral juga menilai peningkatan besar kepemilikan uang tunai masyarakat selama pandemi sebagian besar telah berangsur normal, kondisi yang berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi ke depan. Meski sejumlah aturan kebijakan moneter saat ini menunjukkan perlunya kenaikan suku bunga, The Fed mengingatkan agar rekomendasi tersebut tidak dipahami secara kaku. “Rekomendasi yang ditampilkan di sini mengabaikan kenyataan bahwa perekonomian akan berkembang secara berbeda apabila suku bunga kebijakan mengikuti salah satu jalur yang ditentukan oleh aturan tersebut. Karena itu, rekomendasi ini harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis The Fed. ### **Efek The Fed bisa Menular ke Indonesia?** Respons Bank Indonesia menunjukkan arah kebijakan yang sejalan dengan langkah Federal Reserve dalam merespons meningkatnya risiko global. Ketika bank sentral Amerika Serikat menilai perang di Timur Tengah, kenaikan harga energi, dan tekanan inflasi menjadi alasan untuk tetap berhati-hati terhadap arah suku bunga, Bank Indonesia juga menjadikan eskalasi konflik geopolitik sebagai salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan moneternya.   Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19–20 Mei 2026, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Mei 2026, BI menjelaskan keputusan tersebut diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah sekaligus sebagai langkah pre-emptive menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026–2027. Sikap tersebut sebenarnya telah terlihat sejak Maret 2026. Saat itu, BI memilih mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen dengan alasan memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah dan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta sasaran inflasi nasional. Bank Indonesia juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dan komoditas global akibat konflik geopolitik berpotensi meningkatkan imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Dalam asesmennya, tekanan inflasi dapat muncul melalui kenaikan harga energi, harga komoditas dunia, hingga penyesuaian harga-harga yang diatur pemerintah. Karena itu, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi salah satu fokus utama bauran kebijakan moneter BI. Bagi Indonesia, perkembangan arah kebijakan The Fed juga menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi arus modal global dan nilai tukar rupiah. Jika inflasi Amerika Serikat tetap tinggi sehingga mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau kembali menaikkannya, ruang pelonggaran kebijakan moneter di negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya impor dan volatilitas pasar keuangan domestik. Meski demikian, Bank Indonesia masih mempertahankan optimisme terhadap prospek ekonomi domestik. Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2026, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi diproyeksikan terjaga dalam target 2,5±1 persen.  Namun, proyeksi tersebut tetap disertai kewaspadaan terhadap tingginya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik, pergerakan harga energi, serta arah kebijakan moneter negara-negara maju yang akan memengaruhi stabilitas perekonomian nasional.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan