# Wacana Insentif Mobil Hybrid, Pengaruhi Pasar EV? ## Metadata - Source: kabarbursa.com - Access Level: Free - Category: Market Hari Ini - Published At: 2024-05-15 12:59:03 - Author: Hutama Prayoga - Canonical URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/wacana-insentif-mobil-hybrid-pengaruhi-pasar-ev - Markdown URL: https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/wacana-insentif-mobil-hybrid-pengaruhi-pasar-ev.md ## Article **KABARBURSA.COM** - Pemerintah dikabarkan tengah mengkaji pemberian insentif kepada mobil *hybrid* atau kendaraan yang menggunakan kombinasi bensin dan listrik. Wacana ini memiliki tujuan meningkatkan penjualan kendaraan roda empat kategori tersebut. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus, menyoroti rencana kebijakan pemberian insentif oleh pemerintah tersebut yang dikhawatirkan berdampak terhadap pasar mobil listrik. Konsekuensinya, ia memperkirakan, insentif yang diberikan kepada mobil *hybrid* tidak sebesar insentif ke mobil listrik. "Karena jelas insentifnya tidak akan sebesar mobil listrik rakitan lokal dengan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi," katanya kepada **Kabar Bursa**, Rabu, 15 Mei 2024. Yannes menilai, mobil *hybrid* masih menghasilkan emisi gas buang, meskipun lebih rendah dari mobil bensin sehingga pemberian insentif tersebut akan terbatas. Di samping itu, terkait penjualan, dia memperkirakan mobil listrik lokal dengan TKDN tinggi masih berpeluang lebih murah. "Mobil listrik rakitan lokal dengan TKDN tinggi berpotensi tetap lebih murah dibandingkan dengan impor mobil listrik yang dinolkan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah)," tuturnya. Lebih lanjut Yannes menjelaskan, biaya logistik mobil listrik lokal lebih murah dibandingkan CBU (*completely built up*) atau mobil yang diimpor langsung dari negara asalnya. Menurutnya, penyebab kendaraan CBU lebih mahal adalah biaya pengiriman, bea masuk, dan pajak lainnya yang terkait dengan impor. "Produsen mobil listrik lokal tidak perlu mengeluarkan biaya-biaya tersebut, sehingga potensinya harga jual mereka bisa lebih murah," tandasnya. Lebih lanjut, pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan, insentif untuk mobil *hybrid* jelas akan berdampak positif terhadap penjualan kendaraan tersebut pada masa mendatang. Insentif tersebut pada dasarnya tetap dibutuhkan, karena karakteristik konsumen di Indonesia berbeda-beda. Ada yang merasa mampu langsung beralih ke mobil listrik dan ada pula yang ingin merasakan mobil *hybrid* terlebih dahulu. “Keduanya (mobil *hybrid* dan mobil listrik) sama-sama menekan konsumsi minyak bumi sekaligus emisi karbon,” ujar dia, dalam keterangannya. Sementara itu, Tauhid Ahmad, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyoroti posisi mobil *hybrid* berada di tengah-tengah antara mobil konvensional dan mobil listrik sehingga insentif pajak kendaraan tersebut masih lebih rendah dibandingkan mobil listrik berbasis baterai. “Kalau misalnya insentif pajak mobil listrik diberikan 100 persen, maka mobil *hybrid* cukup 50 persen,” kata Tauhid. Tauhid melanjutkan, tren penjualan mobil *hybrid* tentu akan meningkat ketika insentif diberlakukan. Hal ini jelas bisa mendistorsi pangsa pasar mobil listrik di Tanah Air, meski kemungkinan hanya sementara. Ini dengan catatan, pengembangan infrastruktur charging station terus dilakukan, harga baterai ditekan, dan layanan purna jual mobil listrik diperkuat. “Dengan begitu, secara alamiah masyarakat mau beralih ke mobil listrik sehingga penjualannya terus tumbuh,” jelas dia. **Insentif Menurut Asosiasi** Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Jongkie Sugiarto, wacana tentang pemberian insentif oleh pemerintah untuk mobil *hybrid* diyakini akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan industri otomotif dalam negeri. Jongkie menyatakan bahwa saat ini pemerintah sedang melakukan kajian terkait insentif pajak yang akan diberikan kepada mobil *hybrid.* Ia menekankan bahwa meskipun harga mobil *hybrid* lebih rendah daripada mobil listrik, namun masih lebih tinggi daripada mobil konvensional. Namun, teknologi mobil *hybrid* memastikan efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang lebih tinggi daripada mobil konvensional. Selain itu, mobil *hybrid* dapat mengisi ulang baterainya sendiri saat dalam perjalanan dan tidak memerlukan stasiun pengisian daya. Oleh karena itu, mobil hybrid masih dapat mengisi BBM di SPBU. Jongkie berharap bahwa insentif tersebut dapat mendorong peningkatan populasi mobil *hybrid*, sehingga penggunaan BBM secara nasional dapat berkurang. Dia juga menyatakan bahwa pangsa pasar mobil listrik tidak akan tergerus jika mobil *hybrid* juga mendapat insentif pajak. Sebaliknya, penjualan mobil listrik dan mobil *hybrid* seharusnya dapat meningkat secara bersamaan. Lebih lanjut, karakteristik dan kemampuan membeli kendaraan berbeda-beda antara masyarakat. Menurut data dari GAIKINDO, penjualan mobil *hybrid* di Indonesia mencapai 17.256 unit pada triwulan pertama dari Januari hingga April 2024, yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan mobil listrik yang hanya mencapai 7.745 unit dalam periode yang sama. Dan perlu diketahui, pabrikan Jepang mendominasi segmen mobil *hybrid* di Indonesia, di antaranya adalah Toyota, Nissan, Lexus, dan Suzuki. ## KabarBursa Investor Pro For deeper investor analysis, listed-company insight, financial report interpretation, dividend quality ranking, stock screening, and stock ownership return simulation, use KabarBursa Investor Pro. - Insight Daily: https://www.kabarbursa.com/insight-daily - Insight Emiten: https://www.kabarbursa.com/insight-emiten - Dividen King: https://www.kabarbursa.com/dividen-king - Strategi Procopy: https://www.kabarbursa.com/strategi-procopy - Subscribe: https://www.kabarbursa.com/langganan