Logo
>

Hijau di Sesi Pertama, Keberuntungan HOPE Berlanjut di Sesi II?

HOPE agresif menambah kepemilikan TMMS hingga 33 persen, memicu lonjakan minat beli dan pergerakan harga yang volatil di tengah tren teknikal yang masih menguat.

Ditulis oleh Yunila Wati
Hijau di Sesi Pertama, Keberuntungan HOPE Berlanjut di Sesi II?
PT Harapan Duta Pertiwi Tbk. Foto: Dok HOPE

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Harapan Duta Pertiwi Tbk, berkode emiten HOPE, terparkir d zona hijau. Harga naik 0,85 persen dan mantap berada di posisi 238. Gerak agresif HOPE memborong saham PT Tambang Meranti Mulia Sejahtera (TMMS), diduga kuat menjadi katalis positifnya.

HOPE baru saja menambah kepemilikan atas saham TMMS dengan memborong 1,5 miliar saham baru TMMS pada harga Rp44 per lembar. Nilai transaksinya sangat fantastis, yaitu Rp66 miliar. Transaksi ini bukan sekadar penyertaan modal, melainkan perubahan struktur kepemilikan yang sangat signifikan. 

Porsi kepemilikan HOPE pada akhirnya naik dari 4,30 persen menjadi 33,06 persen, dan menempatkan TMMS sebagai kontributor yang akan semakin dominan di dalam ekosistem grup. Dengan transaksi senilai 86,24 persen dari total ekuitas konsolidasi HOPE per Juli 2025, aksi ini dikategorikan sebagai transaksi material dan afiliasi yang wajib mendapatkan persetujuan RUPS.

Dengan memborong saham TMMS, arah strategis HOPE semakin jelas. HOPE menjadi anak usaha yang bergerak di bidang kontraktor tambang, penyewaan alat berat, perdagangan komoditas, hingga layanan jetty yang jauh lebih kuat dibanding induknya. 

Ketika HOPE mencatat pendapatan Rp21,04 miliar dan rugi bersih Rp15,7 miliar per Juli 2025, TMMS justru membukukan pendapatan Rp121,72 miliar dengan laba Rp1,01 miliar. Dengan rasio seperti itu, penambahan kepemilikan bukan hanya logis, tetapi menjadi jalan tercepat bagi HOPE untuk mengubah profil kontribusi pendapatannya.

Bid Tebal, JP Morgan Borong 22,4 Ribu Lot

Pasar tampaknya membaca sinyal yang sama. Pada sesi kedua, HOPE bergerak liar dan sangat agresif. Harga menyentuh 282 di sesi pertama sebelum terkoreksi ke 246, namun tetap mencatat penguatan 4,24 persen. 

Total transaksi menembus Rp16,1 miliar dengan volume 628 ribu lot. Ada peningkatan permintaan yang tidak didorong oleh trader ritel semata. Orderbook pun mencerminkan tekanan beli yang tebal pada rentang 238–244, sementara sisi jual mulai menipis dan menjadi tanda masuknya momentum berkelanjutan.

Dari sisi broker, pola akumulasi terlihat cukup tegas. UBS Sekuritas (AK), NH Korindo Sekuritas (XA), dan JP Morgan (BK) menjadi pembeli terbesar dengan nilai masing-masing di atas Rp500 juta hingga Rp1,1 miliar. 

Di sisi lain, Indo Premier Sekuritas (PD), Trimegah Sekuritas (LG), dan Phillips Sekuritas (KK) mendominasi penjualan dengan tekanan yang relatif seimbang. Ada perpindahan kepemilikan dari pelaku jangka pendek ke investor yang lebih agresif.

Secara teknikal, HOPE berada dalam fase parabolic run. RSI bertengger pada 87, sinyal klasik overbought, tetapi bukan penanda pembalikan selama tren masih kuat. ADX yang menembus level 65 mempertegas bahwa kekuatan tren meningkat dan belum menunjukkan tanda pelemahan. 

MACD menegaskan momentum yang terus melebar, sementara indikator volatilitas ATR menunjukkan bahwa rentang pergerakan semakin luas—ciri pasar yang memasuki fase markup.

Level pivot harian memberikan gambaran area krusial. HOPE saat ini bergerak di atas pivot 224 dengan resistance kuat di 248–260. Sentimen pasar yang memaknai akuisisi TMMS sebagai katalis fundamental membuat peluang pengujian ulang ke 260–284 terbuka, meskipun volatilitas akan tetap tinggi seiring aksi ambil untung jangka pendek.

Aksi Rawan Overshooting

Jika melihat struktur perusahaan, pergerakan harga, serta sikap investor institusi, pasar tampaknya sedang memposisikan HOPE sebagai emiten yang sedang melakukan business model shift. Dari bisnis karoseri yang stagnan, HOPE mengalihkan pertumbuhan ke sektor tambang melalui TMMS. Pergeseran ini seringkali menjadi pemicu revaluasi jangka menengah.

Namun risiko tetap melekat. Aksi cepat seperti ini juga rawan overshooting, di mana harga bergerak terlalu jauh dari nilai fundamental sebelum kembali terkonsolidasi. Dengan transaksi material yang masih menunggu persetujuan RUPS, pasar masih menempatkan sebagian sentimen pada ekspektasi, bukan realisasi.

Sesi kedua hari ini memperlihatkan bahwa HOPE berada dalam fase penentuan. Jika tekanan beli tetap stabil dan broker yang sebelumnya mengakumulasi tidak melakukan pembalikan posisi, saham ini berpotensi melanjutkan reli pendeknya. Namun apabila distribusi mulai meningkat, koreksi cepat sangat mungkin terjadi mengingat indikator teknikal yang sudah berada pada zona ekstrem.

Untuk saat ini, satu hal yang jelas bahwa pasar telah memberi respons positif terhadap strategi HOPE memperbesar kepemilikan TMMS, dan pergerakan harga hari ini menjadi refleksi dari ekspektasi bahwa kontribusi bisnis tambang akan mengubah peta fundamental perseroan dalam waktu dekat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79