KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran nasional pada Mei 2026 relatif stabil meskipun sebagian masyarakat menahan diri untuk berbelanja pada sejumlah sektor komoditas tertentu.
Berdasarkan laporan resmi Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis di Jakarta, kontraksi yang cukup dalam dialami oleh komoditas sandang serta makanan, minuman, dan tembakau secara tahunan.
Penurunan tajam pada sektor pakaian dan pangan tersebut menjadi indikator utama adanya pergeseran serta pelemahan daya beli masyarakat untuk kebutuhan pokok maupun pelengkap.
Di sisi lain, perbaikan performa bulanan secara umum masih tertolong oleh adanya momentum hari besar keagamaan sepanjang bulan Mei.
"Realisasi Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 tercatat sebesar 223,4," tulis Bank Indonesia dalam dokumen laporan resminya, Kamis, 9 Juli 2026.
"Kinerja tersebut secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 3,9 persen (yoy), relatif stabil dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar minus 3,7 persen (yoy)," lanjut BI dalam keterangan tertulis tersebut.
Penurunan performa eceran yang cukup signifikan dialami oleh Subkelompok Sandang atau pakaian dengan mencatatkan kontraksi sebesar 12,0 persen (yoy). Sektor pangan yang mencakup Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga tidak luput dari zona negatif karena menyusut sebesar 4,1 persen (yoy).
Kejatuhan terdalam secara umum dialami oleh sektor peralatan informasi dan komunikasi yang anjlok hingga 18,4 persen (yoy).
Meskipun secara tahunan banyak sektor utama yang berguguran, kinerja penjualan eceran secara bulanan justru memperlihatkan tanda-tanda perbaikan yang cukup signifikan.
Bank sentral mencatat penjualan eceran bulanan pada Mei 2026 hanya turun sebesar 1,5 persen (mtm). Angka penurunan bulanan ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi pada April 2026 yang sempat anjlok sedalam 11,6 persen (mtm).
"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh terjaganya permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional," jelas BI dalam laporan publikasi tersebut.
"Faktor pendorong utama bersumber dari perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak yang jatuh pada bulan yang sama," tambah dokumen itu.
Secara bulanan, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menunjukkan perbaikan yang tecermin dari kontraksi yang mengecil ke level minus 1,3 persen (mtm).
Subkelompok Sandang juga memperlihatkan tren pemulihan bulanan dengan mencatatkan penyusutan yang melandai di angka minus 11,0 persen (mtm).
Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ikut menjadi penyelamat kinerja bulanan dengan tumbuh sebesar 1,3 persen (mtm).
Apabila ditinjau berdasarkan wilayah atau spasial, performa penjualan eceran tahunan pada Mei 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif di beberapa kota besar.
Kota Jakarta memimpin pertumbuhan tahunan tertinggi dengan realisasi kenaikan mencapai 12,8 persen (yoy). Posisi kedua diikuti oleh Kota Medan yang mencatatkan pertumbuhan tahunan tipis sebesar 2,1 persen (yoy).
Sementara itu, untuk pertumbuhan penjualan eceran secara bulanan, Kota Makassar dan Kota Bandung menjadi wilayah dengan akselerasi paling kuat. Kota Makassar mencatatkan pertumbuhan bulanan sebesar 3,8 persen (mtm), sedangkan Kota Bandung menyusul dengan kenaikan 1,0 persen (mtm). Realisasi kedua kota ini melesat dari bulan sebelumnya yang sempat terkontraksi masing-masing sebesar minus 16,6 persen (mtm) dan minus 17,6 persen (mtm).
Prakiraan Kinerja Juni 2026
Untuk periode selanjutnya yaitu Juni 2026, BI memprakirakan kinerja penjualan eceran nasional akan tetap terjaga di zona positif. Indeks Penjualan Riil pada Juni 2026 diproyeksikan akan berada pada level 221,6 atau tumbuh sebesar 4,4 persen secara tahunan.
Pendorong utama dari pertumbuhan Juni ini diperkirakan berasal dari Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.
Secara bulanan, penurunan penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan akan terus menyusut menjadi hanya sebesar minus 0,8 persen (mtm). Perbaikan performa bulanan yang semakin kuat ini didorong oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026.
Sektor yang diperkirakan akan melonjak paling tajam selama musim liburan sekolah tersebut adalah Subkelompok Sandang yang diproyeksikan tumbuh 4,7 persen (mtm).
Sebagai informasi latar belakang, Survei Penjualan Eceran merupakan agenda riset bulanan yang konsisten dilaksanakan oleh Bank Indonesia sejak September 1999. Survei ini bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan Produk Domestik Bruto dari sisi konsumsi rumah tangga. Sejak Januari 2015, BI melibatkan 700 pengecer besar sebagai responden tetap.
Riset berskala nasional ini menggunakan metode penarikan sampel bertujuan atau purposive sampling yang tersebar secara merata di 10 kota besar Indonesia. Kota-kota cakupan survei tersebut meliputi Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Medan, Purwokerto, Makassar, Manado, Banjarmasin, dan Denpasar.
Seluruh perhitungan indeks dalam survei komprehensif ini mengacu pada tahun dasar 2010 dengan nilai standar sebesar 100.(*)