# Duo Bank Pelat Merah Diborong UBS Sekuritas (AK) Pekan ini, BBCA Justru Dilepas > Berdasarkan data Stockbit reguler 6-10 Juli 2026, UBS Sekuritas borong saham BMRI dan BBRI Sikap berbeda justru ditunjukkan UBS Sekuritas terhadap saham bank swasta terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) usai didistribusi oleh broker AK ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-11 12:00:00 - Author: Hutama Prayoga - Editor: Hutama Prayoga - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/duo-bank-pelat-merah-diborong-ubs-sekuritas-ak-pekan-ini-bbca-justru-dilepas - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/duo-bank-pelat-merah-diborong-ubs-sekuritas-ak-pekan-ini-bbca-justru-dilepas.md ## Financial Entities - Stock Code: BBCA - Stock Name: Bank Central Asia Tbk. - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – Broker UBS Sekuritas Indonesia atau AK terpantau aktif melakukan transaksi beli pada saham-saham perbankan pelat merah sepanjang pekan ini periode 6 hingga 10 Juli 2026. Berdasarkan data pasar reguler yang dihimpun dari Stockbit, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menduduki posisi teratas sebagai saham yang paling banyak diburu oleh UBS Sekuritas dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp151,5 miliar. Sepanjang pekan, broker ini mengumpulkan 375,6 ribu lot saham BMRI dengan harga pembelian rata-rata di level Rp4.025 per lembar saham. Aksi borong saham juga menyasar bank BUMN lainnya, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). UBS Sekuritas mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp151,1 miliar untuk 541 ribu lot saham BBRI pada harga rata-rata Rp2.790. Selain duo bank pelat merah, tiga saham lain yang masuk dalam lima besar UBS Sekuritas pekan ini adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp61,1 miliar dengan 25,5 ribu lot di harga Rp24.093 Selanjutnya ada juga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang diborong oleh UBS Sekuritas sebesar Rp35,1 miliar atau 471,2 ribu lot di harga Rp742. Melengkapi lima besar pembelian, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga diakumulasi UBS Sekuritas dengan nilai Rp33,5 miliar atau 187 ribu lot dengan harga Rp1.845. ## BBCA dan MAPI Ramai Dijual Sikap berbeda justru ditunjukkan UBS Sekuritas terhadap saham bank swasta terbesar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Broker ini menjadikannya sebagai target jual bersih utama dengan nilai pelepasan mencapai Rp133,9 miliar atau setara 212,1 ribu lot saham. Posisi kedua saham yang paling banyak dilepas adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan nilai jual bersih Rp128,7 miliar, diikuti oleh PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp109,2 miliar. Menutup daftar lima saham yang paling banyak dijual, terdapat saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan nilai penjualan bersih Rp101,4 miliar dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) senilai Rp54,8 miliar. ## Rapor Sepekan BEI: IHSG Melesat, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat data perdagangan saham selama sepekan periode 6—10 Juli 2026 ditutup mayoritas positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan hampir satu persen. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan IHSG selama pekan ini bergerak positif setelah naik sebesar 0,83 persen. "Sehingga ditutup pada level 5.924,360 dari 5.875,780 pada pekan sebelumnya," ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026? Kapitalisasi pasar BEI juga ikut terkerek menjadi Rp10.340 triliun selama sepekan. Kautsar bilang, angka ini naik 0,51 persen dari Rp10.287 triliun pada penutupan pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa selama sepekan turut melonjak sebanyak 29,69 persen menjadi 1,87 juta kali transaksi dibanding pekan lalu yang sebesar 1,44 juta kali transaksi. "Rata-rata volume transaksi harian bursa meningkat sebesar 16,83 persen menjadi 20,49 miliar lembar saham dari 17,54 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya," jelas Kautsar. Namun begitu, rata-rata nilai transaksi harian bursa selama sepekan mengalami penurunanmenjadi Rp10,27 triliun atau menyusut 8,88 persen dari Rp11,27 triliun pada pekan sebelumnya. "Adapun investor asing hari ini (Jumat, 10 Juli 2026) mencatatkan nilai jual bersih Rp421,70 miliar dan sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp76,15 triliun," pungkasnya. ## Anindya Bakrie Optimistis Fundamental Ekonomi Dorong IHSG Cetak Rekor Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah maupun pasar saham. Menurutnya, konsistensi fundamental tersebut akan menjadi faktor utama yang mengembalikan kepercayaan investor sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali mencetak level tertinggi dalam beberapa tahun mendatang. Menanggapi berbagai peringatan dari lembaga indeks global terhadap Indonesia, Anindya mengatakan setiap kritik perlu diterima sebagai masukan. Namun, menurutnya, penilaian terhadap kondisi ekonomi nasional harus tetap didasarkan pada data fundamental, bukan semata-mata sentimen pasar. "Setiap berita, setiap kritikan harus kita lihat dengan saksama. Kita harus terima, tapi juga kita mesti melihat faktanya," kata Anindya. Ia menilai arah fundamental ekonomi Indonesia masih positif. Selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi rata-rata bertahan di kisaran 5 persen dengan inflasi sekitar 1 persen hingga 2 persen. Selain itu, pada kuartal I juga tercipta sekitar 800.000 lapangan kerja baru, disertai berbagai upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan energi. Meski begitu, Anindya mengakui kondisi ekonomi global membuat pasar keuangan sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha perlu menjaga kepercayaan pelaku pasar. "Dunia ini sangat terkoneksi. Bukan hanya terkoneksi, tapi terekspos. Sehingga patut sama-sama, baik pemerintah maupun dunia usaha, menjaga kepercayaan ini, yang suka tidak suka akan terlihat di nilai tukar dan akan terlihat di pasar modal," ujarnya. Menurut Anindya, pengalaman berbagai krisis menunjukkan persepsi pasar pada akhirnya akan mengikuti kekuatan fundamental suatu negara. "Ketika pasar melihat fundamentalnya terus konsisten, dan itu kita fokusnya ke sana, ke fundamental, nanti pada saatnya persepsi justru berbalik," katanya. Optimisme tersebut, lanjut Anindya, juga tercermin dari pelaku usaha di berbagai daerah. Berdasarkan kunjungannya ke 38 provinsi, pelaku usaha masih tetap melakukan investasi meski ekspansi dilakukan lebih selektif. "Mereka tentunya juga waspada, tapi mereka masih investing. Mereka melakukan capital expenditure dan ini menandakan bahwa perekonomian kita masih dipercaya," ujarnya. Atas dasar itu, Anindya optimistis pasar saham Indonesia akan kembali menguat dalam jangka menengah. "Saya bisa mengatakan begini, dalam jangka waktu tiga tahun, indeks bukan hanya kembali normal, akan lebih daripada sebelumnya. Kenapa? Karena fundamentalnya besar," katanya. (*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan