# Lepas Saham IFT Rp11,7 Triliun, ISAT Keluar dari Bisnis Fiber? > PT Indosat Tbk (ISAT) resmi mengeksekusi divestasi besar dengan menjual 84,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi senilai Rp11,7 triliun tunai. Transaksi ini memicu pertanyaan tentang kelangsungan bisnis serat optik perseroan. Indosat mengantongi dana tunai jumbo dari penjualan 84,9 persen saham IFT ke Nusantara Fiber Teknologi, mengubah peta kepemilikan infrastruktur serat optik perseroan. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-08 13:00:00 - Author: Syahrianto - Editor: Syahrianto - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/lepas-saham-ift-rp117-triliun-isat-keluar-dari-bisnis-fiber - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/lepas-saham-ift-rp117-triliun-isat-keluar-dari-bisnis-fiber.md ## Financial Entities - Stock Code: ISAT - Stock Name: Indosat Tbk. - Exchange: Indonesia Stock Exchange ## Article **KABARBURSA.COM** – PT Indosat Tbk (ISAT) resmi mengeksekusi transaksi divestasi dengan melepas kepemilikan saham di dalam PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT). Penutupan transaksi material dan afiliasi ini ditandatangani melalui akta penandatanganan dokumen definitif pada Selasa, 30 Juni 2026. Melalui skema divestasi ini, ISAT bersama anak usahanya, PT Aplikanusa Lintasarta, menjual secara kumulatif 11.707.828 saham atau setara 84,9 persen saham dari seluruh modal ditempatkan dan disetor IFT kepada NFT selaku pembeli. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai Rp11.707.828.000.000 (Rp11,7 triliun) secara tunai. Investment Analyst Stockbit Christian William Munaba menilai langkah strategis emiten telekomunikasi ini sebagai sentimen yang positif bagi masa depan korporasi.  "Menurut kami, transaksi ini merupakan langkah positif bagi ISAT karena memungkinkan perseroan merealisasikan nilai ekonomi bisnis fiber tanpa kehilangan eksposur terhadap pertumbuhan bisnis tersebut," kata Christian dalam analisis tertulisnya dikutip Rabu, 8 Juli 2026. Christian menyebutkan bahwa lewat transaksi jumbo ini, manajemen emiten telekomunikasi tersebut sukses mengamankan posisi finansial yang solid. "ISAT memperoleh dana tunai sekitar Rp11,7 triliun serta membukukan keuntungan *one–off* sekitar Rp1,6 triliun dari dekonsolidasi IFT, di mana keuntungan tersebut setara 29 persen laba bersih ISAT selama 2025," ujarnya. ### **Mekanisme Jual Beli dan Struktur Inbreng Saham IFT** Pelepasan kepemilikan saham di dalam IFT dilakukan melalui tiga skema niaga yang terintegrasi penuh. Seluruh proses hukum disahkan menggunakan dokumen akta definitif di hadapan Notaris Buchari Hanafi, S.H. di Jakarta Selatan. Pada tahap awal, transaksi jual beli langsung mengeksekusi pengalihan saham mayoritas milik ISAT dan Lintasarta kepada NFT. Akta Pengambilalihan Nomor 97 dan Akta Jual Beli Saham Nomor 98 menjadi dasar penyerahan 84,9 persen saham IFT dengan kompensasi dana tunai Rp11,707 triliun. Langkah berikutnya diperkuat melalui Transaksi Inbreng berdasarkan Akta Pemasukan Ke Dalam Perseroan Terbatas Nomor 101. Sisa kepemilikan akumulatif sebesar 15,1 persen saham atau setara 2.083.223 lembar saham pada IFT dimasukkan sebagai bentuk penyertaan modal ke dalam NFT. Melalui skema inbreng ini, struktur kepemilikan pada NFT selaku perusahaan holding pembeli ikut berubah. PT Indosat Tbk resmi menguasai porsi kepemilikan 49,1 persen, disusul PT Aplikanusa Lintasarta sebesar 0,8 persen, sedangkan PT Ainfrastruktur Indonesia Raya bertindak selaku pemegang saham utama dengan porsi 50,1 persen. Pascatransaksi diselesaikan, kendali penuh atas perusahaan anak IFT berada di bawah naungan NFT dengan kepemilikan total 13.791.051 lembar saham. Manajemen ISAT hanya menyisakan satu lembar saham langsung, namun secara kumulatif langsung dan tidak langsung tetap memegang kendali kepemilikan efektif sebesar 49,68 persen pada IFT. Melihat pembagian sisa hak kepemilikan tersebut, Christian menekankan bahwa perseroan sejatinya tidak benar-benar meninggalkan ekosistem infrastruktur digital ini.  "ISAT tidak sepenuhnya keluar dari bisnis fiber karena perseroan tetap memiliki kepemilikan efektif 49,68 persen di IFT melalui NFT," tutur Christian. Ia menambahkan, struktur pemilikan silang pascapenjualan ini menjadi jaminan bagi aliran pendapatan sekunder emiten di masa depan. "Struktur kepemilikan ini membuat ISAT masih dapat menikmati pertumbuhan bisnis fiber di masa depan melalui bagian laba yang dicatat sebagai investasi pada asosiasi dan ventura bersama," katanya. Lebih lanjut, manajemen korporasi menyampaikan laporan keterbukaan informasi ini dalam rangka pemenuhan regulasi pasar modal yang ketat. Aksi korporasi pelepasan saham ini menyentuh dua kriteria aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus. Berdasarkan regulasi POJK Nomor 17/2020 tentang Transaksi Material, nilai investasi yang dilepas oleh perusahaan tercatat setara dengan 33,46 persen dari total nilai ekuitas ISAT. Angka ini berada di dalam batas koridor wajib reviu penilai independen karena melampaui ambang batas minimum 20 persen namun tidak sampai menyentuh 50 persen, sehingga perseroan dibebaskan dari kewajiban persetujuan RUPS. Sebagai rincian pelengkap, total nilai aset IFT tercatat hanya berkontribusi sebesar 0,1 persen terhadap aset konsolidasi ISAT. Di samping itu, unit usaha IFT juga masih membukukan pendapatan usaha senilai nol persen terhadap induk usaha karena belum mencatatkan laba bersih operasional. Di sisi lain, skema pelepasan saham ini dikategorikan sebagai Transaksi Afiliasi sesuai aturan POJK Nomor 42/2020. Hubungan afiliasi ini muncul karena Lintasarta merupakan entitas terkendali yang sahamnya dikuasai 72,36 persen oleh ISAT, ditambah adanya kesamaan jajaran pengurus di kedua perseroan. Tercatat ada empat nama pejabat teras yang menduduki posisi Direksi dan Dewan Komisaris secara bersamaan di ISAT maupun Lintasarta. Jajaran manajemen tersebut meliputi Irsyad Sahroni, Vikram Sinha, Lee Chi Hung, serta Muhammad Buldansyah. Meskipun masuk dalam kategori afiliasi, berdasarkan ketentuan Pasal 33 POJK Nomor 17/2020, emiten hanya berkewajiban memenuhi prosedur administratif yang diatur dalam aturan transaksi material. Direksi dan Dewan Komisaris memberikan jaminan penuh bahwa transaksi pelepasan aset komersial ini bersih dari unsur benturan kepentingan komparatif. Untuk menguji transparansi nilai transaksi, Kantor Jasa Penilai Publik Ruky, Safrudin & Rekan (KJPP RSR) ditunjuk sebagai penilai independen. Penilai mengeluarkan opini berbasis *non-disclaimer opinion* yang menegaskan seluruh rangkaian transaksi ini berjalan wajar. Dalam laporannya, KJPP RSR menghitung nilai pasar aset infrastruktur kabel *Fiber Optic Backbone dan Access* sepanjang ±79.565.863 meter serta Jaringan Kabel Laut sepanjang ±3.305.372 meter. Menggunakan rekonsiliasi pendekatan pendapatan dan biaya, nilai pasar seluruh aset fisik IFT dipatok sebesar Rp8,187 triliun per 7 Mei 2026. Sementara itu, untuk perhitungan nilai korporasi, penilai independen menyimpulkan nilai pasar untuk 100 persen saham IFT bertengger di angka Rp13,841 triliun. Penilai juga menetapkan nilai pasar wajar saham NFT sebesar Rp1.000.000 per lembar saham berdasarkan total modal disetor dasar senilai Rp500 juta untuk 500 lembar saham. Perubahan fundamental operasional ini dinilai berdampak baik untuk menekan beban modal perseroan. "Di sisi lain, transaksi ini juga mendorong transformasi ISAT menjadi operator telekomunikasi yang lebih *asset–light*," jelas Christian. Christian memproyeksikan efisiensi modal ISAT akan semakin kuat ke depannya berkat keterlibatan konsorsium ini. "Dengan sebagian aset infrastruktur dikelola melalui entitas bersama, ISAT berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan modal dan lebih fokus mengalokasikan investasi pada bisnis inti telekomunikasi serta layanan digital, tanpa kehilangan eksposur terhadap pertumbuhan bisnis fiber melalui kepemilikannya di NFT," ucapnya. ### **Dampak Rekayasa Finansial terhadap Posisi Keuangan Proforma** Implementasi dekonsolidasi akun keuangan IFT serta penerapan skema sewa balik (*leaseback*) serat optik membawa perubahan masif pada postur neraca interim perseroan. Simulasi proforma disusun manajemen dengan asumsi transaksi tuntas sejak periode Mei 2026. Komponen kas dan setara kas konsolidasi ISAT melonjak signifikan dari posisi historis awal senilai Rp5.758.226 juta menjadi Rp17.466.054 juta proforma. Kenaikan drastis ini dipicu oleh masuknya aliran likuiditas tunai dari hasil penjualan saham mayoritas. Penyertaan modal non-kas juga mendongkrak pos investasi jangka panjang perseroan. Akun investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama melesat dari Rp1.051.000 juta menjadi Rp3.184.819 juta, yang merepresentasikan nilai wajar relatif saham NFT hasil inbreng sebesar Rp2.133.819 juta. Di sektor aset tidak lancar, akun aset tetap ikut terkoreksi naik menjadi Rp80.521.336 juta dari posisi historis sebesar Rp78.422.343 juta. Penambahan ini disumbang oleh pengakuan aset hak-guna baru dari transaksi sewa balik infrastruktur serat optik senilai Rp2.098.993 juta. Secara total, jumlah aset konsolidasian ISAT naik dari Rp125.967.087 juta menjadi Rp138.691.476 juta. Namun, transaksi sewa balik ini konsekuensinya mengerek pos liabilitas atau utang jangka panjang perseroan. Kewajiban sewa baru dari IFT membuat pos liabilitas sewa jangka pendek merangkak naik menjadi Rp7.924.155 juta, sedangkan liabilitas sewa jangka panjang membengkak ke posisi Rp44.699.951 juta. Total liabilitas konsolidasi proforma ISAT tercatat berada di level Rp99.593.927 juta. Pada bagian ekuitas, saldo laba yang belum dicadangkan ikut terkerek naik menjadi Rp16.970.873 juta. Hal ini sejalan dengan keberhasilan emiten membukukan keuntungan bersih pelepasan investasi senilai Rp1.645.152 juta, setelah disesuaikan dengan biaya transaksi senilai Rp289.568 juta. Alhasil, Laba Periode Berjalan Proforma ISAT bertambah tebal menjadi Rp3.342.001 juta. Lonjakan likuiditas pada neraca proforma ini memberikan keleluasaan penuh bagi manajemen untuk menentukan arah kebijakan dividen maupun ekspansi. "Pasca–transaksi, posisi kas ISAT diperkiraan meningkat hampir 3x lipat menjadi sekitar Rp17,4 triliun," urai Christian. Christian menilai melimpahnya cadangan kas operasional tersebut membuka ruang bagi realisasi keuntungan pemegang saham retail dalam waktu dekat. "Peningkatan posisi kas ini memberikan fleksibilitas bagi manajemen ISAT dalam mengalokasikan modal, baik dalam melakukan capex maupun potensi pembagian spesial dividen," pungkasnya.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan