KABARBURSA.COM – Implementasi program bahan bakar nabati B50 terbukti tidak sekadar menjadi instrumen penyelamat devisa dan pemangkas impor BBM fosil nasional.
Uji coba komprehensif yang dilakukan Kementerian ESDM bersama lintas asosiasi menunjukkan bahwa penggunaan B50 justru mampu menekan biaya perawatan berkala pada mesin diesel karena kualitas bahan bakarnya yang jauh lebih bersih.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa kekhawatiran publik mengenai risiko kerusakan komponen mesin akibat penggunaan B50 telah terbantahkan melalui data road test dan uji laboratorium.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bahkan terkejut dengan daya tahan filter kendaraan yang meningkat berlipat-lipat.
"Asosiasi Otomotif Gaikindo bilang, 'Wah, saya surprise sekali. Kok bisa malahan hasilnya seperti ini?' Yang harusnya filter itu diganti per berapa bulan, misalnya di angka 10.000 kilometer (km), dengan B50 sekarang enggak ada apa-apa, enggak perlu ganti. Ini filternya tidak perlu diganti dalam 10.000 km berjalan, malah gantinya baru setelah 27.000 km," ujar Eniya dalam podcast ESDM bertema B50 Pertama di Dunia yang dikutip Rabu, 15 Juli 2026.
Eniya menegaskan, efisiensi konsumsi suku cadang berupa filter mesin ini tidak hanya terjadi pada sektor otomotif. Hasil serupa juga ditemukan pada alat-alat berat yang beroperasi di sektor pertambangan yang mencatatkan masa pakai komponen dua kali lipat lebih lama dari standar operasional biasanya.
"Ditambang filternya itu biasanya diganti per 250 jam. Nah, ternyata sampai 500 jam enggak apa-apa. Kami tes bahkan sampai 1.000 jam. Jadi kelebihan penggunaan B50 ini adalah filter enggak perlu sering ganti dan kilometernya lebih panjang," tegasnya.
Kementerian ESDM menilai hasil positif ini melampaui batas ekspektasi serta spesifikasi bawaan pabrikan. Berkaca pada kesuksesan implementasi bioetanol masif di Brasil, Eniya menantang industri manufaktur dan penyedia suku cadang otomotif domestik untuk segera melakukan improvisasi, inovasi, dan penyesuaian teknologi, alih-alih mengeluhkan kebijakan transisi energi bersih ini.
Ketahanan mesin yang optimal ini terjadi berkat pengetatan formula Fatty Acid Methyl Ester (FAME), senyawa komoditas sawit mentah (CPO) dan metanol melalui proses esterifikasi, yang dirancang khusus untuk campuran B50.
Pemerintah memperketat indikator krusial seperti parameter waktu oksidasi menjadi lebih panjang hingga 900 menit untuk mencegah pengendapan.
Selain itu, kandungan monogliserit yang menjadi pemicu utama penggumpalan bahan bakar ditekan drastis dari level 0,55 persen pada era B30 menjadi hanya 0,47 persen pada formula B50 saat ini.
Risiko kandungan air yang rentan bereaksi saat bersentuhan dengan udara juga telah dimitigasi. Uji penyimpanan ekstrim di wilayah Lembang selama 6 hingga 10 bulan di ruang terbuka membuktikan formula B50 tetap stabil meski diterpa hujan dan cuaca dingin.
Guna menjamin mutu di tingkat hilir, Kementerian ESDM menerapkan sistem monitoring dan evaluasi (Monev) secara berkala seminggu sekali bersama seluruh lini industri terkait. Pengambilan sampel bahan bakar dilakukan setiap hari untuk memastikan konsistensi kualitas.
Proses uji bersama ini melibatkan enam sektor strategis nasional secara serentak, meliputi industri otomotif, alat pertanian, perkapalan, pertambangan, kereta api, hingga genset pembangkit listrik. Evaluasi untuk sektor kereta api dan pembangkit dijadwalkan terus berjalan hingga akhir tahun guna memperkuat basis data teknis.
"Semua kita buka, kita bahas berkali-kali. Ini kalau uji, kita uji bareng. Ayo uji bareng semua bisa akses data, silakan dikritisi. Di perkapalan, kita juga baru pertama kali ini tes di kapal Geomarin milik ESDM dan berhasil berlayar tanpa hambatan," kata Eniya.
Apakah B50 Sudah Benar-Benar Teruji?
Di balik klaim peningkatan efisiensi penggunaan biodiesel B50, pemerintah menyatakan implementasi program tersebut telah didukung serangkaian pengujian teknis yang melibatkan berbagai sektor pengguna mesin diesel. Uji tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan B50 sebelum diterapkan secara nasional mulai 1 Juli 2026.
Kementerian ESDM menjelaskan uji teknis laboratorium telah dimulai sejak awal 2025, kemudian dilanjutkan dengan uji penggunaan B50 pada mesin diesel secara serentak mulai 9 Desember 2025. Pengujian melibatkan enam sektor strategis, yakni otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, perkapalan, kereta api, serta pembangkit listrik.
Pada sektor otomotif, kendaraan niaga berbobot di atas 3,5 ton telah menyelesaikan target uji jalan sejauh 40.000 kilometer. Sementara kendaraan di bawah 3,5 ton ditargetkan menempuh 50.000 kilometer sebelum dilakukan pembongkaran mesin untuk mengevaluasi dampak penggunaan B50 terhadap seluruh komponen.
Hingga April 2026, Kementerian ESDM menyatakan hasil sementara menunjukkan kondisi mesin dan filter bahan bakar tetap berada dalam batas standar yang direkomendasikan pabrikan serta tidak ditemukan kendala teknis yang signifikan.
Hasil tersebut juga mendapat respons positif dari Gaikindo. Dalam keterangan Kementerian ESDM, perwakilan Gaikindo berharap spesifikasi bahan bakar yang digunakan selama uji coba dapat menjadi standar resmi pada implementasi B50 karena hasil sementara dinilai memenuhi ekspektasi industri.
Selain aspek teknis, implementasi B50 juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi terhadap ketahanan energi nasional. Pemerintah memperkirakan kebijakan pencampuran biodiesel 50 persen dapat mengurangi bahkan menghentikan impor solar pada tahun ini.
Program tersebut diperkirakan mampu menghemat biaya impor sekitar Rp157,28 triliun dibandingkan jika kebijakan B40 dipertahankan sepanjang tahun. Untuk mendukung implementasi tersebut, kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat menjadi sekitar 17,6 juta kiloliter pada 2026.
Di sisi lain, kajian Bank Indonesia melalui working paper berjudul Pushing Biodiesel Boundaries: B50 & Beyond – Promise or Premature? memberikan perspektif yang lebih luas terhadap implementasi biodiesel berbasis minyak sawit. Dalam kajian tersebut, BI menyimpulkan bahwa peningkatan bauran biodiesel hingga level B50 mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus mendukung agenda hilirisasi dan ketahanan energi nasional.
Namun, BI juga mengingatkan bahwa peningkatan bauran biodiesel di atas B50 berpotensi menimbulkan konsekuensi ekonomi yang lebih besar. Kajian tersebut menunjukkan potensi kehilangan penerimaan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dapat melampaui penghematan impor solar, sementara kebutuhan subsidi biodiesel diperkirakan meningkat karena biaya produksi biodiesel masih lebih tinggi dibandingkan solar.
Selain itu, perluasan lahan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku juga dinilai berpotensi memunculkan tantangan keberlanjutan apabila tidak diimbangi peningkatan produktivitas, diversifikasi bahan baku, pembiayaan yang memadai, serta tata kelola lahan yang lebih baik.
Temuan tersebut menunjukkan implementasi B50 tidak hanya bergantung pada keberhasilan uji teknis kendaraan dan mesin diesel, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keberlanjutan fiskal, serta daya saing industri sawit nasional dalam jangka panjang.(*)