Logo

Aluminium Melonjak, Mesin Laba Baru ADMR Mulai Bergerak

Gangguan pasokan aluminium dari kawasan Teluk mendorong harga LME ke atas USD3.300 per ton. Di saat yang sama, smelter aluminium ADMR di Kalimantan Utara mulai memasuki fase produksi awal dengan potensi kontribusi pendapatan baru.

Terbit 06 Mar 2026 • Jurnalis Yunilawati

Aluminium Melonjak, Mesin Laba Baru ADMR Mulai Bergerak

KABARBURSA.COM - Lonjakan harga aluminium global pada awal Maret 2026 tidak hanya mencerminkan reaksi pasar terhadap memanasnya konflik di Timur Tengah, tetapi juga menunjukkan tekanan riil pada rantai pasok logam dunia. 

Harga aluminium di bursa London Metal Exchange (LME) ditutup di kisaran USD3.296 per ton pada perdagangan Kamis waktu setempat, 5 Maret 2026. Harga lalu bergerak ke sekitar USD3.375 per ton dalam pembaruan berikutnya. 

Dari level sekitar USD3.157 per ton pada 28 Februari 2026, harga itu berarti sudah naik sekitar 5 persen hingga 6,4 persen hanya dalam waktu sepekan dan membawa penguatan tahun berjalan menjadi sekitar 10 persen.

Kenaikan tersebut muncul saat pasar menghadapi gangguan pasokan dari dua produsen besar di kawasan Teluk. Aluminium Bahrain (Alba), pemilik smelter aluminium terbesar di luar China dengan kapasitas sekitar 1,6 juta ton per tahun, menghentikan pengiriman dan menyatakan force majeure setelah pelayaran di Selat Hormuz terganggu. 

Di saat bersamaan, Qatalum di Qatar dengan kapasitas sekitar 600 ribu ton per tahun menghentikan operasi smelternya akibat pasokan gas yang terputus, dengan estimasi penghentian penuh pada akhir Maret dan masa pemulihan 6 hingga 12 bulan.

Dalam konteks pasar global, tekanan itu cukup material. Produksi aluminium dunia diperkirakan berada di kisaran 70 juta hingga 72 juta ton per tahun, sementara sekitar 5 juta ton aluminium global atau sekitar 7 persen hingga 9 persen kapasitas dunia melewati Selat Hormuz setiap tahun. 

Artinya, konflik di kawasan itu tidak hanya menekan pasar energi, tetapi juga menyentuh jalur distribusi logam primer ke Asia, Eropa, dan Amerika Utara. 

Jalur yang sama juga penting untuk pasokan bahan baku seperti alumina ke smelter di kawasan Teluk, sehingga gangguan logistik berpotensi menekan ekspor logam jadi sekaligus mengganggu suplai input produksi.

Tekanan ini datang pada saat struktur biaya industri smelter juga ikut naik. Harga minyak mentah melonjak sekitar 12 persen dalam lima hari pertama konflik, sementara harga gas global ikut terdorong. 

Di industri aluminium yang sangat padat listrik, kenaikan energi langsung memengaruhi keekonomian operasi. Pasar karena itu tidak hanya menghitung volume pasokan yang terganggu, tetapi juga risiko kenaikan biaya produksi pada smelter-smelter global.

Bagi pasar modal domestik, perubahan ini mulai membuka ruang pembacaan baru terhadap PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Melalui kepemilikan di PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), ADMR terhubung dengan proyek smelter aluminium yang sedang masuk fase operasional awal di Kalimantan Utara. 

Ketika pasokan global mengetat dan harga aluminium bergerak naik, proyek ini mulai dipantau bukan semata sebagai agenda ekspansi jangka panjang, tetapi sebagai calon mesin kontribusi baru yang masuk pada saat harga komoditas berada di level lebih tinggi.

Ingin Akses Lengkap Analisa Ini?

Anda sedang membaca bagian pembuka dari laporan analisis eksklusif. Untuk mendapatkan insight penuh, termasuk data penting dan proyeksi pasar. Ayo, segera upgrade ke Investor Pro sekarang juga.

Buka Akses Premium

Termasuk majalah bulanan, webinar eksklusif, dan forum diskusi bersama analis.