KABARBURSA.COM - Hingga April 2026, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp2,8 triliun. Catatan ini meningkat 17,8 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan laba tersebut bukan sekadar hasil ekspansi pembiayaan. Ada fundamental yang terus diperkuat melalui peningkatan kualitas aset, efisiensi pendanaan, serta diversifikasi sumber pendapatan.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho, menegaskan bahwa perseroan terus menjaga kinerja fundamental melalui optimalisasi aset, penguatan kualitas pembiayaan, peningkatan fee based income, penguatan dana murah (CASA), hingga pengembangan ekosistem bisnis syariah dan bullion bank sebagai sumber pertumbuhan baru.
Strategi tersebut mulai terlihat pada skala bisnis yang semakin besar. Hingga April 2026, total aset BSI mencapai Rp452 triliun, melonjak 12,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset ini didukung oleh fungsi intermediasi yang berjalan optimal, baik dari sisi penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaan.
Dari sisi pendanaan, performa BSI bahkan lebih impresif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 17,9 persen menjadi Rp382 triliun. Kontributor terbesar berasal dari produk tabungan yang melonjak 22,02 persen menjadi Rp165 triliun, diikuti oleh giro dan deposito.
Komposisi tersebut membuat rasio Current Account Saving Account (CASA) bertahan di level 63,48 persen. Bagi industri perbankan, CASA yang tinggi merupakan salah satu indikator fundamental yang sangat positif karena menunjukkan biaya dana (cost of fund) yang lebih murah, sehingga memberikan ruang bagi bank untuk menjaga profitabilitas.
Tabungan Haji Naik Drastis
Kepercayaan masyarakat terhadap produk BSI juga semakin kuat. Hal itu tercermin dari produk Tabungan Haji yang menjadi salah satu motor penghimpunan dana. Dari sekitar 203 ribu jamaah haji reguler Indonesia yang berangkat tahun ini, sebanyak 83,5 persen atau sekitar 169 ribu jamaah melakukan pelunasan biaya haji melalui jaringan sistem keuangan BSI.
Di sisi penyaluran dana, BSI masih mampu menjaga pertumbuhan pembiayaan pada level dua digit. Hingga April 2026, total pembiayaan mencapai Rp332 triliun atau tumbuh 15,59 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari sektor konsumer, tetapi juga didukung pembiayaan ritel, sektor produktif, UMKM, hingga segmen mikro. Diversifikasi ini menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada satu segmen bisnis sekaligus memperluas sumber pendapatan.
Yang lebih menarik, ekspansi agresif tersebut tidak dibayar dengan penurunan kualitas aset. Sebaliknya, rasio Non-Performing Financing (NPF) Gross berhasil turun menjadi 1,80 persen dari sebelumnya 1,88 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan NPF menunjukkan bahwa kualitas pembiayaan BSI masih sangat terjaga meskipun penyaluran kredit terus meningkat. Hal ini menjadi indikator penting bahwa pertumbuhan yang dicatatkan perseroan berlangsung secara sehat dan didukung manajemen risiko yang disiplin.
Fundamental Semakin Solid
Fundamental tersebut juga tercermin pada kinerja tahunan perusahaan. Berdasarkan data keuangan terakhir, laba bersih tahun buku 2025 mencapai Rp7,57 triliun, meningkat dibandingkan Rp7,01 triliun pada 2024.
Sementara itu, laba bersih kuartal I 2026 tercatat sekitar Rp2,20 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas per saham, earnings per share (EPS) tahunan mencapai 164,05, sedangkan proyeksi annualised 2026 berada di kisaran 190,78. Pendapatan operasional juga tetap stabil dengan trailing twelve months (TTM) revenue mencapai Rp28,57 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp28,27 triliun.
BSI juga dikenal sebagai salah satu emiten yang rutin membagikan dividen. Dividen per saham (TTM) tercatat sebesar Rp32,81 dengan dividend payout ratio 20 persen, menghasilkan dividend yield sekitar 1,93 persen berdasarkan harga saham saat ini.
Meski demikian, investor juga perlu memperhatikan beberapa catatan. Rasio Total Liabilities terhadap Equity mencapai 8,06 kali, sedangkan Financial Leverage berada di level 9,06 kali. Angka tersebut memang relatif tinggi, namun masih merupakan karakteristik yang umum dijumpai pada industri perbankan yang mengandalkan dana masyarakat sebagai sumber pendanaan utama.
Secara keseluruhan, fundamental BRIS saat ini menunjukkan tren yang semakin solid. Pertumbuhan laba dua digit didukung oleh kenaikan aset, penghimpunan dana murah yang kuat, ekspansi pembiayaan yang sehat, serta kualitas pembiayaan yang terus membaik.
Dengan posisi sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dan penguatan ekosistem bisnis syariah yang terus dilakukan, BSI tidak hanya mencatat pertumbuhan laba yang menarik, tetapi juga memperlihatkan fondasi bisnis yang semakin kokoh untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika industri perbankan nasional.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.