Logo
>

Saham AI Berguguran, Nasdaq Ditutup Merah di Wall Street

Wall Street mulai mempertimbangkan ulang ekspektasi terhadap sektor teknologi.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Saham AI Berguguran, Nasdaq Ditutup Merah di Wall Street
Ilustrasi saham di sektor teknologi mulai berguguran di Wall Street. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Nasdaq Composite ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026 waktu New York. Pelemahan Nasdaq terjadi di tengah tekanan pada saham-saham teknologi dan semikonduktor yang selama ini menjadi penggerak utama reli kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun KabarBursa.com, Nasdaq turun 250,84 poin atau 1 persen ke level 25.678,82. Sementara itu, S&P 500 melemah 0,3 persen ke 7.386,65. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average masih menguat 86,10 poin atau 0,2 persen menjadi 50.872,11.

Melansir Reuters, Selasa, 9 Juni 2026, tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan semikonduktor. Philadelphia Semiconductor Index (SOX) turun 1,9 persen, memperpanjang volatilitas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham yang memiliki eksposur besar terhadap bisnis AI. AMD turun 3,02 persen, Arm Holdings melemah 6,21 persen, dan Super Micro Computer merosot 7,65 persen. Sementara itu, Nvidia turun tipis 0,21 persen.

Menurut Reuters, investor mulai mencermati kemampuan perusahaan-perusahaan teknologi dalam mengubah belanja modal besar untuk pengembangan AI menjadi pertumbuhan pendapatan, laba, dan arus kas.

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan keuangan Broadcom. Saham perusahaan tersebut sempat tertekan setelah laporan pendapatan kuartalan dinilai belum memenuhi ekspektasi tinggi investor terhadap bisnis AI.

Padahal Broadcom masih memproyeksikan pendapatan chip AI mencapai USD16 miliar pada kuartal berjalan dan memperkirakan peluang bisnis AI hingga USD100 miliar pada tahun fiskal 2027.

Investor Soroti Imbal Hasil Investasi AI

Di tengah koreksi saham teknologi, investor juga mulai mempertanyakan seberapa cepat investasi AI dapat menghasilkan pengembalian yang sepadan.

Melansir Reuters dan sejumlah laporan riset institusi investasi global sepanjang Juni 2026, Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta diperkirakan mengalokasikan lebih dari USD600 miliar untuk pengembangan AI dan pusat data sepanjang tahun ini.

Besarnya nilai investasi tersebut membuat perhatian pasar bergeser pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari belanja yang terus meningkat.

Kepala Riset Ekuitas Global Goldman Sachs Jim Covello mengatakan perkembangan teknologi AI berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Namun, menurutnya, manfaat ekonomi yang dihasilkan masih menjadi perhatian sebagian investor.

Perubahan pandangan tersebut juga tercermin pada valuasi sejumlah emiten AI. AMD diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sekitar 155 kali, sementara Broadcom berada di kisaran 97 kali.

Sebagai perbandingan, data FactSet menunjukkan forward P/E S&P 500 berada di kisaran 21 kali.

Meski demikian, sejumlah analis belum melihat kondisi saat ini sebagai gelembung teknologi seperti era dotcom pada akhir 1990-an. JPMorgan menilai valuasi sektor teknologi masih ditopang pertumbuhan laba, arus kas, dan kondisi neraca yang lebih kuat dibanding perusahaan internet pada masa tersebut.

Belanja AI Diperkirakan Terus Meningkat

Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan belanja modal gabungan Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Meta meningkat dari sekitar USD251 miliar pada 2024 menjadi lebih dari USD400 miliar pada 2025.

Pada 2026, nilai belanja tersebut diperkirakan kembali meningkat hingga berada di kisaran USD630 miliar sampai USD725 miliar.

Investasi tersebut menopang permintaan terhadap chip, server, pusat data, dan berbagai infrastruktur digital lainnya. Namun di sisi lain, investor mulai menilai seberapa besar kontribusi investasi tersebut terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.

Perkembangan di Wall Street juga menjadi perhatian pelaku pasar global karena dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, terutama ketika dolar Amerika Serikat masih relatif kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi.

Berbeda dengan Nasdaq yang didominasi saham teknologi, struktur pasar modal Indonesia lebih banyak ditopang sektor perbankan, komoditas, telekomunikasi, dan saham berbasis dividen.

Karena itu, pergerakan saham AI di Amerika Serikat dan perubahan preferensi investor global terhadap saham pertumbuhan maupun saham berbasis fundamental akan terus menjadi faktor yang dicermati pasar dalam beberapa waktu ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.