# Anindya Bakrie Optimistis Fundamental Ekonomi Dorong IHSG Cetak Rekor > Ketua Kadin Anindya Bakrie optimistis IHSG raih rekor tertinggi dalam tiga tahun ditopang kuatnya fundamental ekonomi RI di tengah gejolak global. Anindya Bakrie sebut konsistensi pertumbuhan ekonomi dan inflasi rendah bakal pulihkan kepercayaan investor global di tengah volatilitas rupiah. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-10 15:30:00 - Author: Desty Luthfiani - Editor: Syahrianto - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/anindya-bakrie-optimistis-fundamental-ekonomi-dorong-ihsg-cetak-rekor - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/anindya-bakrie-optimistis-fundamental-ekonomi-dorong-ihsg-cetak-rekor.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah maupun pasar saham.  Menurutnya, konsistensi fundamental tersebut akan menjadi faktor utama yang mengembalikan kepercayaan investor sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali mencetak level tertinggi dalam beberapa tahun mendatang. Pernyataan itu disampaikan Anindya usai menghadiri pencatatan saham perdana PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026. Sekadar informasi, RANS resmi menjadi emiten ketujuh yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026. Perseroan melepas 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp170 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, RANS berhasil menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar. PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO tersebut. Menanggapi berbagai peringatan dari lembaga indeks global terhadap Indonesia, Anindya mengatakan setiap kritik perlu diterima sebagai masukan. Namun, menurutnya, penilaian terhadap kondisi ekonomi nasional harus tetap didasarkan pada data fundamental, bukan semata-mata sentimen pasar. "Setiap berita, setiap kritikan harus kita lihat dengan saksama. Kita harus terima, tapi juga kita mesti melihat faktanya," kata Anindya. Ia menilai arah fundamental ekonomi Indonesia masih positif. Selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi rata-rata bertahan di kisaran 5 persen dengan inflasi sekitar 1 persen hingga 2 persen. Selain itu, pada kuartal I juga tercipta sekitar 800.000 lapangan kerja baru, disertai berbagai upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan energi. Meski begitu, Anindya mengakui kondisi ekonomi global membuat pasar keuangan sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha perlu menjaga kepercayaan pelaku pasar. "Dunia ini sangat terkoneksi. Bukan hanya terkoneksi, tapi terekspos. Sehingga patut sama-sama, baik pemerintah maupun dunia usaha, menjaga kepercayaan ini, yang suka tidak suka akan terlihat di nilai tukar dan akan terlihat di pasar modal," ujarnya. Menurut Anindya, pengalaman berbagai krisis menunjukkan persepsi pasar pada akhirnya akan mengikuti kekuatan fundamental suatu negara. "Ketika pasar melihat fundamentalnya terus konsisten, dan itu kita fokusnya ke sana, ke fundamental, nanti pada saatnya persepsi justru berbalik," katanya. Optimisme tersebut, lanjut Anindya, juga tercermin dari pelaku usaha di berbagai daerah. Berdasarkan kunjungannya ke 38 provinsi, pelaku usaha masih tetap melakukan investasi meski ekspansi dilakukan lebih selektif. "Mereka tentunya juga waspada, tapi mereka masih investing. Mereka melakukan capital expenditure dan ini menandakan bahwa perekonomian kita masih dipercaya," ujarnya. Atas dasar itu, Anindya optimistis pasar saham Indonesia akan kembali menguat dalam jangka menengah. "Saya bisa mengatakan begini, dalam jangka waktu tiga tahun, indeks bukan hanya kembali normal, akan lebih daripada sebelumnya. Kenapa? Karena fundamentalnya besar," katanya. Ia menilai Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan banyak negara anggota G20, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, inflasi yang rendah, hingga ruang fiskal yang masih memadai karena rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap rendah. "Pada suatu titik akan terlihat bahwa secara komparatif Indonesia di G20 itu salah satu yang terbaik dari sisi pertumbuhan, inflasi yang rendah, dan fiscal space-nya masih ada karena utang dibanding PDB masih dalam kapasitas yang rendah," ujarnya. Meski demikian, Anindya mengingatkan bahwa pelemahan rupiah maupun volatilitas IHSG tetap harus diwaspadai. Menurutnya, fluktuasi tersebut merupakan konsekuensi dari pasar global yang saling terhubung, tetapi tidak boleh mengalihkan perhatian dari upaya memperkuat fundamental ekonomi. "Fluktuasi itu biasa, tidak boleh dianggap enteng, tapi itu adalah bagian daripada pasar global yang likuid dan dinamis," katanya. Ia menambahkan, selama pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi domestik, perdagangan, serta investasi asing dan domestik terus terjaga, kepercayaan investor akan kembali pulih. "Kalau kita fokus memastikan fundamental terus berjalan... nanti akan terlihat sendiri apabila kita jauh lebih baik daripada negara-negara tetangga. Nah, di situlah kapital bisa terus kembali lagi ke Indonesia," ujarnya. Selain kondisi pasar keuangan, Anindya juga menanggapi perbandingan iklim usaha Indonesia dengan Vietnam yang belakangan kerap menjadi perhatian investor. Menurut dia, tantangan Indonesia saat ini bukan lagi membuktikan besarnya potensi ekonomi, melainkan memastikan kepastian regulasi dan kemampuan mengeksekusi kebijakan. "Indonesia tidak lagi ditanya mengenai potensinya. Tapi ditanya dua hal, apakah kita bisa eksekusi dan apakah regulasinya itu bisa dipegang. Dua ini saja yang mesti kita buktikan, bahwa regulasi kita mendukung dunia usaha dan yang kedua eksekusinya juga lancar," kata Anindya.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan