KABARBURSA.COM - PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan akumulasi yang signifikan oleh investor asing pada pekan lalu periode 29 Juni - 3 Juli 2026.
TP menjadi broker yang menampung dana asing terbesar dengan nilai Rp47,5 miliar (137,4 ribu lot, 1,2 ribu frekuensi, rata-rata Rp3.456), disusul erat oleh broker BK sebesar Rp40,5 miliar (125,4 ribu lot, 5,8 ribu frekuensi, rata-rata Rp3.266), dan broker IF senilai Rp38,6 miliar (112 ribu lot, 852 frekuensi, rata-rata Rp3.449).
Selanjutnya, akumulasi dalam skala menengah dicatatkan oleh broker AK senilai Rp9 miliar (27,6 k lot, 5,1 ribu frekuensi, rata-rata Rp3.302), broker CC sebesar Rp3,9 miliar (12,3 ribu lot, 1,3 ribu frekuensi, rata-rata Rp3.282), serta broker ZP sebesar Rp2,2 miliar (6,8 ribu lot, 1,2 ribu frekuensi, rata-rata Rp3.321).
Sementara itu, pembelian dengan nilai yang lebih kecil dibukukan oleh broker AG senilai Rp42,6 juta (133 lot, 1 frekuensi, rata-rata Rp3.200), broker YP senilai Rp15 juta (55 lot, 12 frekuensi, rata-rata Rp3.377), broker SQ sebesar Rp698 ribu (2 lot, 1 frekuensi, rata-rata Rp3.490), dan broker OD senilai Rp648 ribu (2 lot, 1 frekuensi, rata-rata Rp3.240).
Di sisi lain, tekanan jual dari investor asing terkonsentrasi kuat pada beberapa broker utama. Distribusi paling masif dipimpin oleh broker DP dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp71,5 miliar. Posisi kedua ditempati oleh broker PD dengan penjualan sebesar Rp2,1 miliar, diikuti oleh broker YU sebesar Rp1,4 miliar.
Selanjutnya, aksi lepas portofolio asing lainnya dicatatkan secara berurutan oleh broker BB senilai Rp803,5 juta, broker LG sebesar Rp389,7 juta, broker KK sebesar Rp126,8 juta, broker GR sebesar Rp25,9 juta, broker KZ sebesar Rp21,1 juta, dan terakhir ditutup oleh penjualan dari broker EP senilai Rp19,8 juta.
Harga saham BREN mendarat di zona hijau pada akhir perdagangan terakhir pekan lalu atau Jumat, 3 Juli 2026 di level Rp3.400 atau naik 4,62 persen.
Akumulasi dalam sepekan terakhir juga membukukan rapor hijau tipis 1,49 persen dengan area fluktuasi di kisaran Rp3.040 sampai Rp3.550. Namun, memasuki periode bulanan hingga tahunan, saham BREN terpantau masih terjebak di zona merah.
Pada periode satu bulan terakhir, harga saham ini terkoreksi sebesar 15,00 persen dalam rentang harga Rp3.040 hingga Rp4.460. Dalam periode tiga bulan terakhir, pelemahan menukik hingga minus 29,17 persen di kisaran harga Rp2.300 sampai Rp6.700.
Untuk periode enam bulan terakhir , pergerakan saham ambles minus 64,86 persen di area harga Rp2.300 hingga Rp9.800. Secara kinerja berjalan sepanjang tahun ini (Year-to-Date/YTD), saham BREN mencatatkan penurunan tipis di atasnya yaitu sebesar minus 64,95 persen di rentang harga Rp2.300 sampai Rp9.800.
Dalam basis tahunan atau satu tahun terakhir,, saham BREN membukukan rapor merah terdalam hingga minus 40,35 persen, bergerak dari harga terendah Rp2.300 menuju level puncak historisnya di Rp10.725 per lembar saham.
Valuasi BREN
Saham BREN diperdagangkan dengan premi valuasi yang cukup tinggi di pasar reguler setelah menutup perdagangan harian di level Rp3.400 per lembar saham. Berdasarkan data keuangan teranyar di Stockbit, emiten energi terbarukan ini mencatatkan rasio pasar yang premium dibarengi tingkat marjin laba kotor yang tebal.
Dari sisi penilaian pasar, BREN memiliki Current PE Ratio (TTM) yang sangat tinggi di level 194,43 kali dan PE Ratio (Annualised) sebesar 156,84 kali.
Rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) berada di angka 39,33 kali, sedangkan rasio Current Price to Sales (TTM) tercatat sebesar 44,22 kali.
Dari sisi arus kas, Current Price to Cashflow (TTM) berada di level 110,86 kali dengan EV to EBITDA (TTM) sebesar 54,53 kali. Nilai per saham emiten menunjukkan Current EPS (TTM) sebesar Rp17,49, Revenue Per Share (TTM) Rp76,90, serta Current Book Value Per Share senilai Rp86,45.
Beralih ke aspek profitabilitas, BREN membukukan angka operasional yang superior dengan Gross Profit Margin (Quarter) mencapai 100,00 persen. Rasio Operating Profit Margin (Quarter) juga tercatat tinggi di level 73,53 persen, yang menghasilkan marjin laba bersih atau Net Profit Margin (Quarter) sebesar 26,04 persen.
Tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) TTM bertengger di angka 20,23 persen, sementara Return on Assets (ROA) TTM tercatat sebesar 3,49 persen.
Di sisi solvabilitas dan neraca keuangan, perseroan memiliki struktur modal dengan rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (Quarter) di level 3,04 kali. Untuk indikator likuiditas jangka pendek, BREN mengantongi Current Ratio (Quarter) sebesar 1,71 kali serta Quick Ratio (Quarter) sebesar 1,66 kali.
BREN juga tercatat membagikan keuntungan kepada pemegang saham dengan Dividend Yield sebesar 0,12 persen dan Payout Ratio di angka 18,87 persen.
Nilai Dividend (TTM)byang dibukukan adalah Rp4,09 per lembar saham, di mana tanggal pemecahan dividen paling akhir baru saja jatuh pada 3 Juli 2026.
Catat Kinerja Positif Kuartal I 2026
BREN membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026 setelah meraup laba bersih sebesar USD43 juta. Angka ini tumbuh dibanding periode serupa tahun lalu yang sebesar USD34 juta.
Kenaikan laba tersebut tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan yang diraih emiten Prajogo Pangestu ini pada tiga bulan pertama tahun 2026.
Pendapatan BREN pada kuartal I 2026 sebesar USD165,17 juta atau naik sekitar 9,8 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang sebesar USD150,48 juta.
Beban manfaat karyawan pada awal tahun 2026 ini menjadi USD10,59 juta dari USD11,84 juta. Sedangkan beban lainnya ikut menutun menjadi USD11,53 juta dari USD12,34 juta.
BREN sukses menjaga profitabilitas lewat efisiensi biaya serta penurunan beban bunga menjadi USD27,79 juta dari USD29,22 juta pada periode yang sama tahun 2025.
Laba sebelum pajak BREN pada kuartal I 2026 sebesar USD91,18 juta atau meningkat dibandingkan tiga bulan pertama 2025 yang senilai USD77,19 juta.
Berpindah ke sisi neraca, hingga 31 Maret 2026 total aset BREN mencapai USD3,94 miliar atau meningkat dari USD3,87 miliar dibanding akhir 2025.
Pertumbuhan aset tersebut didukung oleh kenaikan kas dan setara kas menjadi USD168,68 juta dari USD114,99 juta, serta bertambahnya aset tetap menjadi USD906,48 juta dari USD846,07 juta.
Adapun total ekuitas BREN pada kuartal I meningkat menjadi USD936,44 juta dari USD883,52 juta pada akhir tahun lalu. Sementara emiten ini mencatat liabilitas USD3,01 miliar atau meningkat dibanding akhir tahun lalu sebesar USD2,98 miliar.
Sementara dari sisi arus kas, BREN membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar USD77,27 juta, meningkat dibandingkan USD62,12 juta pada kuartal I 2025.
Kesimpulan yang Perlu Dicermati
Saham BREN mencatatkan pemulihan jangka pendek dengan ditutup menguat 4,62 persen ke level Rp3.400 pada perdagangan terakhir pekan lalu. Angka ini menjadikan BREN tumbuh 1,49 persen dalam sepekan yang ditopang oleh aksi akumulasi asing via broker TP (Rp47,5 miliar), BK (Rp40,5 miliar), dan IF (Rp38,6 miliar), meskipun kinerja tahun berjalan (YTD) masih terkoreksi dalam minus 64,95 persen.
Secara fundamental, pertumbuhan operasional perseroan terpantau solid pada Kuartal I 2026 dengan raihan laba bersih yang tumbuh menjadi USD43 juta didorong kenaikan pendapatan 9,8 persen menjadi USD165,17 juta.
Catatan tersebut menghasilkan Gross Profit Margin 100 persen serta ROE sebesar 20,23 persen. Kendati demikian, investor perlu mencermati posisi harga saat ini yang diperdagangkan dengan Current PE Ratio (TTM) sebesar 194,43 kali, rasio PBV 39,33 kali, serta struktur modal dengan rasio utang terhadap ekuitas di level 3,04 kali dengan total liabilitas mencapai USD3,01 miliar. (*)
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.