KABARBURSA.COM – Penunjukan PT Chandra Waste Energy sebagai anggota konsorsium pengembang proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Serang Raya membuka babak baru ekspansi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ke sektor pengelolaan sampah menjadi energi. Namun, di balik proyek strategis nasional tersebut, muncul pertanyaan mengenai rekam jejak perusahaan dalam mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WtE) berskala kota.
Pertanyaan tersebut mengemuka setelah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menetapkan delapan mitra proyek PSEL tahap kedua, termasuk konsorsium PT Chandra Waste Energy, Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc., serta Masa Depan Energi Indonesia untuk mengembangkan PSEL Serang Raya berkapasitas pengolahan sekitar 1.161 ton sampah per hari.
Proyek tersebut merupakan bagian dari target nasional pembangunan 33 fasilitas PSEL di 61 kabupaten/kota dengan nilai investasi mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,5 triliun.
Besarnya skala proyek membuat rekam jejak setiap pengembang menjadi aspek yang relevan untuk ditelaah.
Jejak Chandra Waste Energy Belum Terlihat dalam Dokumen Publik
Penelusuran terhadap Laporan Tahunan TPIA 2025 dan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim Kuartal I 2026 belum menemukan nama PT Chandra Waste Energy dalam daftar entitas anak maupun struktur grup perusahaan.
Kedua dokumen tersebut masih mencantumkan PT Chandra Global Maritim (CGM) sebagai entitas anak tidak langsung melalui PT Chandra Shipping International (CSI) yang disebut-sebut merupakan nama awal dari Chandra Waste Energy.
Perusahaan tersebut didirikan pada 2025, bergerak di bidang angkutan laut (marine transportation), dimiliki 100 persen secara tidak langsung oleh grup, dan hingga akhir Maret 2026 masih berada pada tahap pengembangan.
Baik Laporan Tahunan 2025 maupun Laporan Keuangan Kuartal I 2026, tidak mencantumkan keterangan mengenai perubahan nama PT Chandra Global Maritim menjadi PT Chandra Waste Energy.
TPIA Sudah Lama Masuk Isu Pengelolaan Sampah
Di sisi lain, bukan berarti Chandra Asri tidak memiliki portofolio terkait pengelolaan sampah. Laporan Keberlanjutan 2025 memperlihatkan perusahaan telah membangun sejumlah inisiatif ekonomi sirkular dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Di antaranya melalui pemanfaatan sampah plastik menjadi aspal plastik (CIRCLO), pembangunan fasilitas Industri Pengelolaan Sampah Terpadu (IPST ASARI) berbasis teknologi pirolisis, pemanfaatan minyak goreng bekas (used cooking oil) sebagai bahan baku energi hijau, hingga program pengurangan sampah berbasis masyarakat seperti KOLASE dan Rangkai Asri.
“IPST ASARI di Cilegon sebagai pusat pengolahan sampah plastik berbasis masyarakat yang mampu mengelola 8 ton limbah per bulan dan kapasitas pirolisis 100 kg/batch. Fasilitas ini mengintegrasikan teknologi pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan daur ulang dan minyak pirolisis guna menciptakan nilai ekonomi baru bagi warga sekitar,” tulis manajemen TPIA dalam Laporam Keberlanjutan 2025 halaman 136.

Petugas menunjukkan produk hasil pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis di Industri Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) ASARI, Cilegon. Menurut Chandra Asri Group, hingga kini fasilitas tersebut telah mengolah lebih dari 79.700 kilogram sampah plastik, dengan sebagian dikonversi menjadi minyak pirolisis bermerek PLUSRI. Foto: Dok. Chandra Asri Group.
Pada level operasional industri, perusahaan juga telah menerapkan pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif (co-firing) pada boiler batu bara di fasilitas Pulo Ampel. Berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan, implementasi tersebut memanfaatkan sekitar 60,33 ton RDF pada Juli 2025 sebagai pengganti sekitar lima persen kebutuhan energi boiler.
Selain itu, perusahaan mencatat capaian zero waste to landfill untuk limbah B3 serta tingkat pemanfaatan kembali limbah non-B3 mencapai lebih dari 80 persen.
Portofolio tersebut menunjukkan Chandra Asri telah mengembangkan aktivitas pengelolaan limbah, pemanfaatan sampah, dan ekonomi sirkular sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Waste Management Berbeda dengan Waste-to-Energy
Meski memiliki sejumlah inisiatif pengelolaan sampah, karakter proyek PSEL berbeda dengan berbagai program yang selama ini dijalankan TPIA.
Sebagian besar portofolio Chandra Asri berfokus pada pengurangan sampah, pemanfaatan kembali limbah, produksi bahan bakar alternatif, maupun daur ulang material.
Sementara proyek PSEL merupakan infrastruktur ketenagalistrikan yang mengintegrasikan pengumpulan sampah perkotaan, teknologi pengolahan termal, pengendalian emisi, pengelolaan residu pembakaran, hingga pembangkitan listrik yang terhubung ke sistem kelistrikan nasional.
Dengan kata lain, pengalaman dalam pengelolaan limbah tidak secara otomatis identik dengan pengalaman membangun atau mengoperasikan fasilitas waste-to-energy skala kota.
Hingga saat ini, KabarBursa belum menemukan informasi dalam laporan tahunan maupun laporan keberlanjutan TPIA yang secara eksplisit menunjukkan pengalaman emiten milik Prajogo Pangestu ini sebagai pengembang atau operator fasilitas PSEL kota.
Peran Mitra Asing
Aspek lain yang patut dicermati adalah komposisi konsorsium. Selain PT Chandra Waste Energy, proyek Serang Raya juga melibatkan Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc., perusahaan yang dikenal bergerak di bidang teknologi pengolahan sampah dan waste-to-energy, serta Masa Depan Energi Indonesia.
Namun demikian, pembagian peran masing-masing anggota konsorsium belum dijelaskan secara terbuka.
Belum diketahui secara rinci apakah Chandra Waste Energy akan berperan sebagai investor, pengembang proyek, operator fasilitas, maupun pemegang saham dalam perusahaan patungan yang akan dibentuk setelah penerbitan Conditional Letter of Award (CLoA).
Informasi tersebut menjadi penting mengingat seluruh pemenang tender masih harus memenuhi persyaratan teknis, komersial, dan pembiayaan sebelum memasuki tahap kontrak definitif.
Penunjukan PT Chandra Waste Energy menandai langkah baru Chandra Asri memasuki sektor waste-to-energy yang selama ini berkembang sebagai bagian dari agenda transisi energi dan pengelolaan sampah nasional.
Dokumen publik perusahaan menunjukkan TPIA telah memiliki portofolio yang cukup luas dalam bidang ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya.
Namun demikian, berdasarkan dokumen publik hingga Maret 2026, belum ditemukan informasi yang secara eksplisit memperlihatkan rekam jejak PT Chandra Waste Energy sebagai pengembang atau operator fasilitas PSEL berskala kota maupun penjelasan mengenai posisi teknis perusahaan dalam konsorsium proyek Serang Raya.(*)