# Menyelisik Tujuan SAME Tarik Utang Jumbo Rp4 Triliun, Perhatikan Hal ini > SAME mengumumkan perolehan fasilitas kredit sindikasi bernilai fantastis mencapai Rp4 triliun dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Langkah penarikan utang jumbo ini dilakukan SAME bersama dengan tujuh anak perusahaannya yang bertindak sebagai co-borrowers. PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) amankan fasilitas kredit Rp4 triliun. Simak analisis alokasi dana, likuiditas, dan beban anak usahanya. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-08 21:00:00 - Author: Syahrianto - Editor: Syahrianto - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/menyelisik-tujuan-same-tarik-utang-jumbo-rp4-triliun-perhatikan-hal-ini - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/menyelisik-tujuan-same-tarik-utang-jumbo-rp4-triliun-perhatikan-hal-ini.md ## Article **KABARBURSA.COM** – Emiten pengelola jaringan rumah sakit swasta EMC Healthcare, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), mengambil langkah finansial yang sangat agresif di paruh kedua tahun ini. Perseroan secara resmi mengumumkan telah mengamankan fasilitas kredit dalam jumlah fantastis, yakni mencapai Rp4 triliun.  Berdasarkan laporan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), penandatanganan fasilitas pinjaman jumbo tersebut resmi dieksekusi pada Senin, 6 Juli 2026.  Nominal Rp4 triliun bukanlah angka yang kecil untuk ukuran struktur permodalan emiten pelayanan kesehatan. Guna memahami arah kebijakan korporasi ini, publik perlu mencermati detail alokasi penggunaan dana serta kondisi neraca keuangan perseroan saat ini. Jika menilik posisi keuangan konsolidasian interim SAME per 31 Maret 2026, urgensi penambahan likuiditas ini menjadi sangat rasional. Meskipun aset lancar perusahaan tumbuh menjadi Rp544,31 miliar, posisi kas dan bank internal perseroan sebenarnya hanya tercatat sebesar Rp174,19 miliar. Sebagian besar kas tersebut ditempatkan di PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp128,26 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp17,77 miilar.  Di sisi lain, SAME dihadapkan pada pos piutang usaha neto dari pihak ketiga yang cukup masif, yaitu mencapai Rp252,87 miliar, di mana Rp44,19 miliar di antaranya telah jatuh tempo lebih dari 90 hari sehingga memaksa manajemen melakukan penyisihan penurunan nilai sebesar Rp7,24 miliar.  Sementara itu, total aset tidak lancar perseroan didominasi oleh aset tetap neto senilai Rp4,18 triliun dan pos goodwill dari akuisisi strategis sebesar Rp449,24 miliar. Tekanan utama yang paling menguras arus kas operasional SAME berasal dari struktur liabilitas jangka pendeknya yang mencapai Rp1 triliun, atau setara 63,6 persen dari total liabilitas yang sebesar Rp1,57 triliun per akhir Maret 2026.  Perseroan diwajibkan melunasi utang bank jangka pendek sebesar Rp276,00 miliar, termasuk fasilitas dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) senilai Rp176,00 miliar, ditambah bagian pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp406,23 miliar. Dengan total kewajiban perbankan yang segera jatuh tempo mencapai Rp682,23 miilar dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, kapasitas kas internal yang hanya Rp174,19 miliar tentu tidak lagi memadai.  Oleh karena itu, fasilitas kredit baru senilai Rp4 triliun ini hadir sebagai solusi krusial untuk menyegarkan kembali struktur permodalan perusahaan. ### **Anak Usaha dan Peta Alokasi Dana Strategis** Satu hal krusial yang wajib diperhatikan adalah penarikan fasilitas kredit senilai Rp4 triliun ini tidak ditanggung oleh perseroan secara tunggal. Dalam dokumen resmi, Corporate Secretary SAME, Rahmiyati Yahya, menyatakan bahwa perseroan maju bersama-sama dengan tujuh anak perusahaannya.  “Ketujuh anak usaha tersebut secara legal bertindak sebagai *co-borrowers* atau para debitur bersama yang ikut mengikatkan diri dengan pihak perbankan pada Rabu, 8 Juli 2026,” ungkap dia dalam dokumen dikutip, Rabu, 8 Juli 2026. Jaringan entitas yang masuk ke dalam pusaran fasilitas kredit jumbo ini meliputi PT Sarana Meditama International (SMI) yang mengelola RS EMC Alam Sutera dengan aset Rp1,32 triliun, PT Elang Medika Corpora (EMC) dengan aset Rp1,41 triliun, PT Kurnia Sejahtera Utama (KSU) pemilik RS EMC Pekayon dengan aset Rp357,53 miliar, serta PT Sarana Meditama Anugerah (SMA) pengelola RS EMC Cikarang dengan aset Rp308,86 miliar.  Selain itu, terdapat PT Unggul Pratama Medika (UNPM), PT Utama Pratama Medika (UTPM), PT Sinar Medika Sejahtera (SMS), hingga emiten rumah sakit PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK) dengan aset Rp1,07 triliun yang baru saja didivestasi sebagian sahamnya oleh SAME menjadi kepemilikan 77,31 persen. Strategi *joint-borrowing* atau pembagian beban bersama ini sengaja diterapkan untuk memaksimalkan kapasitas pinjaman serta memberikan tingkat keyakinan yang lebih tinggi bagi pihak bank pemberi pinjaman.  Dalam transaksi ini, korporasi menggandeng dua institusi perbankan swasta terbesar sebagai mitra penyedia dana, yaitu Bank CIMB Niaga dan Bank OCBC NISP.  “Kehadiran fasilitas baru ini sekaligus akan merestrukturisasi komitmen agunan lama, mengingat sebelumnya tanah dan bangunan milik UNPM telah dijaminkan senilai Rp150,00 miliar ke Bank CIMB Niaga, sementara aset tanah dan bangunan milik SAME beserta SMI, SMA, dan KSU diikat agunan fantastis senilai Rp1,42 triliun di Bank HSBC Indonesia,” tulis manajemen. Manajemen SAME telah menggarisbawahi tiga pilar utama alokasi dana dari fasilitas kredit Rp4 triliun tersebut. Pertama, dana segar akan dialokasikan untuk keperluan pendanaan kembali atau *refinancing* atas kewajiban utang lama perseroan. Langkah ini diharapkan mampu memangkas beban keuangan dan bunga yang pada kuartal pertama tahun ini saja sudah menguras laba perusahaan hingga Rp19,34 miliar.  Kedua, modal ditujukan untuk membiayai investasi dan belanja modal (*capital expenditure*) demi modernisasi alat medis berteknologi tinggi serta ekspansi fisik gedung rumah sakit EMC.  Ketiga, sisa dana pinjaman akan diserap untuk mendukung kebutuhan modal kerja harian perseroan bersama anak usaha guna mengoptimalkan operasional medis, pengelolaan obat-obatan, serta mendongkrak performa laba bersih masa depan.  Maklum, per Maret 2026, meski pendapatan SAME tumbuh 8,66 persen menjadi Rp479,09 miliar, lonjakan beban pokok pendapatan sebesar Rp343,03 miilar dan beban bunga yang tinggi telah membuat perseroan mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp838,67 juta, yang memperlebar akumulasi defisit saldo laba menjadi Rp85,38 miliar. Langkah bypass regulasi yang legal ini membuat SAME mampu bergerak sangat gesit dan memangkas waktu birokrasi pasar modal yang panjang. Dengan demikian, eksekusi pemanfaatan dana untuk operasional rumah sakit bisa berjalan dengan instan tanpa harus menunggu siklus rapat pemegang saham yang memakan waktu berminggu-minggu.  Efisiensi ini juga diharapkan mempercepat realisasi optimalisasi modal di tingkat anak usaha, melengkapi aksi korporasi sebelumnya di mana EMC dan KSU telah melakukan pengurangan modal dengan pengembalian dana tunai masing-masing sebesar Rp73,00 miliar dan Rp24,70 miilar ke kantong perusahaan induk. Manajemen SAME juga secara tegas menggarisbawahi bahwa penarikan pinjaman triliunan ini tidak akan membawa risiko buruk bagi kelangsungan usaha perseroan.  Rahmiyati menegaskan bahwa tidak terdapat dampak material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan operasional perseroan.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan