Logo
>

Kiwoom Ingatkan Terlalu Dini bilang IHSG Sudah Pulih, ini Level yang Harus Diperhatikan

Kiwoom Sekuritas menilai lonjakan IHSG 7,57 persen lebih merupakan relief rally ketimbang sinyal pemulihan pasar yang definitif.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Kiwoom Ingatkan Terlalu Dini bilang IHSG Sudah Pulih, ini Level yang Harus Diperhatikan
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengingatkan investor agar tidak terburu-buru euforia meski IHSG melonjak 7,57 persen. Level 5.900 menjadi area penting berikutnya. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 7,57 persen pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, memang memberi napas segar bagi pelaku pasar setelah tujuh pekan dihantam tekanan tanpa jeda. Namun di balik euforia tersebut, investor diingatkan untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pasar saham Indonesia telah keluar dari fase krisis.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan tajam yang terjadi lebih tepat dipandang sebagai respons terhadap kondisi oversold yang ekstrem dibandingkan sebagai sinyal pasti dimulainya tren kenaikan jangka panjang.

Menurut Liza, kenaikan yang terjadi pada perdagangan hari ini memiliki katalis yang jelas. Namun berbagai persoalan fundamental yang selama beberapa bulan terakhir membebani pasar masih belum sepenuhnya terselesaikan.

“Karena itu, kenaikan hari ini lebih tepat dipandang sebagai relief rally yang memiliki katalis jelas, tetapi belum dapat dikategorikan sebagai bukti bahwa seluruh masalah telah terselesaikan,” kata Liza dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Juni 2026.

Pandangan tersebut muncul setelah IHSG melonjak 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.722. Penguatan itu terjadi sehari setelah indeks menyentuh titik terendah tahun ini di area 5.317. Secara teknikal, menurut Kiwoom, level itu merupakan support jangka panjang yang berasal dari garis tren sejak krisis keuangan global 2008 dan terakhir terlihat saat pandemi Covid-19 pada 2020.

Meski demikian, Liza menilai masih terlalu dini untuk menyebut lonjakan tersebut sebagai titik balik definitif bagi pasar modal Indonesia. “Di sinilah investor perlu tetap realistis,” ujarnya.

Ia menjelaskan banyak saham unggulan Indonesia memang sudah masuk kategori sangat murah secara valuasi setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa bulan terakhir. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM hingga kelompok Barito menjadi motor utama penggerak rebound pada perdagangan hari ini. Namun di saat yang sama, sejumlah faktor yang memicu tekanan pasar belum berubah secara signifikan.

Rupiah masih bertahan di sekitar Rp18.000 per dolar AS setelah sempat mendekati Rp18.200 pada pagi hari. Arus keluar dana asing juga masih terjadi dengan posisi foreign net sell secara tahun berjalan mencapai Rp72,8 triliun.

Selain itu, persepsi risiko terhadap Indonesia dinilai masih tinggi. Pasar juga belum melihat adanya perbaikan outlook dari lembaga pemeringkat internasional yang dapat menjadi katalis pemulihan kepercayaan investor asing.

Liza mengungkapkan terdapat dua faktor utama yang menjadi pemicu penguatan pasar hari ini.

Faktor pertama berasal dari sinyal dukungan pemerintah terhadap pasar saham. Pasar merespons positif pertemuan mendadak antara Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dengan sejumlah institusi keuangan negara seperti Himbara, Danantara, INA, dan berbagai BUMN lainnya.

Salah satu isu yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah peluang buyback saham-saham BUMN yang selama ini menjadi korban utama tekanan pasar.

Menurut Kiwoom, yang lebih penting dari realisasi buyback adalah pesan yang diterima investor bahwa pemerintah mulai menyadari kondisi pasar saham telah memasuki fase yang mengkhawatirkan.

Faktor kedua berasal dari langkah agresif Bank Indonesia yang secara mengejutkan mempercepat jadwal rapat dan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Biasanya kenaikan suku bunga dianggap sentimen negatif bagi pasar saham. Namun kali ini respons pasar justru berbeda karena Bank Indonesia juga mengumumkan berbagai kebijakan tambahan untuk menstabilkan rupiah dan menarik kembali dana asing.

“Pesan yang diterima pasar cukup jelas. Bank Indonesia menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat Rupiah terus melemah dan outflow asing terus berlanjut,” kata Liza.

Meski penguatan hari ini terbilang impresif, Kiwoom menilai investor masih perlu mencermati sejumlah level teknikal penting sebelum menyimpulkan pasar telah benar-benar pulih.

Untuk jangka pendek, area 5.430 hingga 5.318 kini menjadi zona support utama IHSG. Sementara itu, area 5.900 menjadi target rebound pertama yang perlu ditembus apabila pasar ingin melanjutkan pemulihan yang lebih berkelanjutan. “Inilah sebabnya mengapa masih terlalu dini untuk menyebut hari ini sebagai titik balik definitif,” kata Liza.

Karena itu, strategi yang disarankan saat ini bukanlah membeli secara agresif untuk jangka panjang, melainkan melakukan akumulasi secara bertahap sambil menunggu konfirmasi arah pasar berikutnya.

“Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan buy-and-hold jangka panjang yang agresif,” jelasnya.

Meski berbagai risiko masih membayangi, Kiwoom menilai prospek jangka panjang Indonesia belum berubah. Ukuran ekonomi yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta pasar domestik yang luas masih menjadi daya tarik utama bagi investor global.

Namun untuk saat ini, pasar masih membutuhkan lebih dari sekadar rebound sehari. Investor menunggu bukti bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dan otoritas moneter benar-benar mampu memulihkan kepercayaan terhadap aset-aset Indonesia.

“Kenaikan IHSG hari ini mungkin berhasil mengurangi rasa sakit. Tetapi pasar masih menunggu bukti apakah obat yang diberikan benar-benar mampu menyembuhkan penyakitnya,” kata Liza.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).