KABARBURSA.COM — Pasar saham Amerika Serikat kompak ambruk. Bukan semata karena perang Iran, tapi karena satu hal yang lebih menakutkan bagi investor. Inflasi yang sudah mengintai bahkan sebelum konflik meledak.
Pada Jumat, 20 Maret 2026 WIB, indeks utama Wall Street berguguran. Dilansir dari AP, S&P 500 turun 1,4 persen dan langsung berbalik merugi dalam sepekan. Dow Jones ambles 768 poin atau 1,6 persen. Nasdaq tak kalah terpukul dengan penurunan 1,5 persen.
Tekanan makin dalam setelah bank sentral Amerika Serikat memilih menahan suku bunga. Harapan pasar untuk pemangkasan suku bunga yang selama ini jadi “obat penenang” investor mendadak memudar. Ketua The Fed Jerome Powell bahkan memberi sinyal ketidakpastian yang lebih besar.
“Kami benar-benar tidak tahu,” kata Powell soal arah harga minyak dan dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi pasar, itu alarm keras. Artinya arah kebijakan moneter kini berjalan dalam kabut.
Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama kegelisahan pasar. Harga minyak Brent melonjak dari sekitar USD70 atau Rp1,18 juta per barel sebelum perang menjadi USD107,38 atau sekitar Rp1,81 juta. Minyak mentah Amerika bahkan sempat mendekati USD99 atau Rp1,67 juta sebelum ditutup di USD96,32 atau sekitar Rp1,63 juta.
Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Konflik di Timur Tengah mulai mengganggu industri energi di kawasan Teluk Persia. Iran bahkan memberi sinyal akan memperluas serangan. Televisi pemerintah Iran melaporkan negara itu akan menyerang infrastruktur minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sebagai respons atas serangan terhadap fasilitas gas South Pars.
Jika gangguan ini berlangsung lama, dampaknya bukan hanya harga energi. Tapi bisa menjalar menjadi gelombang inflasi global yang lebih besar.
Inflasi Sudah Panas Sebelum Perang
Yang membuat pasar makin panik, tekanan inflasi ternyata sudah muncul bahkan sebelum perang dimulai. Data terbaru menunjukkan inflasi tingkat produsen di Amerika naik menjadi 3,4 persen bulan lalu. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi ini membuat The Fed memilih bertahan. Menurunkan suku bunga memang bisa mendorong ekonomi dan pasar saham. Tapi di sisi lain, langkah itu berisiko memperparah inflasi.
Hasil voting di internal The Fed pun menunjukkan mayoritas masih berhati-hati. Sebanyak 11 anggota memilih menahan suku bunga, hanya satu yang mendukung penurunan.
Powell mengakui selama ini The Fed cenderung mengabaikan lonjakan harga minyak jika sifatnya sementara. Tapi kali ini situasinya berbeda. Jika ekspektasi inflasi ikut melonjak, kebijakan tersebut tidak lagi relevan.
Sejumlah pejabat The Fed bahkan memangkas proyeksi penurunan suku bunga tahun ini dari dua kali menjadi satu kali. Dampaknya langsung terasa di pasar. Pelaku pasar kini hanya melihat peluang 49 persen untuk pemangkasan suku bunga tahun ini. Padahal sebulan lalu probabilitasnya masih 95 persen.
Obligasi Naik, Emas Ikut Jatuh
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika menjadi efek lanjutan. Yield obligasi 10 tahun naik ke 4,26 persen dari sebelumnya 4,20 persen. Bahkan sebelum perang, levelnya masih di 3,97 persen. Kenaikan ini menekan hampir semua aset. Saham, kripto, hingga emas ikut terpukul.
Harga emas turun 2,2 persen ke USD4.896,20 atau sekitar Rp82,74 juta per ons. Angka ini bahkan lebih rendah dibanding saat awal perang. Padahal selama ini emas dikenal sebagai aset aman saat krisis. Tapi ketika obligasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, emas mulai ditinggalkan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.