Logo
>

Saham 29.000 ini Minta Restu Go Private, Apa Alasannya?

SCPI yang sudah lama disuspensi mengajukan delisting dan go private dengan harga tender Rp100.000 per saham.

Ditulis oleh Syahrianto
Saham 29.000 ini Minta Restu Go Private, Apa Alasannya?
Saham SCPI yang lama disuspensi kini bersiap meninggalkan Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema go private dan delisting. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI) resmi mengajukan rencana perubahan status menjadi perusahaan tertutup atau go private setelah lebih dari satu dekade sahamnya nyaris tidak bergerak di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Emiten farmasi yang kini dihuni publik kurang dari 2 persen itu juga berencana menghapus pencatatan saham alias delisting dari BEI.

Manajemen menyebut langkah tersebut masih harus memperoleh persetujuan pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Manajemen SCPI dalam keterbukaan informasi menjelaskan, saham perusahaan sudah tidak aktif diperdagangkan dalam waktu panjang. 

Selain itu, tingkat partisipasi pemegang saham publik dalam RUPS selama tiga tahun terakhir juga dinilai sangat rendah.

“Perseroan tidak melihat adanya kebutuhan untuk mencari dana dari masyarakat atau publik,” tulis manajemen dalam dokumen keterbukaan informasi dikutip, Sabtu, 16 Mei 2026.

SCPI sendiri sudah berada dalam status suspensi perdagangan sangat lama. Berdasarkan dokumen perusahaan, BEI menghentikan sementara perdagangan saham SCPI sejak 1 Februari 2013 melalui Pengumuman BEI No. Peng-SPT-00001/BEI.PPR/01-2013.

Di pasar reguler, saham SCPI terakhir tercatat berada di level Rp29.000 per saham dengan status suspended dan notasi khusus. Dari struktur kepemilikan saham terbaru, Organon LLC menguasai 98,787 persen saham perusahaan atau sebanyak 3,55 juta saham, sedangkan publik hanya memegang sekitar 1,213 persen atau 43.664 saham.

Jika rencana tersebut disetujui dalam RUPSLB, Organon LLC selaku pengendali akan melaksanakan penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer (VTO) kepada pemegang saham publik. Harga yang ditawarkan ditetapkan sebesar Rp100.000 per saham.

Harga tersebut jauh di atas rata-rata harga tertinggi historis saham dalam periode acuan yang digunakan perusahaan. 

Dalam dokumen keterbukaan informasi disebutkan rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham SCPI sebelum suspensi hanya berada di level Rp32.063 per saham.

Manajemen menjelaskan, langkah go private juga berkaitan dengan restrukturisasi global grup Merck setelah merger dengan Schering-Plough pada 2009. Selain itu, pada 2021 juga telah dilakukan transaksi spin off pada tingkat pemegang saham perseroan.

SCPI merupakan perusahaan farmasi yang berdiri sejak 1972 dengan nama awal PT Schering-Plough Indonesia. Perusahaan kemudian berubah nama menjadi PT Organon Pharma Indonesia Tbk pada 2021.

Kegiatan usaha utama perusahaan berada di sektor industri farmasi untuk manusia dan perdagangan alat laboratorium serta alat farmasi. Perseroan juga menyebut tidak memiliki anak usaha hingga saat ini.

Dari sisi kinerja keuangan, SCPI mencatat pendapatan Rp4,12 triliun sepanjang 2025, naik dibanding Rp2,89 triliun pada 2024. Laba tahun berjalan juga meningkat menjadi Rp290,7 miliar dari sebelumnya Rp186,6 miliar.

Total aset perusahaan hingga akhir 2025 mencapai Rp2,27 triliun, dengan ekuitas sebesar Rp1,33 triliun. Sementara rasio return on equity tercatat sebesar 21,84 persen dan net profit margin berada di level 7,05 persen.

RUPSLB terkait rencana go private dan delisting dijadwalkan berlangsung pada 23 Juni 2026 di Sinarmas MSIG Tower, Jakarta Selatan, serta diselenggarakan secara elektronik melalui fasilitas eASY.KSEI.

Manajemen menegaskan rencana go private dan delisting tidak diharapkan memberikan dampak material terhadap operasional perusahaan. Kegiatan usaha Perseroan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.