KABARBURSA.COM – Meski sempat ditekan aksi jual asing yang cukup besar, namun saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil menutup pekan di zona hijau. Walau begitu, saham bank pelat merah ini masih bergerak sideways.
Pada perdagangan 22 Mei 2026, BBRI ditutup menguat 30 poin atau 0,99 persen ke level 3.050. Penguatan itu muncul setelah saham sempat bergerak melemah selama beberapa hari sebelumnya. Volume perdagangannya tercatat mencapai 1,58 juta lot dengan nilai transaksi Rp479,44 miliar. Frekuensi transaksi berada di level 30.480 kali.
Meski harga saham berhasil menguat tipis, tekanan asing sebenarnya masih cukup terasa sepanjang pekan. Data perdagangan memperlihatkan net foreign sell besar terjadi pada 20 Mei sebesar Rp221,01 miliar. Tekanan asing juga muncul pada 21 Mei dengan penjualan bersih Rp145,92 miliar.
Sementara pada 19 Mei, asing melepas saham BBRI senilai Rp99,53 miliar. Jika diakumulasi, total net foreign sell dalam tiga hari perdagangan mencapai sekitar Rp466 miliar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa investor asing masih melakukan reposisi terhadap saham perbankan besar Indonesia di tengah ketidakpastian pasar global. Menariknya, BBRI justru berhasil mencatat net foreign buy Rp6,87 miliar pada perdagangan terakhir.
Angka itu memang belum terlalu besar dibanding tekanan sebelumnya. Namun pasar mulai membaca adanya upaya penyerapan jual di area bawah setelah saham beberapa kali gagal turun lebih dalam dari level 3.000.
BBRI Bergerak Sideways Setelah Gagal Bertahan di 3.100
Pergerakan BBRI selama sepekan memperlihatkan pola konsolidasi dengan tekanan jual yang masih cukup dominan. Pada 18 Mei, saham ditutup di level 3.060 setelah turun 1,92 persen. Tekanan berlanjut pada 19 Mei ketika harga kembali turun ke 3.040.
Perdagangan 20 Mei bergerak lebih datar dengan penutupan tetap di level 3.040. Lalu pada 21 Mei, saham kembali melemah ke 3.020 sebelum akhirnya rebound tipis ke 3.050 pada perdagangan terakhir.
Area 3.000 mulai menjadi zona pertahanan penting bagi BBRI. Setiap kali harga mendekati area bawah tersebut, buyer mulai kembali masuk menyerap tekanan jual. Meski begitu, saham ini juga belum menunjukkan momentum kuat untuk keluar dari fase konsolidasi. Karena sepanjang pekan, BBRI terlihat kesulitan bertahan di atas area 3.100.
Pasar kini mulai menunggu arah berikutnya dari sektor perbankan besar setelah tekanan asing mulai menyebar ke sejumlah saham bank berkapitalisasi jumbo.
Laba Bersih Q1 2026 Tembus Rp15,63 Triliun
Di tengah pergerakan saham yang masih fluktuatif, kinerja fundamental BBRI justru masih menunjukkan pertumbuhan cukup kuat.
Pada kuartal pertama 2026, BBRI membukukan laba bersih sebesar Rp15,63 triliun. Angka tersebut tumbuh 13,8 persen secara tahunan dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan penyaluran kredit dan pendapatan bunga bersih. Total kredit yang disalurkan BBRI mencapai Rp1.562 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan.
Sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income naik 11,9 persen menjadi Rp40,15 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas pembiayaan BBRI masih cukup agresif di tengah kondisi ekonomi domestik yang bergerak lebih selektif.
Segmen ultra mikro dan UMKM masih menjadi tulang punggung utama pertumbuhan bisnis perseroan.
Di sisi neraca, total aset BBRI meningkat menjadi Rp2.250 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Rasio kecukupan modal atau CAR juga tetap berada di level tinggi sebesar 22,9 persen.
Angka tersebut menunjukkan posisi permodalan BBRI masih sangat kuat untuk menopang ekspansi kredit ke depan.
Jumlah Investor Bertambah 18.649 SID
Di tengah tekanan jual asing, jumlah investor saham BBRI justru terus bertambah. Data kepemilikan saham April 2026 memperlihatkan jumlah investor dengan single investor identification atau SID naik sebanyak 18.649 orang dalam satu bulan.
Dengan tambahan tersebut, total investor BBRI kini mencapai 738.695 SID. Kondisi ini memperlihatkan bahwa minat investor domestik terhadap saham BBRI masih sangat besar. Meski harga saham bergerak fluktuatif, investor ritel tampaknya masih melihat BBRI sebagai salah satu saham perbankan defensif dengan fundamental kuat.
Namun ada perubahan menarik pada struktur kepemilikan sahamnya. Porsi saham publik atau free float turun menjadi 45,66 persen dengan jumlah saham publik tercatat sekitar 68,50 miliar lembar.
Pasar Masih Menunggu Arah Baru Saham Bank
Pergerakan BBRI dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase menunggu. Fundamental perusahaan memang masih kuat. Pertumbuhan laba, kredit, dan aset masih bergerak positif.
Akan tetapi tekanan dari arus keluar dana asing membuat saham perbankan besar bergerak lebih lambat dibanding ekspektasi pasar sebelumnya. Pelaku pasar global saat ini masih sangat sensitif terhadap arah suku bunga Amerika Serikat dan kondisi likuiditas internasional.
Dalam situasi seperti itu, saham bank besar biasanya menjadi instrumen pertama yang terkena dampak rotasi dana asing. Karena itu perdagangan awal pekan depan kemungkinan masih akan cukup volatile.
Jika arus jual asing mulai mengecil dan BBRI mampu bertahan di atas area 3.000, peluang rebound bertahap mulai terbuka. Namun jika tekanan asing kembali membesar, pasar kemungkinan kembali menguji area support bawah.
Meski begitu, kombinasi antara fundamental kuat, pertumbuhan investor domestik, dan posisi modal yang sehat membuat BBRI masih menjadi salah satu saham yang terus dipantau pelaku pasar jangka panjang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.