KABARBURSA.COM – Asing masih gencar jual saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia itu ditutup melemah ke level 5.900 pada perdagangan terakhir, Jumat, 22 Mei 2026, setelah terkoreksi 50 poin atau 0,84 persen.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Dalam lima hari perdagangan terakhir, BBCA turun dari area 6.125 menuju 5.900.
Data perdagangan memperlihatkan tekanan asing masih menjadi faktor utama pelemahan saham ini. Pada perdagangan 22 Mei 2026, BBCA mencatat net foreign sell sebesar Rp322,37 miliar. Sehari sebelumnya, asing juga melepas saham senilai Rp110,20 miliar.
Tekanan lebih besar bahkan terjadi pada 20 Mei ketika net sell asing mencapai Rp375,75 miliar. Lalu pada 19 Mei sebesar Rp306,16 miliar.
Jika diakumulasi, total dana asing yang keluar dari BBCA selama empat hari perdagangan mencapai sekitar Rp1,11 triliun.
Sejak 19 Mei, tekanan jual mulai mendominasi perdagangan. Harga saham turun bertahap dari 5.950, lalu sempat rebound kecil ke 5.975 pada 20 Mei sebelum kembali turun ke 5.900 pada perdagangan terakhir.
Meski penurunannya terlihat relatif kecil dibanding saham lapis dua, tekanan di BBCA sebenarnya cukup besar jika dilihat dari nilai transaksi.
Pada perdagangan 22 Mei saja, nilai transaksi mencapai Rp1,70 triliun dengan volume 2,89 juta lot dan frekuensi transaksi 38.350 kali. Artinya, distribusi di saham ini berlangsung sangat aktif.
Area 5.800 jadi Perhatian Pasar
Koreksi BBCA menuju area 5.900 membuat pasar mulai memperhatikan posisi saham terhadap rentang harga 52 pekan. Data konsensus memperlihatkan posisi terendah rentang pasar berada di area 5.800, sementara level tertinggi mencapai 9.650.
Artinya, harga BBCA saat ini sudah sangat dekat dengan area bawah rentang perdagangan tahunan.
Kondisi tersebut mulai memunculkan dua pandangan berbeda di pasar. Sebagian pelaku pasar melihat area sekarang mulai menarik untuk akumulasi bertahap karena valuasi dianggap semakin murah dibanding rata rata historisnya.
Namun sebagian trader lain masih memilih berhati hati karena tekanan asing belum benar benar berhenti.
Pasar biasanya akan menunggu satu tanda penting sebelum kembali agresif masuk ke saham perbankan besar. Tanda tersebut ialah melambatnya distribusi asing dan mulai munculnya akumulasi institusi domestik secara konsisten.
Jika tekanan jual mulai mengecil, BBCA berpotensi menjadi salah satu saham pertama yang rebound karena likuiditasnya sangat besar.
Konsensus Analis Sangat Optimistis
Menariknya, di tengah tekanan harga saham, mayoritas analis global justru masih mempertahankan pandangan sangat positif terhadap BBCA. Data konsensus memperlihatkan dari 25 lembaga analis, sebanyak 23 memberikan rekomendasi beli terhadap BBCA.
Hanya dua analis yang memberikan rekomendasi hold dan tidak ada satupun yang memberikan rekomendasi jual. Konsensus keseluruhan bahkan masih berada pada kategori “sangat beli”.
Rata rata target harga analis dalam 12 bulan berada di level 8.889 atau mencerminkan potensi kenaikan sekitar 50,65 persen dari harga pasar saat ini. Estimasi target tertinggi mencapai 10.900, sementara target terendah berada di area 5.500.
Artinya, bahkan target paling rendah sekalipun masih tidak terlalu jauh dari posisi harga BBCA sekarang.
JP Morgan Turunkan Rating
Di tengah konsensus yang mayoritas positif, pasar juga memperhatikan langkah JP Morgan yang menurunkan rekomendasi BBCA menjadi hold.
JP Morgan memasang target harga 6.000 dengan potensi kenaikan sekitar 1,69 persen dari harga pasar saat ini. Meski terlihat lebih konservatif, target tersebut tetap masih berada di atas level perdagangan terakhir BBCA.
Di sisi lain, CLSA justru mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga 10.700. Goldman Sachs juga masih mempertahankan pandangan positif dengan target harga 8.400.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan pasar global saat ini sedang berada dalam fase tarik menarik terhadap saham perbankan Indonesia. Sebagian institusi mulai berhati hati terhadap perlambatan pertumbuhan dan tekanan likuiditas global.
Sementara, sebagian lain masih melihat bank besar Indonesia sebagai aset defensif dengan fundamental kuat.
Jadi Barometer Pasar
Pergerakan BBCA selama ini tidak hanya dibaca sebagai pergerakan saham perbankan biasa. Karena kapitalisasi pasarnya sangat besar, arah BBCA sering menjadi cerminan sentimen investor terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan.
Ketika BBCA ditekan asing, IHSG biasanya ikut kehilangan tenaga. Sebaliknya, ketika saham ini mulai rebound, pasar domestik umumnya ikut mendapatkan dorongan psikologis.
Karena itu pergerakan BBCA pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, kemungkinan masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Jika tekanan asing mulai mereda dan saham mampu bertahan di atas area 5.800 sampai 5.900, peluang technical rebound mulai terbuka. Namun jika distribusi asing kembali membesar sejak awal sesi, pasar kemungkinan akan kembali menguji area bawah.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian trader mulai memilih pendekatan bertahap dibanding agresif mengejar pantulan. Karena meski konsensus analis masih sangat bullish, arah jangka pendek BBCA saat ini masih berada dalam tekanan distribusi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.