KABARBURSA.COM – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memilih memperkuat optimalisasi aset tambang yang sudah dimiliki dibanding melakukan agresifitas eksplorasi cadangan baru. Strategi tersebut tercermin dari laporan kegiatan eksplorasi perseroan pada kuartal II 2026 yang menunjukkan tidak adanya aktivitas pemboran eksplorasi baru di sejumlah anak usaha pertambangan.
Bagi perusahaan tambang, eksplorasi merupakan tahap penting untuk menemukan tambahan cadangan. Namun, aktivitas tersebut juga membutuhkan biaya besar dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Ketika perusahaan sudah memiliki basis data geologi yang memadai, fokus biasanya bergeser dari pencarian sumber daya baru menuju optimalisasi cadangan yang telah teridentifikasi.
Dalam laporan kegiatan eksplorasi kuartal II 2026, TOBA menyebut sejumlah anak usahanya tidak melakukan kegiatan pengeboran eksplorasi tambahan. PT Trisensa Mineral Utama (TMU), PT Indomining (IM), dan PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) tidak menjalankan program pemboran eksplorasi baru pada periode tersebut.
Pada PT Indomining, perusahaan menyatakan data eksplorasi yang tersedia melalui model geologi saat ini sudah cukup untuk mendukung optimalisasi cadangan batubara dan perencanaan kegiatan penambangan tahun 2026.
"PT Indomining melalui model geologi saat ini sudah cukup mewakili serta memenuhi dengan jumlah distribusi titik-titik bor yang ada sangat baik untuk mengcover optimasi cadangan batubara dalam perencanaan proses penambangan geometri desain PIT selama periode untuk Tahun 2026.," demikian keterangan perusahaan dalam laporan kegiatan eksplorasi kuartal II 2026 yang dilihat Rabu, 15 Juli 2026.
Langkah tersebut menunjukkan pendekatan perseroan yang lebih menitikberatkan pada efisiensi pemanfaatan aset yang telah tersedia. Alih-alih mengalokasikan modal besar untuk mencari cadangan baru, perusahaan mengoptimalkan informasi geologi yang sudah dimiliki untuk meningkatkan akurasi perencanaan tambang.
Fokus eksplorasi TOBA sepanjang kuartal II 2026 lebih banyak diarahkan pada aktivitas pendukung operasional, seperti pembaruan model geologi, pengambilan sampel kualitas batubara, pemantauan kondisi tambang, hingga kajian teknis terkait kestabilan lereng dan aspek geoteknik.
Pada TMU, kegiatan yang dilakukan mencakup pemutakhiran data geologi, validasi model endapan batubara, serta pemantauan kondisi pit tambang. Sementara itu, Indomining melakukan pembaruan model geologi dan evaluasi data eksplorasi sebelumnya untuk mendukung rencana produksi.
Pendekatan serupa juga dilakukan ABN. Perusahaan tidak melakukan pemboran eksplorasi pada kuartal II dan belum merencanakan kegiatan pengeboran baru pada kuartal berikutnya. Aktivitas yang dilakukan lebih berfokus pada evaluasi data yang telah tersedia.
Selain mengoptimalkan aset tambang eksisting, ABN juga mulai melakukan penjajakan terhadap peluang sumber daya mineral lain. Dalam laporan tersebut, ABN menyelesaikan tujuh desk study terkait potensi pengembangan komoditas, termasuk batubara, nikel, dan emas.
Langkah ini menunjukkan perseroan tetap membuka peluang diversifikasi bisnis mineral, meski aktivitas utama saat ini masih bertumpu pada optimalisasi tambang batubara yang telah berjalan.
Strategi efisiensi modal tersebut juga sejalan dengan perjalanan transformasi bisnis TOBA dalam beberapa tahun terakhir. Perseroan mulai memperluas portofolio bisnis di luar batubara melalui pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah, serta sektor mobilitas listrik.
Dengan demikian, pengendalian belanja eksplorasi dapat menjadi bagian dari strategi menjaga fleksibilitas keuangan perusahaan. Modal yang sebelumnya berpotensi dialokasikan untuk pencarian cadangan baru dapat diarahkan untuk memperkuat lini bisnis lain yang sedang dikembangkan.
Meski tidak melakukan ekspansi eksplorasi secara agresif, TOBA tetap mempertahankan aktivitas pengelolaan tambang untuk menjaga keberlanjutan operasional. Perusahaan menilai optimalisasi data geologi, peningkatan akurasi perencanaan tambang, serta pengendalian aspek teknis menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas aset yang dimiliki.
Apa Saja Mesin Kas TOBA?
Keputusan TOBA untuk tidak melakukan pemboran eksplorasi baru pada kuartal II 2026 tidak dapat dilepaskan dari posisi bisnis batubara yang hingga kini masih menjadi penopang utama arus kas perseroan. Di saat perusahaan mempercepat transformasi menuju bisnis rendah karbon, aktivitas tambang tetap memainkan peran penting dalam menjaga operasional dan pendanaan ekspansi.
Baca Juga
Laporan keuangan konsolidasian 2025 menunjukkan TOBA membukukan pendapatan sebesar USD366 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar USD194,6 juta berasal dari segmen pertambangan dan perdagangan batubara atau setara lebih dari separuh total pendapatan perusahaan. Sementara itu, bisnis pengelolaan limbah menyumbang sekitar USD155,4 juta dan menjadi kontributor terbesar kedua dalam portofolio usaha perseroan. Data tersebut tercantum dalam laporan keuangan auditan 2025 PT TBS Energi Utama Tbk.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun TOBA terus memperluas bisnis di sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, bisnis batubara masih memegang peranan strategis sebagai sumber pendapatan utama.
Di sisi operasional, laporan tahunan 2025 mencatat produksi batubara TOBA mencapai sekitar 1,7 juta ton, sedangkan volume penjualan mendekati 2 juta ton. Perseroan juga mempertahankan biaya tunai atau cash cost pada kisaran USD47 per ton di tengah pelemahan harga batubara global. Menurut perusahaan, efisiensi operasional menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga margin usaha di tengah tekanan harga komoditas.
Strategi tersebut sejalan dengan laporan kegiatan eksplorasi kuartal II 2026 yang memperlihatkan fokus perusahaan bergeser pada pembaruan model geologi, optimalisasi cadangan, serta evaluasi teknis tambang dibanding membuka program eksplorasi baru. Dengan basis data geologi yang telah tersedia, perusahaan memilih meningkatkan akurasi perencanaan tambang dan produktivitas aset yang sudah beroperasi.
Pendekatan serupa juga tercermin dari kebijakan belanja modal. Dalam paparan perusahaan, realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) turun menjadi USD23,8 juta pada 2024 dari USD84,5 juta pada 2023. Penurunan tersebut mencerminkan pendekatan investasi yang lebih selektif seiring perusahaan mengelola prioritas pengembangan bisnis.
Di saat yang sama, transformasi bisnis TOBA terus berlanjut. Laporan tahunan 2025 mencatat perseroan telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 6 megawatt di Lampung sejak awal 2025. Perusahaan juga menargetkan proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 46 megawatt peak di Batam mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari pengembangan portofolio energi terbarukan.
Pada lini kendaraan listrik, ekosistem Electrum yang dikembangkan TOBA bersama mitra strategis telah mengoperasikan sekitar 7.500 sepeda motor listrik dan didukung 364 stasiun penukaran baterai hingga akhir 2025. Di sektor pengelolaan limbah, perusahaan terus memperluas platform bisnisnya melalui sejumlah akuisisi di Indonesia maupun Singapura sebagai bagian dari strategi memperbesar kontribusi bisnis rendah karbon.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa optimalisasi aset tambang tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung bersamaan dengan penguatan portofolio bisnis baru. Dalam konteks itu, bisnis batubara masih berfungsi sebagai penopang pendapatan, sementara investasi perusahaan secara bertahap diarahkan untuk memperbesar kontribusi sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik.(*)