Insight Daily 10 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com

Gonjang-ganjing IHSG Tak Halangi Akumulasi Asing di CPIN

Data menunjukkan mayoritas analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham CPIN.

KABARBURSA.COM - Ketika beberapa waktu terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gonjang-ganjing di tengah tekanan sentimen global, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) justru menunjukkan arah berbeda. Investor asing tercatat konsisten melakukan akumulasi terhadap saham emiten agribisnis ini.PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada pekan lalu ...

PT Charoen Pokphand Indonesia atau CPIN. Foto: Dok CPIN.
PT Charoen Pokphand Indonesia atau CPIN. Foto: Dok CPIN.

Insight Navigator

  1. 01 Rekomendasi dan Pergerakan Harga Saham CPIN
  2. 02 Kinerja Keuangan Kuartal III 2025

KABARBURSA.COM - Ketika beberapa waktu terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gonjang-ganjing di tengah tekanan sentimen global, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) justru menunjukkan arah berbeda. Investor asing tercatat konsisten melakukan akumulasi terhadap saham emiten agribisnis ini.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada  pekan lalu periode 2-6 Februari 2026, IHSG mengalami penurunan sebesar 4,73 persen. Alhasil, indeks ditutup pada level 7.935,260, dari posisi 8.329,606 pada pekan sebelumnya.

Meski IHSG terkoreksi, saham CPIN terpantau ramai diakumulasi investor asing melalui beberapa broker pada pekan lalu atau 2-6 Februari 2026.

UBS Sekuritas Indonesia (AK) tercatat menjadi broker dengan pembelian terbesar dengan nilai beli mencapai sekitar Rp16,9 miliar, setara 37,7 ribu lot di harga Rp4.463 per saham.

Aktivitas ini diikuti oleh broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU) yang membukukan nilai beli sekitar Rp15,5 miliar dengan volume 34,6 ribu lot, dan harga rata-rata Rp4.474. Dua broker ini menyumbang porsi signifikan dalam total akumulasi asing selama pekan lalu.

Di bawahnya, broker CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) juga tercatat melakukan pembelian senilai Rp4,4 miliar dengan 9,8 ribu lor di harga rata-rata Rp4.493, sementara Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) membukukan nilai beli sekitar Rp2,1 miliar dengan 4,7 ribu lot pada harga Rp4.475.

Selain itu, broker OCBC Sekuritas Indonesia (TP) mencatat pembelian senilai Rp951 juta dengan 2,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp4.380, sementara Verdhana Sekuritas Indonesia (BB) dan KGI Sekuritas Indonesia (HD) juga tercatat melakukan pembelian meski dengan nilai yang lebih kecil.

Di sisi lain, tekanan jual dari investor asing tetap ada, namun nilainya relatif lebih kecil dibandingkan sisi pembelian. Broker Mandiri Sekuritas (CC) tercatat sebagai penjual terbesar dengan nilai jual sekitar Rp4,8 miliar dan volume 10,7 ribu lot.

Disusul oleh broker Kiwoom Sekuritas Indonesia (AG) yang mencatat penjualan sekitar Rp4,3 miliar dengan 9,7 ribu lot, serta JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) dengan nilai jual sekitar Rp1,3 miliar.

Tak hanya itu, pada perdagangan kemarin, Senin, 9 Februari 2026, investor asing terpantau  masih mengakumulasi saham CPIN. Berdasarkan data perdagangan, broker ZP tercatat menjadi pembeli terbesar saham CPIN pada hari tersebut.

Nilai beli yang dibukukan ZP mencapai sekitar Rp5,6 miliar, dengan volume transaksi sekitar 12,5 ribu lot, pada harga rata-rata Rp4.500 per saham. Aktivitas ZP menjadi penopang utama sisi akumulasi asing dan menempatkannya sebagai kontributor terbesar dalam transaksi hari itu.

Di bawah ZP, broker BB mencatat pembelian senilai Rp2,5 miliar dengan volume 5,5 ribu lot dan harga rata-rata Rp4.530. Selanjutnya, broker Macquarie Sekuritas Indonesia (RX) membukukan nilai beli sekitar Rp1,9 miliar dengan 4,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp4.503. Pembelian juga datang dari broker CC yang mencatat nilai beli Rp1,6 miliar dengan 3,6 ribu lot di harga Rp4.502.

Sementara itu, broker YU turut memperkuat sisi beli dengan transaksi senilai sekitar Rp1,1 miliar dan volume 2,6 ribu lot, juga di kisaran harga Rp4.502. Broker BK melengkapi daftar pembeli dengan nilai transaksi sekitar Rp536,7 juta dan volume 1,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp4.505.

Di sisi sebaliknya, tekanan jual asing pada perdagangan kemarin terlihat jauh lebih terbatas. Broker AK tercatat sebagai penjual terbesar, namun dengan nilai jual yang relatif kecil, yakni sekitar Rp134,1 juta dengan volume hanya 290 lot.

Broker HD menyusul dengan nilai jual sekitar Rp63,8 juta dan volume 142 lot, sementara broker AG mencatat penjualan senilai sekitar Rp7,2 juta dengan volume 16 lot.

Minimnya nilai dan volume pada sisi jual menciptakan kontras yang cukup jelas dengan aktivitas pembelian. Jika dibandingkan, total nilai jual asing berada jauh di bawah total nilai beli, sehingga memperlihatkan kecenderungan net buy asing yang kuat pada saham CPIN dalam satu hari perdagangan tersebut.

Rekomendasi dan Pergerakan Harga Saham CPIN

Data menunjukkan mayoritas analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham CPIN. Berdasarkan data 22 analis Stockbit,  sebanyak 20 analis merekomendasikan beli, sementara masing-masing 1 analis memberikan rekomendasi tahan dan 1 analis merekomendasikan jual.

Sejalan dengan itu, target harga rata-rata analis untuk saham CPIN tercatat di level Rp5.902 per saham. Target tertinggi berada di kisaran Rp6.825, sedangkan target terendah berada di level Rp3.900. Pada saat data tersebut diambil, harga saham CPIN berada di level Rp4.530, sehingga secara matematis masih berada di bawah target konsensus rata-rata analis.

Dari sisi pergerakan harga, CPIN menunjukkan performa yang beragam tergantung pada horizon waktu. Dalam jangka waktu satu minggu, harga saham ini tercatat naik 2,03 persen.

Pada periode satu bulan, saham CPIN masih mencatat kenaikan terbatas sebesar 0,67 persen, dengan rentang pergerakan antara Rp3.850 hingga Rp4.590. Namun, jika ditarik ke periode tiga bulan, kinerja saham tercatat melemah 1,95 persen.

Dalam horizon enam bulan, CPIN kembali mencatat kenaikan tipis sebesar 0,67 persen, sementara secara year to date (YTD) pergerakan harga relatif datar dengan kenaikan 0,44 persen.

Namun, jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, tekanan masih terlihat. Dalam periode satu tahun, saham CPIN tercatat turun 1,52 persen. Tekanan semakin jelas pada horizon tiga tahun dengan koreksi 21,22 persen, serta lima tahun yang mencatat penurunan 23,22 persen.

Sebaliknya, dalam jangka sangat panjang, kinerja CPIN masih mencerminkan pertumbuhan. Dalam periode 10 tahun, saham ini mencatat kenaikan 22,60 persen, dengan rentang harga bergerak dari sekitar Rp2.590 hingga Rp8.825.

Kinerja Keuangan Kuartal III 2025

Pada kuartal III 2025, CPIN membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp50,60 triliun, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp49,72 triliun.

Di tengah kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp42,53 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp42,74 triliun. Pergerakan dua pos ini mendorong laba bruto CPIN meningkat menjadi Rp8,07 triliun, dari sebelumnya Rp6,98 triliun pada 9M 2024.

Secara keseluruhan, laba sebelum pajak CPIN tercatat sebesar Rp4,67 triliun, meningkat dari Rp3,05 triliun pada kuartal III tahun 2024. CPIN sendiri sukses membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp3,37 triliun, naik dibandingkan Rp2,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp3,37 triliun.

Dari sisi posisi keuangan, total aset CPIN per 30 September 2025 tercatat sebesar Rp43,72 triliun, meningkat dibandingkan Rp42,79 triliun per 31 Desember 2024. Aset lancar mencapai Rp22,33 triliun, dengan komposisi utama berupa persediaan sebesar Rp9,61 triliun, aset biologis lancar sebesar Rp4,96 triliun, serta kas dan setara kas sebesar Rp4,19 triliun.

Sementara itu, aset tidak lancar tercatat sebesar Rp21,39 triliun, relatif stabil dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Aset tetap menjadi kontributor utama dengan nilai Rp17,22 triliun, disusul oleh aset pajak tangguhan sebesar Rp1,40 triliun dan goodwill sebesar Rp444,80 miliar.

Di sisi liabilitas, total liabilitas CPIN tercatat sebesar Rp11,81 triliun, turun dibandingkan Rp12,50 triliun pada akhir 2024. Penurunan terutama berasal dari liabilitas jangka pendek yang turun menjadi Rp7,88 triliun dari sebelumnya Rp8,59 triliun, seiring berkurangnya utang bank jangka pendek dari Rp5,40 triliun menjadi Rp4,25 triliun. Liabilitas jangka panjang relatif stabil di kisaran Rp3,93 triliun.

Mengutip dara Stockbit, kinerja fundamental CPIN menunjukkan struktur keuangan yang relatif solid, tercermin dari rasio likuiditas, solvabilitas, serta profitabilitas yang masih berada pada level terjaga.

Dari sisi likuiditas, CPIN mencatat current ratio sebesar 2,83 pada basis kuartalan. Sementara itu, quick ratio berada di level 1,61. Kedua rasio ini mencerminkan fleksibilitas likuiditas yang relatif longgar dalam mendukung aktivitas operasional.

Pada aspek struktur permodalan, debt to equity ratio (DER) CPIN tercatat sebesar 0,22. Rasio ini menunjukkan bahwa porsi utang perseroan relatif kecil dibandingkan dengan ekuitas. 
.
Dari sisi profitabilitas, CPIN mencatat return on assets (ROA) trailing twelve months (TTM) sebesar 10,73 persen. Angka ini mencerminkan kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki. Sementara itu, return on equity (ROE) TTM berada di level 14,71 persen, menunjukkan tingkat pengembalian terhadap modal pemegang saham yang relatif stabil.

Jika dilihat lebih rinci pada margin laba, gross profit margin kuartalan tercatat sebesar 19,08 persen, mencerminkan ruang laba kotor yang masih terjaga di tengah dinamika biaya produksi.

Pada level operasional, operating profit margin berada di angka 13,09 persen, menunjukkan efisiensi operasional setelah memperhitungkan beban penjualan serta administrasi. Adapun net profit margin kuartalan tercatat sebesar 8,35 persen, yang menggambarkan laba bersih yang berhasil dipertahankan setelah seluruh beban dan pajak diperhitungkan.

Secara keseluruhan, data rasio keuangan ini menggambarkan kondisi fundamental CPIN yang relatif terjaga, baik dari sisi likuiditas, struktur utang, maupun kemampuan menghasilkan laba. Statistik tersebut menjadi bagian penting dalam membaca bagaimana posisi keuangan perseroan terbentuk di tengah dinamika industri pangan dan protein hewani, serta pergerakan pasar saham yang masih fluktuatif. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya