Market Watch

09 Jul 2026

MMIX 785 +23,62%
JAST 93 +20,78%
DEWA 336 +12,75%
SOCI 344 +12,42%
LEAD 102 +9,68%
LMAX 102 +9,68%
BMSR 308 +9,22%
YELO 75 +8,70%
VKTR 540 +8,00%
PJHB 167 +7,74%
MDIA 73 +7,35%
NICK 1.045 +7,18%
POLA 61 +7,02%
WOWS 61 +7,02%
SMKM 67 +6,35%
PPRO 17 +6,25%
RUIS 206 +6,19%
ENRG 1.245 +5,96%
HADE 18 +5,88%
WMPP 18 +5,88%
ALII 725 +5,84%
SICO 113 +5,61%
ESSA 570 +5,56%
SOFA 234 +5,41%
MMIX 785 +23,62%
JAST 93 +20,78%
DEWA 336 +12,75%
SOCI 344 +12,42%
LEAD 102 +9,68%
LMAX 102 +9,68%
BMSR 308 +9,22%
YELO 75 +8,70%
VKTR 540 +8,00%
PJHB 167 +7,74%
MDIA 73 +7,35%
NICK 1.045 +7,18%
POLA 61 +7,02%
WOWS 61 +7,02%
SMKM 67 +6,35%
PPRO 17 +6,25%
RUIS 206 +6,19%
ENRG 1.245 +5,96%
HADE 18 +5,88%
WMPP 18 +5,88%
ALII 725 +5,84%
SICO 113 +5,61%
ESSA 570 +5,56%
SOFA 234 +5,41%
Makro 09 Jul 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Syahrianto

BI Catat Banyak Masyarakat Ogah Belanja di Mei, bikin Sektor ini Jatuh 18 Persen

Laporan Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia (BI) kuak jatuhnya daya beli produk informasi dan komunikasi sebesar 18,4 persen.

BI catat penjualan sektor peralatan informasi jatuh 18,4 persen pada Mei 2026 imbas lesunya konsumsi. Simak detail Indeks Penjualan Riil lengkap di sini.

Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran nasional pada Mei 2026 relatif stabil meskipun sebagian masyarakat menahan diri untuk berbelanja pada sejumlah sektor komoditas tertentu. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran nasional pada Mei 2026 relatif stabil meskipun sebagian masyarakat menahan diri untuk berbelanja pada sejumlah sektor komoditas tertentu. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

Daftar Isi

  1. 01 Proyeksi Kinerja Penjualan Eceran Juni 2026

KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran nasional pada Mei 2026 relatif stabil meskipun sebagian masyarakat menahan diri untuk berbelanja pada sejumlah sektor komoditas tertentu. 

Berdasarkan laporan resmi Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Kamis, 9 Juli 2026, kontraksi paling dalam terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi yang anjlok hingga 18,4 persen secara tahunan.

Penurunan tajam pada sektor teknologi dan komunikasi tersebut menjadi indikator utama melemahnya daya beli masyarakat untuk barang-barang sekunder. 

Di sisi lain, perbaikan performa bulanan secara umum masih tertolong oleh adanya momentum hari besar keagamaan sepanjang bulan Mei.

"Realisasi Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 tercatat sebesar 223,4," tulis Bank Indonesia dalam dokumen laporan resminya. 

"Kinerja tersebut secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 3,9 persen (yoy), relatif stabil dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar minus 3,7 persen (yoy)," lanjut BI dalam keterangan tertulis tersebut.

Penurunan performa eceran terbesar dialami oleh Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang jatuh sebesar 18,4 persen (yoy). Selain sektor teknologi, Subkelompok Sandang juga ikut terperosok cukup dalam dengan mencatatkan kontraksi sebesar 12,0 persen (yoy). 

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang biasanya menjadi tumpuan utama konsumsi masyarakat juga tidak luput dari zona negatif karena menyusut 4,1 persen (yoy).

Meskipun secara tahunan banyak sektor utama yang berguguran, kinerja penjualan eceran secara bulanan justru memperlihatkan tanda-tanda perbaikan yang cukup signifikan. BI mencatat penjualan eceran bulanan pada Mei 2026 hanya turun sebesar 1,5 persen (mtm). Angka penurunan bulanan ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi pada April 2026 yang sempat anjlok sedalam 11,6 persen (mtm).

"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh terjaganya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional," jelas BI dalam laporan publikasi tersebut. 

"Faktor pendorong utama bersumber dari perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak yang jatuh pada bulan yang sama," tambah bank sentral menunjuk penyebab membaiknya tren bulanan.

Secara bulanan, Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi sebenarnya mulai bangkit dengan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,0 persen (mtm). Performa ini membalikkan keadaan dari bulan April 2026 yang sempat mencatatkan kontraksi bulanan sangat parah di level minus 9,4 persen (mtm). 

Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor juga ikut menjadi penyelamat kinerja bulanan dengan tumbuh sebesar 1,3 persen (mtm).

Apabila ditinjau berdasarkan wilayah atau spasial, performa penjualan eceran tahunan pada Mei 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif di beberapa kota besar. 

Kota Jakarta memimpin pertumbuhan tahunan tertinggi dengan realisasi kenaikan mencapai 12,8 persen (yoy). Posisi kedua diikuti oleh Kota Medan yang mencatatkan pertumbuhan tahunan tipis sebesar 2,1 persen (yoy).

Sementara itu, untuk pertumbuhan penjualan eceran secara bulanan, Kota Makassar dan Kota Bandung menjadi wilayah dengan akselerasi paling kuat. Kota Makassar mencatatkan pertumbuhan bulanan sebesar 3,8 persen (mtm), sedangkan Kota Bandung menyusul dengan kenaikan 1,0 persen (mtm). Realisasi kedua kota ini melesat dari bulan sebelumnya yang sempat terkontraksi masing-masing sebesar minus 16,6 persen (mtm) dan minus 17,6 persen (mtm).

Proyeksi Kinerja Penjualan Eceran Juni 2026

Untuk periode selanjutnya yaitu Juni 2026, BI memprakirakan kinerja penjualan eceran nasional akan tetap terjaga di zona positif. Indeks Penjualan Riil pada Juni 2026 diproyeksikan akan berada pada level 221,6 atau tumbuh sebesar 4,4 persen secara tahunan. 

Pendorong utama dari pertumbuhan Juni ini diperkirakan berasal dari Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.

Secara bulanan, penurunan penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan akan terus menyusut menjadi hanya sebesar minus 0,8 persen (mtm). Perbaikan performa bulanan yang semakin kuat ini didorong oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026. 

Sektor yang diperkirakan akan melonjak paling tajam selama musim liburan sekolah tersebut adalah Subkelompok Sandang yang diproyeksikan tumbuh 4,7 persen (mtm).

Sebagai informasi latar belakang, Survei Penjualan Eceran atau SPE merupakan agenda riset bulanan yang konsisten dilaksanakan oleh BI sejak September 1999. 

Survei ini bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan Produk Domestik Bruto dari sisi konsumsi rumah tangga. Sejak Januari 2015, Bank Indonesia melibatkan 700 pengecer besar sebagai responden tetap.

Riset berskala nasional ini menggunakan metode penarikan sampel bertujuan atau purposive sampling yang tersebar secara merata di 10 kota besar Indonesia. Kota-kota cakupan survei tersebut meliputi Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, Purwokerto, Makassar, Manado, Banjarmasin, dan Denpasar. 

Seluruh perhitungan indeks dalam survei komprehensif ini mengacu pada tahun dasar 2010 dengan nilai standar sebesar 100.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
Syahrianto
Ass. Redaktur

Syahrianto

Jurnalis ekonomi dan pasar modal yang berpengalaman dalam menulis, menyunting, dan mengkurasi naskah harian serta konten analisis mendalam (in-depth analysis) seperti Insight Daily dan Insight Emiten yang berbasis data dan SEO. Secara reguler, mengarahkan reporter dan berkolaborasi dengan redaksi maupun lintas dividi, sekaligus bertindak sebagai penyusun, pengkonsep, dan host webinar mingguan KabarBursa Insight Emiten. Kini telah terverifikasi Wartawan Madya dari Dewan Pers (20183-LKBN ANTARA/Wdya/DP/II/2026/01/11/96).

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait