Logo
>

Wall Street Berakhir Suram, Nasdaq Ambruk 1,54 Persen

Lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan memanasnya konflik Iran membuat investor mulai keluar dari saham teknologi yang sebelumnya terbang karena euforia AI.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Berakhir Suram, Nasdaq Ambruk 1,54 Persen
Wall Street berakhir di zona merah usai pernyataan Trump dan Arachi memberikan ketegangan baru terhadap perselisihan kedua negara. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM – Reli Panjang Wall Street akhirnya tersandung setelah pasar mulai melakukan aksi ambil untung besar-besaran. Hal ini terjadi Ketika pasar mulai dihantam lonjakan harga minyak, ancaman inflasi, serta kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat, semua indeks berubah suram. Dow Jones ambruk 537 poin atau 1,07 persen ke level 49.526,17. S&P 500 turun 1,24 persen ke 7.408,50, sementara Nasdaq yang selama ini jadi motor reli AI jatuh paling dalam, yakni 1,54 persen ke posisi 26.225,15.

Arah pasar sebenarnya sudah mulai berubah sejak harga minyak kembali melonjak tajam. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah muncul komentar keras dari Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Komentar ini langsung memicu keraguan akan gencatan senjata sementara. Bahkan, harapan Selat Hormuz Kembali normal, perlahan memudar.

Pasar langsung membacanya sebagai ancaman baru bagi inflasi global. Biasanya, ketika harga energi naik, biaya produksi dan distribusi akan ikut terdorong. Investor kemudian mulai menghitung ulang kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama di Amerika Serikat.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan yield ini membuat investor mulai berpindah dari aset berisiko, seperti saham, menuju obligasi yang dinilai lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Nvidia Terpukul, Jatuh 4,4 Persen

Kondisi tersebut menjadi pukulan telak bagi saham-saham teknologi yang sebelumnya melesat sangat tinggi. Saham Nvidia turun 4,4 persen, AMD anjlok 5,7 persen, sementara Intel merosot lebih dalam hingga 6,2 persen. Indeks semikonduktor Philadelphia bahkan jatuh sekitar 4 persen dalam sehari.

Pasar mulai merasa reli AI berjalan terlalu cepat dibanding kondisi ekonomi riil. Banyak investor sebelumnya nyaris mengabaikan tekanan dari pasar obligasi dan risiko inflasi karena terlalu fokus mengejar momentum saham teknologi.

Strategis pasar dari Slatestone Wealth Kenny Polcari, mengatakan pasar mulai sadar bahwa valuasi saham sudah bergerak terlalu jauh. Menurut dia, investor sebelumnya terlalu larut dalam euforia AI dan kurang memperhatikan sinyal dari data ekonomi maupun pasar obligasi.

Berakhirnya Masa Jabatan Powell

Tekanan makin terasa karena Jumat kemarin juga menjadi hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua Federal Reserve. Pasar kini mulai mengalihkan perhatian kepada Kevin Warsh yang akan mengambil alih kursi pimpinan bank sentral AS di tengah situasi yang jauh lebih rumit.

Investor mulai khawatir The Fed justru bisa kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika perang Iran berkepanjangan dan membuat inflasi tetap tinggi. Peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Desember kini melonjak mendekati 40 persen, jauh di atas posisi pekan lalu yang masih sekitar 13,6 persen.

Di tengah tekanan tersebut, hanya sektor energi yang mampu bertahan di zona hijau. Saham-saham energi di S&P 500 naik sekitar 2,3 persen seiring reli harga minyak dunia. Sementara sektor lain kompak melemah, terutama material dan utilitas yang menjadi korban terbesar aksi jual pasar.

Meski begitu, tekanan pada Jumat belum sepenuhnya menghapus reli besar Wall Street sepanjang beberapa pekan terakhir. S&P 500 masih berhasil mencatat kenaikan mingguan ketujuh berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak akhir 2023. Namun Nasdaq harus mengakhiri tren penguatan enam minggu beruntun.

Pasar kini mulai memasuki fase yang berbeda. Jika sebelumnya investor hanya fokus pada cerita AI dan pertumbuhan teknologi, kini perhatian mulai bergeser ke risiko inflasi, geopolitik, harga minyak, dan arah kebijakan suku bunga AS. Dan ketika semua faktor itu datang bersamaan, Wall Street mendadak kehilangan pijakan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79