Antusiasme Ritel dan Asing Menguat di Saham PGEO, Ada Apa?
Lonjakan volume transaksi dan arus beli investor ritel serta asing memicu tanda tanya apakah ini sinyal ekspansi nyata atau sekadar dinamika trading jangka pendek?
Terbit 10 Feb 2026 • Jurnalis Rio Alpin Pulungan
KABARBURSA.COM — Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menjadi pusat perhatian di bursa awal Februari 2026 setelah mencatatkan anomali volume perdagangan yang signifikan. Data pasar menunjukkan adanya aksi "perebutan" saham oleh investor ritel dan institusi asing, di tengah rotasi kepemimpinan dan kemenangan lelang blok baru di Sumatera Barat. Namun, pola transaksi pemodal besar (Smart Money) yang cenderung melepas kepemilikan dalam durasi singkat.
Sepanjang pekan pertama Februari 2026, PGEO bergerak volatil dengan harga tertahan di level Rp1.135-Rp1.140 per lembar. Anomali rill terlacak pada akhir Januari lalu, di mana volume transaksi melonjak drastis hingga 187,68 juta lembar dalam sehari. Menariknya, lonjakan volume ini dibarengi tekanan jual yang menyeret harga turun tajam sehingga mengonfirmasi adanya distribusi masif oleh pemodal kakap atau para "Sultan".
Sentimen positif dari penunjukan Ahmad Yani sebagai Direktur Utama yang baru serta potensi pendanaan hijau senilai Rp10,2 triliun dari World Bank menjadi bahan bakar utama bagi investor ritel untuk terus menambah posisi. Sebaliknya, institusi lokal justru memanfaatkan likuiditas dari antusiasme publik ini untuk keluar-masuk pasar secara cepat demi mengamankan keuntungan jangka pendek.
Secara fundamental, PGEO tetap menjadi mesin pencetak uang dengan margin laba bersih (NPM) yang fantastis di angka 48,54%. Perusahaan mengantongi tumpukan kas sebesar Rp10,48 triliun dengan rasio utang yang sangat rendah (0,38 kali). Stabilitas keuangan ini menjadi bantalan yang kuat di tengah fluktuasi ekonomi makro.
Namun, dari kacamata valuasi, PGEO mulai terlihat mahal. Dengan Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 21,74 kali, harga saat ini sudah 15 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata historisnya. Hal inilah yang ditengarai menjadi alasan mengapa investor institusi belum mau "mengunci" saham ini sebagai aset inti dan lebih memilih strategi trading. Pasar masih menanti bukti rill apakah manajemen baru mampu mempercepat penyerapan belanja modal untuk proyek 1 Gigawatt yang selama ini tersendat.
Secara teknikal, PGEO sedang berupaya merangkak naik setelah menyentuh titik terendah di Rp965 pada Januari lalu. Saat ini, harga Rp1.135 sudah melampaui indikator MA5 dan MA50, memberikan sinyal perbaikan tren mingguan. Area resistensi kritis kini berada di kisaran Rp1.150 hingga Rp1.170. Jika harga mampu bertahan di atas titik pivot Rp1.131, peluang untuk menguji level lebih tinggi tetap terbuka, asalkan didorong oleh volume beli yang lebih stabil.
EKSKLUSIF INVESTOR PRO
Dibalik dinamika harga saat ini, terdapat rahasia operasional dan proyeksi masa depan yang menentukan nasib portofolio Anda. Di versi Investor Pro, kami membedah data yang tidak muncul di permukaan:
- Audit Forensik Capex: Mengapa realisasi belanja modal PGEO baru menyentuh 1,57 persen dan bagaimana dampaknya ke laba 2027?
- Duel Valuasi PGEO vs BREN: Siapa yang lebih murah secara rill untuk jangka panjang?
- Analisa Proyek 1 GW: Bedah detail percepatan kapasitas di Lumut Balai dan Hululais yang bisa mengubah nasib PGEO menjadi raksasa EBT dunia.
- Target Harga Konsensus: Mengapa analis UBS dan CLSA berani memasang target di Rp1.755 saat para "Sultan" sedang jualan?
Ingin Akses Lengkap Analisa Ini?
Anda sedang membaca bagian pembuka dari laporan analisis eksklusif. Untuk mendapatkan insight penuh, termasuk data penting dan proyeksi pasar. Ayo, segera upgrade ke Investor Pro sekarang juga.
Buka Akses PremiumTermasuk majalah bulanan, webinar eksklusif, dan forum diskusi bersama analis.