KABARBURSA.COM - Reli yang terjadi di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan tengah hari Selasa, 9 Juni 2026, tidak diikuti dengan aktivitas asing. Meskipun saham-saham perbankan terlihat berada di zona hijau, namun aktivitasnya mencatatkan buang besar yang tidak bisa diabaikan.
IHSG melonjak 4,82 persen hingga mendekati level 5.600. Begitu pula dengan saham-saham perbankan, menjadi motor utama penguatan indeks. BBCA naik 4,12 persen ke Rp5.050, BMRI melesat 6,47 persen ke Rp3.950, dan BBRI menguat 6,56 persen ke Rp2.760.
Kenaikan ini justru menjadi kesempatan bagi asing untuk “kabur”. BBRI mencatat nilai jual bersih asing sebesar Rp266,43 miliar dengan volume mencapai 100,90 juta saham. BBCA menyusul dengan net foreign sell Rp279,62 miliar dan volume 56,86 juta saham.
BMRI pun demikian, mencatat penjualan bersih asing terbesar senilai Rp286,97 miliar dengan volume 76,05 juta saham.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, polanya tidak muncul secara tiba-tiba.
BBCA: Distribusi Asing Berlangsung Beruntun
BBCA paling konsisten mengalami tekanan jual investor asing dalam beberapa pekan terakhir. Pada 8 Juni, asing membukukan net sell Rp489,11 miliar setelah sehari sebelumnya mencatat penjualan yang jauh lebih besar mencapai Rp1,10 triliun.
Tekanan jual juga terlihat pada 4 Juni sebesar Rp463,67 miliar dan 3 Juni Rp686,16 miliar. Bahkan pada 29 Mei, dana asing yang keluar dari BBCA mencapai Rp1,96 triliun. Ini menjadi distribusi terbesar dalam periode tersebut.
Dalam rentang 20 Mei hingga 8 Juni, hanya dua hari BBCA mencatat net foreign buy, yaitu pada 25 Mei sebesar Rp82,15 miliar dan 18 Mei sebesar Rp107,16 miliar. Selebihnya, investor asing lebih banyak melakukan distribusi.
Meski demikian, harga BBCA mampu bangkit pada perdagangan hari ini dengan dibuka di Rp4.850, sempat menyentuh Rp5.100 dan ditutup sesi siang di Rp5.050 atau naik 4,12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing berhasil diserap oleh investor domestik.
BMRI: Tekanan Asing Lebih Konsisten
Pola yang sama juga terlihat pada BMRI. Sejak akhir Mei, investor asing hampir tidak pernah melakukan akumulasi besar.
Pada 8 Juni tercatat net sell Rp23,80 miliar, disusul Rp235,70 miliar pada 5 Juni dan Rp164,07 miliar pada 4 Juni. Setelah sempat mencatat net buy Rp72,14 miliar pada 3 Juni, asing kembali menjual Rp71,90 miliar pada 2 Juni.
Distribusi yang lebih besar terjadi pada 29 Mei sebesar Rp389,80 miliar, 26 Mei Rp225,88 miliar, 25 Mei Rp197,58 miliar, 22 Mei Rp287,86 miliar, dan 21 Mei Rp141,50 miliar.
Net buy hanya muncul pada 20 Mei sebesar Rp217,73 miliar, 19 Mei Rp14,38 miliar, dan 18 Mei Rp84,87 miliar. Artinya, arus modal asing di BMRI dalam beberapa pekan terakhir masih didominasi aksi keluar dibandingkan akumulasi.
Menariknya, harga BMRI justru melonjak 6,47 persen menjadi Rp3.950 pada perdagangan hari ini setelah dibuka di Rp3.650 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp3.980.
BBRI: Distribusi Asing Agresif
Jika dibandingkan dengan dua bank lainnya, BBRI menunjukkan pola distribusi asing yang paling agresif.
Pada 8 Juni, investor asing mencatat net sell Rp298,49 miliar. Sehari sebelumnya, tekanan jual mencapai Rp110,79 miliar, lalu Rp451,67 miliar pada 4 Juni dan Rp427,54 miliar pada 3 Juni.
Distribusi terbesar terjadi pada 29 Mei ketika asing melepas saham BBRI senilai Rp738,04 miliar. Sebelumnya juga tercatat net sell Rp264,43 miliar pada 26 Mei, Rp145,92 miliar pada 21 Mei, Rp221,01 miliar pada 20 Mei, serta Rp99,53 miliar pada 19 Mei.
Di tengah dominasi penjualan tersebut, terdapat beberapa hari akumulasi seperti 25 Mei dengan net buy Rp147,10 miliar, 22 Mei Rp6,87 miliar, dan 18 Mei Rp52,22 miliar. Namun nilainya relatif kecil dibandingkan tekanan jual yang terjadi.
Meski asing terus melepas sahamnya, BBRI justru menjadi salah satu saham dengan performa terbaik di sesi siang. Harga melonjak 6,56 persen ke Rp2.760 setelah dibuka di Rp2.540.
Domestik Penyangga Reli
Fenomena hari ini memperlihatkan kontras yang menarik. Ketika investor asing memilih merealisasikan keuntungan di saham-saham perbankan besar, investor domestik justru tampil sebagai pembeli utama sehingga mampu menjaga momentum kenaikan harga.
Pola distribusi yang sudah berlangsung sejak akhir Mei mengindikasikan bahwa aksi jual asing lebih banyak dipengaruhi oleh strategi rebalancing portofolio dan pengelolaan risiko di tengah ketidakpastian global, bukan karena memburuknya fundamental sektor perbankan nasional.
Apalagi, sentimen kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen berpotensi menjaga margin bunga bersih (NIM) perbankan sekaligus meningkatkan daya tarik aset berbasis rupiah. Hal tersebut menjelaskan mengapa tekanan jual asing belum mampu menghentikan reli harga saham BBCA, BMRI, maupun BBRI.
Jika aliran dana domestik tetap kuat dan sentimen makroekonomi membaik, ketiga big banks tersebut masih berpeluang menjadi penopang utama pergerakan IHSG, meski investor asing masih memilih berada di sisi penjual.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.