# BEI Beberkan Alasan IPO Tahun 2026 Masih Sepi: Utamakan Kualitas > BEI mencatat baru tujuh perusahaan IPO dengan dana Rp2,16 triliun hingga Juli 2026, namun bursa kini fokus kejar kualitas fundamental calon emiten. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan saat ini masih terdapat empat perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham BEI ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-13 10:55:00 - Author: Desty Luthfiani - Editor: Hutama Prayoga - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/bei-beberkan-alasan-ipo-tahun-2026-masih-sepi-utamakan-kualitas - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/bei-beberkan-alasan-ipo-tahun-2026-masih-sepi-utamakan-kualitas.md ## Financial Entities - Stock Code: AADI - Stock Name: Adaro Andalan Indonesia Tbk. - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 memang belum seramai beberapa tahun terakhir. Hingga 10 Juli 2026, baru tujuh perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Meski demikian, BEI menegaskan kondisi tersebut bukan berarti minat perusahaan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan menurun. Bursa justru melihat masih banyak perusahaan yang tengah mempersiapkan diri untuk melantai di pasar modal. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan saat ini masih terdapat empat perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham BEI. Pipeline merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani proses menuju pencatatan saham di Bursa, mulai dari tahap persiapan, evaluasi dokumen, hingga proses perizinan sebelum resmi melakukan IPO. "Dari sisi pipeline, masih terdapat 4 perusahaan yang sedang dalam proses pencatatan saham di BEI," kata Saidu dalam keterangan tertulisnya dikutip Senin, 13 Juli 2026. Dari sisi ukuran perusahaan, pipeline tersebut terdiri atas dua perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar dan dua perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp250 miliar. Tidak terdapat perusahaan beraset skala menengah dalam antrean IPO saat ini. Sementara berdasarkan sektor usaha, perusahaan kesehatan atau healthcare mendominasi pipeline IPO dengan dua calon emiten. Sisanya berasal dari sektor basic materials dan consumer non-cyclicals yang masing-masing menyumbang satu perusahaan. Menurut Saidu, apabila dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, jumlah IPO pada tahun ini memang lebih sedikit. Namun, BEI tidak mengukur keberhasilan pasar modal semata-mata dari banyaknya perusahaan yang melantai di Bursa maupun besarnya dana yang berhasil dihimpun. "Jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kegiatan penghimpunan dana melalui pasar modal, khususnya IPO, memang lebih sedikit pada tahun ini. Namun, kami tidak menilai keberhasilan kami hanya berdasarkan nilai nominal dari kegiatan penghimpunan dana," ujarnya. Ia menambahkan, Bursa lebih mengedepankan kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal. Penilaian tersebut mencakup fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang baik, hingga kesiapan perusahaan menjalankan kewajiban sebagai emiten setelah resmi tercatat di Bursa. "Kami tidak melihat keberhasilan pasar perdana hanya dari jumlah transaksi atau nilai dana yang dihimpun, melainkan lebih kepada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal, baik dari sisi fundamental, tata kelola, maupun kesiapannya menjadi perusahaan terbuka," kata Saidu. ## Minat Perusahaan Masih Tinggi BEI menilai minat perusahaan terhadap pasar modal sejatinya masih tinggi. Hal tersebut tercermin dari aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen lain di luar IPO. Hingga 10 Juli 2026, tercatat telah diterbitkan 109 emisi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 59 penerbit dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp100,12 triliun. Selain itu, masih terdapat 12 emisi dari 11 penerbit yang berada dalam pipeline EBUS. Mayoritas berasal dari sektor infrastruktur sebanyak lima perusahaan, diikuti sektor energi sebanyak tiga perusahaan, basic materials sebanyak dua perusahaan, serta consumer non-cyclicals sebanyak 1 perusahaan. Di sisi aksi korporasi lainnya, hingga periode yang sama terdapat empat perusahaan tercatat yang telah melaksanakan rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. BEI juga masih mencatat terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang sedang berada dalam pipeline rights issue. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan calon emiten, BEI terus memperkuat ekosistem IPO melalui penyempurnaan regulasi dan pendampingan kepada perusahaan. Salah satunya dilakukan melalui perubahan Peraturan Bursa Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang mulai berlaku pada Maret 2026 sebagai bagian dari agenda reformasi pasar modal. Menurut Saidu, penyempurnaan regulasi tersebut bertujuan meningkatkan kualitas perusahaan tercatat, memperkuat tata kelola, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih optimal kepada investor. Selain memperbarui regulasi, BEI juga secara konsisten melakukan edukasi dan pendampingan kepada perusahaan potensial di berbagai daerah dan sektor industri melalui program Go Public Seminar, coaching clinic, masterclass, hingga pertemuan one-on-one. Bursa juga menyediakan laman Go Public sebagai pusat informasi mengenai proses dan persiapan IPO, termasuk sebagai sarana bagi perusahaan untuk melakukan diskusi awal sebelum melantai di pasar modal. "Melalui berbagai inisiatif tersebut, BEI berharap semakin banyak perusahaan memiliki kesiapan yang memadai sehingga dapat memanfaatkan momentum pasar secara optimal ketika memutuskan untuk melaksanakan IPO," ujar Saidu. Ke depan, BEI juga terus berupaya memperkuat daya saing pasar modal Indonesia sebagai destinasi penghimpunan dana dan investasi di kawasan Asia Tenggara. Menurut Saidu, upaya tersebut tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan jumlah IPO, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung perusahaan sejak tahap persiapan sebelum IPO hingga setelah menjadi perusahaan terbuka. BEI juga memperluas konektivitas dengan bursa regional melalui kerja sama dengan Singapore Exchange (SGX) dan Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX). Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas basis investor, meningkatkan visibilitas perusahaan tercatat Indonesia di tingkat global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi di kawasan.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan