# PRDL Alokasikan Dana IPO untuk Lunasi Utang dan Capex > PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mengalokasikan 62 persen dana IPO untuk melunasi utang produktif, 20 persen untuk belanja modal, dan sisanya sebagai modal kerja guna mendukung peluncuran produk diagnostik baru. Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit melalui inovasi produk, perluasan distribusi, dan peningkatan layanan. Saham PRDL ditutup naik 32 persen ke Rp162 pada hari pertama perdagangan setelah menghimpun dana IPO Rp62,75 miliar. PRDL memakai dana IPO untuk melunasi utang, belanja modal, dan modal kerja guna memperluas distribusi serta meluncurkan produk diagnostik baru. ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2026-07-09 14:17:00 - Author: Desty Luthfiani - Editor: Citra Dara Vresti Trisna - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/prdl-alokasikan-dana-ipo-untuk-lunasi-utang-dan-capex - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/prdl-alokasikan-dana-ipo-untuk-lunasi-utang-dan-capex.md ## Article **KABARBURSA.COM** – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) akan memanfaatkan dana hasil penawaran umum perdana saham atau *initial public offering *(IPO) untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung ekspansi bisnis melalui belanja modal dan modal kerja. Direktur PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sadjaja, mengatakan sekitar 62 persen dana IPO akan digunakan untuk melunasi utang produktif yang sebelumnya dipakai membangun fasilitas produksi baru yang mulai beroperasi pada April 2025. "Utangnya sebenarnya utang produktif karena digunakan untuk membiayai fasilitas produksi baru yang sudah kami gunakan sejak April 2025," ujar Cristina usai pencatatan saham perdana perseroan di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 9 Juli 2026. Sementara itu, sekitar 20 persen dana hasil IPO akan dialokasikan untuk belanja modal atau *capital expenditure *(capex). Dana IPO juga akan digunakan untuk modal kerja dengan alokasi 10-20 persen. Cristina menjelaskan, belanja modal tahun ini difokuskan pada pembelian mesin-mesin penunjang produksi, bukan pembangunan gedung maupun investasi mesin berskala besar. "Capex kami lebih banyak digunakan untuk membeli mesin-mesin penunjang. Bukan capex besar seperti gedung atau mesin yang mahal," katanya. Adapun modal kerja akan digunakan untuk pengadaan bahan baku guna mendukung peluncuran sejumlah produk diagnostik baru yang dijadwalkan mulai hadir pada semester II 2026. ## **Bagaimana Strategi PRDL Meningkatkan Pertumbuhan Laba?** Menurut Cristina, kehadiran produk baru tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan hingga mencapai level dua digit. Tahun lalu, PRDL membukukan pertumbuhan di atas 20 persen. "Tahun lalu kami tumbuh di atas 20 persen. Harapan kami minimal bisa mencapai angka yang sama, meskipun tentu dipengaruhi kondisi makroekonomi," ujarnya. Untuk mencapai target tersebut, perseroan mengandalkan tiga strategi utama, yakni mempertahankan pelanggan melalui peningkatan kualitas layanan, memperluas jaringan distribusi, dan menghadirkan produk-produk baru. Saat ini PRDL memiliki sekitar 70 distributor dan berencana memperluas jangkauan ke wilayah yang belum terlayani. Dari total 518 kabupaten atau kota di Indonesia, jaringan distribusi perseroan baru mencakup sekitar 300 daerah. Selain itu, lebih dari 60 persen pelanggan PRDL berasal dari sektor pemerintah. Perseroan telah melayani lebih dari 7.000 puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium di berbagai daerah, serta membuka peluang untuk memperluas cakupan layanan hingga sekitar 8.000 puskesmas. ## **Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap PRDL?** Di tengah ketergantungan terhadap bahan baku impor, Cristina mengakui pelemahan nilai tukar rupiah tetap memberikan tekanan terhadap biaya produksi. Namun, perseroan telah menyiapkan langkah mitigasi melalui cadangan persediaan bahan baku, produk antara, hingga produk jadi selama sekitar tiga bulan. Ia menambahkan, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) reagen kimia produksi Proline telah mencapai lebih dari 70 persen sehingga ketergantungan terhadap mata uang asing relatif tidak signifikan. Menurut Cristina, prospek industri alat kesehatan diagnostik masih positif seiring meningkatnya anggaran kesehatan nasional. Karena itu, dalam beberapa tahun ke depan perseroan masih akan memprioritaskan pengembangan pasar domestik sebelum berekspansi ke luar negeri. Selain fokus pada ekspansi bisnis, PRDL juga membuka peluang membagikan dividen kepada pemegang saham setelah menjadi perusahaan terbuka. Cristina mengatakan perseroan berkaca pada kebijakan dividen induk usahanya, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), namun besaran dividend payout ratio akan disesuaikan dengan kinerja keuangan perseroan. "Harapan kami seperti itu, tetapi semuanya tergantung sales dan profit," kata Cristina. PRDL resmi melantai di Bursa Efek Indonesia hari ini, ia melepas harga saham di 120. Pasca IPO, sahamnya langsung naik ke 162 per lembarnya. ## **PRDL Resmi IPO ** Seperti diberitakan sebelumnya, PRDL resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 9 Juli 2026. Perseroan melantai di bursa dengan kode saham PRDL dan langsung mendapat respons positif dari pasar. Pada perdagangan perdana, saham PRDL ditutup menguat 32 persen atau naik 42 poin ke level Rp162 per saham dari harga penawaran Rp120 per saham. Melalui IPO tersebut, perseroan menerbitkan 522,9 juta saham baru, setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum. Dari aksi korporasi ini, PRDL berhasil menghimpun dana sebesar Rp62,75 miliar. Setelah resmi tercatat di BEI, kapitalisasi pasar PRDL mencapai Rp209,15 miliar dengan total 1,74 miliar saham yang tercatat di Papan Pengembangan. Cristina menuturkan, pihaknya melihat peluang pertumbuhan pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Ia optimistis kualitas produk, kekuatan di jaringan distribusi dan TKDN yang tinggi dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional. Sekadar informasi, PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro. Perseroan memproduksi beragam perangkat diagnostik, mulai dari kimia klinik, hematologi, imunologi, diagnostik molekuler, hingga point-of-care testing (POCT). Selain itu, perusahaan juga menyediakan layanan purna jual berupa instalasi, pemeliharaan, dan kalibrasi instrumen. Perseroan menilai prospek industri alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal tersebut didukung alokasi anggaran kesehatan pemerintah sebesar Rp244 triliun pada 2026 serta target pelaksanaan program skrining kesehatan nasional yang ditujukan kepada 140 juta penduduk. Potensi pasar juga ditopang keberadaan lebih dari 10.000 puskesmas di Indonesia serta meningkatnya perhatian terhadap deteksi dini penyakit. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong kebutuhan terhadap produk diagnostik dalam beberapa tahun mendatang. Menjelang pencatatan saham, PRDL juga membukukan perbaikan kinerja keuangan. Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, pendapatan perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp74,37 miliar, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, laba bersih tercatat naik 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar. Sementara itu, EBITDAmeningkat 66,9 persen menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan peningkatan profitabilitas sekaligus efisiensi operasional perusahaan menjelang menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia.(*) ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan