KABARBURSA.COM — Ancaman krisis energi kembali muncul di tengah tekanan geopolitik dan potensi kemarau panjang akibat El Nino. Pemerintah disebut berpotensi kesulitan menjaga pasokan bahan bakar minyak di dalam negeri, apalagi ketika jalur distribusi global seperti Selat Hormuz terganggu.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih tinggi. Sekitar 20 hingga 25 persen kebutuhan minyak tanah nasional masih berasal dari kawasan Timur Tengah. Saat jalur pasokan tersendat, dampaknya langsung terasa ke dalam negeri.
Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Deendarlianto, menilai ketahanan energi Indonesia masih rapuh. Cadangan energi yang dimiliki disebut hanya cukup bertahan dalam waktu singkat jika pasokan luar terhenti.
“Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” kata Deendarlianto, dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu, 4 April 2026.
Kondisi ini berangkat dari ketimpangan antara kebutuhan dan produksi. Konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Selisih besar ini membuat impor menjadi penopang utama berbagai sektor.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah mulai mendorong langkah antisipasi melalui energi terbarukan. Salah satunya lewat kebijakan B50, yakni pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel ke dalam solar untuk menekan impor. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Deendarlianto melihat langkah tersebut sebagai upaya yang patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan tambahan seperti work from home tidak bisa serta-merta menjadi solusi tunggal.
“Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi,” ujarnya.
Menurut dia, penguatan energi alternatif perlu didorong lebih luas. Pengembangan etanol dari bahan hayati seperti sorgum dan ketela bisa menjadi pengganti bensin. Selain itu, pengembangan Dimethyl Ether juga dinilai penting sebagai substitusi liquefied petroleum gas.
“Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi,” ujarnya.
Ancaman tidak hanya datang dari sisi geopolitik. Fenomena El Nino yang diperkirakan muncul pada semester kedua 2026 juga berpotensi memperparah tekanan. Sektor energi dan pertanian menjadi yang paling rentan.
Operasional pembangkit listrik tenaga air bisa terganggu akibat berkurangnya debit air. Di sisi lain, sektor pertanian akan membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air saat musim kemarau.
“Beberapa sumber energi terbarukan yang bisa digunakan untuk menggantikan solar yaitu penggunaan mikroalga, biodiesel, hingga penggunaan energi surya,” katanya.
Di titik ini, persoalan energi tidak lagi sekadar soal pasokan, tetapi juga soal arah kebijakan. Deendarlianto menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjalankan Rencana Umum Energi Nasional agar tidak berhenti di atas kertas.
Ia menilai pengembangan industri energi dalam negeri menjadi kunci agar ketahanan energi tidak terus bergantung pada impor.
“Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” katanya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.