Logo
>

Emas Jatuh ke Titik Terendah 2 Bulan, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Fokus pasar bergeser dari geopolitik menuju data ekonomi Amerika Serikat.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Emas Jatuh ke Titik Terendah 2 Bulan, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Ilustrasi harga emas dunia anjlok. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia bergerak di level terendah dalam dua bulan pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026 waktu New York. Koreksi harga emas ini terjadi seiring memudarnya harapan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya perhatian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat yang akan segera dirilis.

Berdasarkan data Trading Economics dan TradingView pada Rabu, 10 Juni 2026, harga emas spot berada di kisaran USD4.235 hingga USD4.297 per troy ons. Posisi tersebut mencerminkan koreksi sekitar 9 persen hingga 10 persen dari rekor tertinggi yang sempat dicapai sebelumnya.

Sementara itu, kontrak emas berjangka Comex untuk pengiriman Agustus 2026 bergerak melemah tipis ke level USD4.357 per troy ons seiring investor mengurangi eksposur menjelang sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat.

Melansir Reuters, Selasa, 9 Juni 2026, harga emas sempat pulih dari level terendah dua bulannya setelah penurunan harga minyak mentah akibat meredanya ketegangan antara Iran dan Israel. Namun penguatan tersebut terbatas karena pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Perhatian investor kini tertuju pada data inflasi atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data tersebut dipandang sebagai petunjuk penting untuk membaca arah suku bunga AS pada sisa tahun ini.

Harapan Pemangkasan Suku Bunga Memudar

Tekanan terhadap emas semakin besar setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi ekonomi yang masih kuat.

Melansir Reuters dan Trading Economics, 9 Juni 2026, kuatnya data tenaga kerja mendorong pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi kebijakan moneter. Pasar kini menilai peluang pemangkasan suku bunga pada tahun ini semakin kecil dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Data CME FedWatch yang dikutip Trading Economics pada Selasa, 9 Juni 2026, menunjukkan pelaku pasar semakin agresif menaikkan taruhan terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun.

Di saat yang sama, Goldman Sachs menggeser proyeksi pemangkasan suku bunga dari 2026 menjadi 2027. Menurut lembaga investasi tersebut, aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja AS yang masih solid membuat tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama.

Selain faktor suku bunga, emas juga kehilangan sebagian dukungan dari sentimen safe haven. Melansir Reuters, Selasa, 9 Juni 2026, meredanya ketegangan antara Iran dan Israel mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai yang sebelumnya menopang reli emas.

Meski demikian, sejumlah pelaku pasar masih melihat adanya faktor pendukung jangka panjang. Data pasar yang dihimpun TradingView menunjukkan bank-bank sentral global tetap menjadi pembeli bersih emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Sementara itu, pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 99,704 pada perdagangan Selasa, sementara yield Treasury tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,54 persen.

Koreksi tipis pada dolar dan yield membantu menahan pelemahan emas yang lebih dalam. Namun, pasar masih memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS.

Bagi investor Indonesia, pelemahan harga emas global berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas fisik di dalam negeri. Pada Selasa, 9 Juni 2026, harga emas batangan Antam berada di level Rp2.733.000 per gram sebelum pajak.

Di pasar saham, koreksi harga emas dunia juga dapat memengaruhi sentimen terhadap emiten pertambangan emas seperti ANTM, MDKA, dan ARCI, terutama jika data inflasi AS memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Dengan meredanya dukungan dari faktor geopolitik, pasar emas kini memasuki fase baru yang lebih dipengaruhi oleh inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data CPI yang akan dirilis dalam waktu dekat diperkirakan menjadi penentu utama arah harga emas pada perdagangan berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.