KABARBURSA.COM – Tekanan kembali menghantam pasar saham Amerika Serikat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Gelombang koreksi di sektor teknologi membuat Wall Street bergerak campur aduk, meski sebagian besar saham sebenarnya menguat.
Dilansir dari AP, Kamis, 5 Februari 2026, Indeks S&P 500 turun 0,5 persen dan mencatat penurunan tipis untuk kelima kalinya dalam enam hari terakhir. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru naik 260 poin atau 0,5 persen. Sementara itu, Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih dalam sebesar 1,5 persen.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik di dalam S&P 500 lebih dari dua kali lipat dibanding saham yang turun. Namun pelemahan tajam pada emiten-emiten teknologi kembali menjadi pemberat utama indeks untuk hari kedua berturut-turut.
Salah satu yang paling terpukul adalah Advanced Micro Devices. Saham perusahaan chip tersebut anjlok 17,3 persen meskipun mereka melaporkan laba kuartalan yang lebih tinggi dari perkiraan analis. AMD juga memberikan proyeksi pendapatan awal 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Namun itu rupanya belum cukup memuaskan investor, terutama setelah harga sahamnya melonjak dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir.
Tekanan terhadap sektor teknologi memang terjadi secara luas, bahkan pada perusahaan yang berhasil membukukan kinerja keuangan di atas perkiraan. Saham-saham Big Tech mulai menuai kritik karena dinilai sudah terlalu mahal setelah bertahun-tahun mendominasi pasar.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan perangkat lunak kini menghadapi pertanyaan besar. Investor khawatir model bisnis mereka akan tergerus oleh pesaing baru yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Uber Technologies ikut memperburuk sentimen pasar. Saham perusahaan transportasi daring itu turun 5,1 persen setelah melaporkan hasil kuartalan di bawah ekspektasi analis. Uber juga mengeluarkan proyeksi laba kuartal berjalan yang lebih rendah dari perkiraan, bersamaan dengan pengumuman penunjukan direktur keuangan baru.
Meski begitu, tidak semua saham teknologi tertekan. Super Micro Computer, misalnya, melonjak 13,8 persen setelah melaporkan laba kuartalan yang lebih kuat dari proyeksi analis. Perusahaan penyedia server berbasis kecerdasan buatan itu masih menikmati tingginya permintaan infrastruktur AI.
Dari sektor lain, Eli Lilly mencatat kenaikan tajam 10,3 persen setelah berhasil melampaui ekspektasi laba pasar. Produsen obat raksasa ini terus diuntungkan oleh lonjakan penjualan produk Mounjaro dan Zepbound untuk pengobatan diabetes serta penurunan berat badan.
Match Group juga tampil positif dengan kenaikan 5,9 persen setelah membukukan kinerja lebih baik dari perkiraan dan menaikkan dividen. Perusahaan aplikasi kencan ini menyebut adanya tanda-tanda awal keberhasilan fitur verifikasi wajah di Tinder, yang diklaim mampu menekan interaksi dengan akun-akun bermasalah.
Sementara itu, Walmart naik tipis 0,2 persen sehari setelah nilai kapitalisasi pasarnya menembus USD1 triliun atau sekitar Rp16.850 triliun. Capaian tersebut membawa raksasa ritel itu masuk ke klub eksklusif yang selama ini didominasi perusahaan teknologi seperti Nvidia dan Apple, yang masing-masing bernilai lebih dari USD4 triliun atau sekitar Rp67.400 triliun.
Secara keseluruhan, S&P 500 ditutup melemah 35,09 poin ke level 6.882,72. Dow Jones Industrial Average naik 260,31 poin menjadi 49.501,30, sedangkan Nasdaq Composite turun 350,61 poin ke 22.904,58.
Emas dan Perak Berfluktuasi
Di pasar komoditas, harga emas dan perak kembali menguat setelah sempat memangkas kenaikan besar di awal perdagangan. Harga emas naik 0,3 persen dan ditutup pada USD4.950,80 per ons atau sekitar Rp83,42 juta per ons, setelah sebelumnya sempat menembus kembali level USD5.000.
Pergerakan emas belakangan memang sangat volatil. Dalam 12 bulan terakhir, harganya nyaris berlipat ganda. Pekan lalu emas sempat mendekati USD5.600 per ons atau sekitar Rp94,36 juta, sebelum jatuh di bawah USD4.500 pada awal pekan ini.
Harga perak juga bergerak liar dan pada Rabu naik 1,3 persen. Lonjakan harga logam mulia beberapa waktu terakhir dipicu meningkatnya minat investor yang mencari aset aman di tengah kekhawatiran soal perang tarif, pelemahan dolar AS, dan membengkaknya utang pemerintah di berbagai negara. Namun sebagian analis menilai kenaikan itu sudah terlalu cepat sehingga rawan koreksi.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury relatif stabil setelah rilis dua data ekonomi Amerika Serikat yang hasilnya beragam. Laporan ADP Research menunjukkan perekrutan tenaga kerja sektor swasta pada bulan lalu lebih rendah dari perkiraan ekonom.
Sementara itu, laporan dari Institute for Supply Management menyebut aktivitas sektor jasa AS pada Januari masih tumbuh sesuai ekspektasi. Namun laporan yang sama juga menunjukkan harga-harga yang dibayar sektor jasa meningkat lebih cepat, sinyal yang kurang menggembirakan bagi upaya pengendalian inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun tipis ke level 4,27 persen dari 4,28 persen sehari sebelumnya.
Di pasar global, pergerakan indeks saham cenderung beragam. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,8 persen dari rekor tertingginya. Saham Nintendo terpuruk 11 persen meskipun perusahaan gim tersebut melaporkan laba yang kuat. Investor meragukan apakah momentum penjualan konsol Switch 2 yang diluncurkan tahun lalu dapat dipertahankan.
Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan justru menguat 1,6 persen dan kembali mencetak rekor baru.
Dengan dinamika yang terjadi, pelaku pasar global kini menunggu arah kebijakan suku bunga AS serta perkembangan kinerja perusahaan teknologi, sektor yang selama ini menjadi motor utama reli pasar saham dunia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.