KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026. Pada pukul 09.00 WIB, indeks naik 34,20 poin atau 0,64 persen ke level 5.376,34.
Pada awal perdagangan, total volume transaksi mencapai 4,57 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp553,47 miliar dari 43,32 ribu transaksi.
Penguatan IHSG pada pagi ini ditopang mayoritas sektor yang bergerak positif. Sektor infrastruktur menjadi penggerak utama dengan kenaikan 2,02 persen, diikuti sektor industri yang menguat 1,24 persen dan sektor energi yang naik 1,20 persen.
Kenaikan juga terjadi pada sektor consumer non-cyclicals sebesar 0,96 persen, sektor bahan baku atau basic industry 0,90 persen, sektor kesehatan 0,88 persen, sektor consumer cyclicals 0,56 persen, sektor teknologi 0,47 persen, sektor transportasi 0,39 persen, dan sektor keuangan 0,02 persen.
Sementara itu, sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang bergerak di zona merah dengan penurunan tipis 0,11 persen.
Di jajaran saham yang mencatat kenaikan terbesar atau top gainers, posisi pertama ditempati PT Multitrend Indo Tbk (BABY) melonjak 34,62 persen ke level Rp140 per saham.
Posisi berikutnya ditempati PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), emiten jasa pendukung pelayaran dan maritim, yang naik 23,46 persen ke level Rp100.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang menguat 23,27 persen menjadi Rp2.490 per saham. Selanjutnya, PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK) naik 19,61 persen ke level Rp244.
Adapun PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK), operator rumah sakit swasta, menguat 14,75 persen ke posisi Rp700 per saham.
Di sisi lain, saham-saham yang mengalami tekanan terbesar atau top losers dipimpin PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) yang turun 15 persen ke level Rp510 per saham.
Pelemahan juga terjadi pada PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), dengan terkoreksi 14,95 persen ke posisi Rp910.
Selanjutnya, PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) melemah 14,77 persen menjadi Rp6.350 per saham. PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) turun 14,67 persen ke level Rp128. Sementara PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) terkoreksi 14,62 persen menjadi Rp444 per saham.
Prediksi IHSG Hari ini
Dalam jangka pendek, BRI Danareksa menyampaikan IHSG berpotensi melanjutkan tekanan pelemahan dengan area support di 5.200 dan resistance di 5.600.
Menurut mereka, pergerakan rupiah yang bertahan di atas Rp18.150 per dolar AS menjadi risiko utama bagi pasar, terutama jika diikuti berlanjutnya arus keluar dana asing.
"Di sisi lain, eskalasi kembali konflik Iran–Israel meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi mempertahankan sentimen risk-off di IHSG," tulisnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI meskipun fase downtrend terbentuk.
"Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume," ujar dia dalam risetnya.
Nafan menyampaikan sentimen ketegangan di kawasan Timur Tengah mereda setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump via Truth Social secara terbuka mencoba meredakan situasi ketegangan di Lebanon, dan menyerukan Israel serta militan Hizbullah untuk menghentikan "penembakan".
"Namun sejauh ini, harga Brent Oil maupun WTI masing-masing mengalami penguatan sebesar 0,82 persen dan 0,11 persen, tentunya meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan risiko terhadap fiskal negara importir energi, termasuk Indonesia," katanya.
Sementara itu sentimen pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan IHSG. Menurut Nafan, nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi dalam pada kisaran Rp18.187,5 per dolar AS memicu derasnya arus modal keluar oleh investor asing dari berbagai aset berisiko domestik.
Meskipun demikian, kata dia, sering muncul aksi short covering dan bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah oversold.
"Adapun para pelaku investor berpotensi mulai selektif masuk ke sektor dengan visibilitas laba lebih baik seperti banking, consumers, telekomunikasi, maupun komoditas yang masih ditopang harga global," terangnya. (*)