KABARBURSA.COM – Kuliner berbasis tepung aci terus menunjukkan daya tarik di pasar lokal.
Di Bandung, Jawa Barat, brand kuliner Tercabaikan muncul sebagai salah satu pelaku usaha yang berhasil mengolah makanan tradisional menjadi lebih variatif dan modern.
Mengusung menu utama seperti baso aci, Tercabaikan mampu menghadirkan beragam pilihan lain, mulai dari cimol bojot, cireng kuah, mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok.
Selain aneka ragam kuliner, Tercabaikan juga melakukan pengembangan produk melalui inovasi rasa dan variasi topping untuk menyesuaikan selera konsumen.
Kini produk Tercabaikan semakin dikenal dengan cita rasa bumbu yang kuat serta pilihan isian yang beragam. Beberapa inovasi menu yang ditawarkan antara lain kupat tahu dengan sambal geprek atau chili oil, hingga baso aci dengan varian kuah seperti keju, seblak, dan soto.
Pemilik Tercabaikan, Inggra DP mengatakan, ide bisnis tersebut bermula dari ketertarikannya terhadap kuliner baso aci saat berkunjung ke Garut, Jawa Barat.
“Usaha ini berawal dari keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Ide membuat baso aci muncul ketika saya berkunjung ke Garut dan melihat sebuah toko baso aci yang sangat ramai hingga para pembeli rela mengantre sejak subuh. Dari situ timbul rasa penasaran, lalu saya mencoba membuat versi sendiri di rumah dan menjadikannya oleh-oleh untuk keluarga,” ujarnya lewat keterangan resmi BRI, Kamis 26 Maret 2026.
Lebih lanjut, respons positif Tercabaikan juga datang dari lingkungan terdekat. Hal ini menjadi titik awal berkembangnya usaha ini. Pada 2017, Inggra juga membagikan baso aci dalam acara syukuran pernikahannya yang kemudian memicu munculnya pesanan pre-order.
Seiring waktu, Tercabaikan berkembang meski sempat menghadapi berbagai tantangan, terutama pada fase awal ketika seluruh operasional dijalankan secara mandiri, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Untuk memperluas jangkauan pasar, usaha ini memanfaatkan kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, hingga layanan pesan antar.
Dalam meningkatkan kapasitas bisnis, Inggra juga aktif mengikuti pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI di Rumah BUMN Bandung.
“Saya pertama kali mengenal LinkUMKM BRI sekitar tahun 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN. Dari sanalah saya diperkenalkan dengan berbagai program pelatihan yang disediakan oleh LinkUMKM. Menurut saya program ini sangat bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha, bahkan hingga topik-topik yang sedang tren seperti pelatihan mengenai kecerdasan buatan,” jelasnya.
Sampai akhir 2025, platform LinkUMKM dari Bank BRI telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM.
Platform ini menyediakan enam fitur utama, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB (Nomor Induk Berusaha), serta didukung ratusan modul pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya mengatakan bahwa LinkUMKM dirancang sebagai ekosistem pembelajaran bagi pelaku UMKM untuk memperkuat kapasitas usaha secara berkelanjutan.
“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kapasitas usaha melalui akses pelatihan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini. Ekosistem ini juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring sekaligus menangkap peluang pasar yang semakin berkembang di era digital. Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” pungkasnya. (info-bks/*)