KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) berpotensi kembali bergeliat pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.
Setelah sepanjang semester I 2026 baru satu perusahaan yang berhasil melantai di bursa, regulator pasar modal kini melihat setidaknya tiga calon emiten berada pada tahap paling dekat menuju pencatatan saham.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan saat ini terdapat 12 perusahaan yang masih berada dalam pipeline pencatatan saham.
Dari jumlah tersebut, satu perusahaan sektor consumer non-cyclicals telah memperoleh Persetujuan Prinsip Bursa, sementara dua perusahaan dari sektor healthcare berpotensi memperoleh persetujuan serupa dalam waktu dekat.
"Untuk pipeline saham dapat disampaikan bahwa sampai dengan hari ini ada 12 perusahaan dalam pipeline," kata Nyoman dalam pesan tertulis dikutip Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut dia, satu perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals sudah mengantongi Persetujuan Prinsip Bursa. Selain itu, dua perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan memiliki peluang besar mendapatkan persetujuan pada bulan ini.
"Terdapat satu perusahaan di sector Consumer Non-Cyclicas yang sudah mendapatan Persetujuan Prinsip Bursa dan dua perusahaan di bidang Healthcare berpotensi besar untuk mendapatkan Persetujuan Prinsip Bursa di bulan ini juga," ujarnya.
Dengan perkembangan tersebut, ketiga perusahaan tersebut diperkirakan akan menjadi emiten berikutnya yang melantai di Bursa Efek Indonesia dalam waktu dekat.
"Ketiganya berencana akan dicatatkan di akhir Juni atau awal Juli 2026," kata Nyoman.
Sementara itu, sembilan perusahaan lainnya masih berada dalam proses evaluasi dan penelaahan dokumen oleh bursa sebelum dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.
"Untuk sembilan calon emiten lain statusnya masih dalam proses evaluasi dan penelaahan dokumen," tutur dia.
Sebelumnya, BEI melaporkan jumlah perusahaan dalam antrean IPO menyusut menjadi 12 perusahaan per 5 Juni 2026 dari sebelumnya 15 perusahaan.
Pipeline IPO merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani berbagai tahapan menuju pencatatan saham di bursa. Proses tersebut mencakup penyusunan dokumen, pemeriksaan regulator, penyempurnaan laporan keuangan, hingga memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum saham dapat ditawarkan kepada publik.
Nyoman sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian perusahaan yang masih berada dalam antrean pencatatan saham masih harus menyelesaikan sejumlah persyaratan administratif dan regulasi.
"Ada yang melakukan revisi laporan keuangan menggunakan laporan keuangan terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, dan ada juga yang prosesnya masih menunggu persetujuan," ujarnya.
Dari total 12 perusahaan yang masih berada dalam pipeline IPO, delapan perusahaan merupakan perusahaan beraset besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Sementara empat perusahaan lainnya masuk kategori aset menengah dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Berdasarkan sektor usaha, antrean IPO saat ini didominasi perusahaan consumer cyclicals dan healthcare yang masing-masing berjumlah tiga perusahaan atau sekitar 25 persen dari total pipeline. Selanjutnya terdapat dua perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals dan dua perusahaan dari sektor infrastruktur yang masing-masing menyumbang sekitar 16,7 persen.
Adapun sektor keuangan dan teknologi masing-masing diwakili satu perusahaan atau sekitar 8,3 persen dari total perusahaan yang masih berada dalam antrean pencatatan saham.
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, proses IPO tahun ini memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian ekonomi global membuat banyak perusahaan memilih lebih berhati-hati dalam menentukan waktu pelaksanaan penawaran umum.
Hingga awal Juni 2026, baru satu perusahaan yang berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA). Emiten tersebut resmi melantai di bursa pada 10 April 2026 dengan harga penawaran Rp168 per saham dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp0,30 triliun.(*)