KABARBURSA.COM – Ambisi Indonesia menjadi pemain utama industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) global menghadapi ujian baru. Di saat pemerintah gencar membangun ekosistem baterai berbasis nikel melalui program hilirisasi, perkembangan teknologi baterai dunia justru bergerak ke arah yang semakin beragam dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nikel.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, mengingatkan kebijakan industri nasional perlu lebih cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi agar investasi yang sudah ditanam tidak kehilangan relevansi.
“Dari beberapa kali diskusi dengan para narasumber, banyak sekali teknologi baru yang muncul. Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru,” ujar Sigit dalam Webinar Science to Policy Dialogue Seri ke-2 bertajuk Tantangan Industri EV di Indonesia: Menavigasi Peluang, Inovasi, dan Daya Saing, beberapa waktu lalu, dikutip dari laman brin.go.id, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurut hasil kajian BRIN, industri kendaraan listrik tidak bergerak menuju satu jenis baterai sebagai standar tunggal. Sebaliknya, berbagai teknologi terus berkembang dan saling bersaing sesuai kebutuhan pasar, efisiensi biaya, hingga karakteristik penggunaannya.
Kondisi tersebut, kata Sigit, memunculkan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah telah menggelontorkan investasi besar untuk membangun rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel. Namun di sisi lain, pasar kendaraan listrik global justru mulai mengadopsi teknologi baterai alternatif.
“Indonesia membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, sementara pasar EV global dan domestik secara bersamaan mulai beralih ke teknologi baterai lain,” katanya.
Salah satu teknologi yang mulai mendapat perhatian adalah baterai sodium-ion. Teknologi ini menggunakan natrium yang tersedia lebih melimpah dan berpotensi menawarkan biaya produksi lebih rendah dibanding sebagian baterai berbasis nikel. Apabila mampu berkembang dan menguasai segmen pasar tertentu, teknologi tersebut dinilai dapat mengurangi kebutuhan nikel untuk industri kendaraan listrik.
Selain sodium-ion, perkembangan baterai solid-state, Lithium Iron Phosphate (LFP), dan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) juga menunjukkan perubahan arah industri baterai global. Menurut Sigit, penggunaan baterai LFP terus meningkat karena menawarkan biaya produksi lebih rendah, usia pakai yang panjang, serta tidak memerlukan nikel sebagai bahan baku utama.
“Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen kendaraan listrik utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel,” ujarnya.
Perubahan arah teknologi tersebut dinilai membawa sejumlah konsekuensi terhadap investasi industri berbasis nikel. Risiko yang muncul antara lain potensi kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga nikel, hingga kemungkinan penurunan nilai aset apabila perkembangan teknologi global bergerak ke jalur yang berbeda.
“Masalahnya bukan hanya bagaimana memperbesar produksi satu jenis material, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang mampu mengikuti perubahan teknologi,” tegasnya.
Di luar aspek teknologi, Sigit juga menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saing industri baterai. Proses produksi baterai membutuhkan konsumsi energi yang besar, standar manufaktur yang tinggi, serta efisiensi biaya yang ketat.
Kondisi iklim tropis yang mengharuskan pengendalian suhu dan kelembapan di fasilitas produksi turut menambah biaya operasional. Pada saat yang sama, pasar global semakin menuntut penggunaan energi rendah karbon dalam proses manufaktur.
Ia juga menyoroti dominasi sejumlah negara dalam rantai pasok baterai dunia. Karena itu, Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan mineral, tetapi juga harus memperkuat kemampuan teknologi, manufaktur, riset, hingga pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik seperti perangkat lunak dan sistem manajemen baterai.
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Sigit mendorong agar strategi industri nasional lebih fleksibel dan tidak hanya bertumpu pada satu jenis teknologi. Indonesia dinilai perlu mengembangkan berbagai pilihan teknologi baterai, mulai dari berbasis nikel, LFP, sodium-ion, hingga teknologi baru lainnya.
Selain itu, pengembangan bahan baku alternatif seperti mangan serta penguatan kapasitas inovasi nasional juga menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing industri pada masa depan. “Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel,” ujarnya.
Sigit menegaskan masa depan industri kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan sumber daya alam yang dimiliki suatu negara. Kemampuan membaca arah perkembangan teknologi dan beradaptasi terhadap perubahan justru menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia dalam bersaing di industri kendaraan listrik global.
“Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi,” katanya.
Benarkah Baterai Nikel Mulai Tersisih?
Di tengah peringatan BRIN bahwa industri kendaraan listrik global mulai bergerak ke berbagai teknologi baterai yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nikel, pelaku industri justru melihat arah yang sedikit berbeda. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menilai baterai berbasis nikel masih memiliki ruang tumbuh dan tidak sedang berada di jalur menuju kemunduran.
Pandangan tersebut muncul setelah dominasi baterai LFP di pasar kendaraan listrik China memunculkan kekhawatiran mengenai prospek permintaan bahan baku baterai berbasis nikel.
Ketika sekitar 80 persen instalasi baterai kendaraan listrik di negara tersebut kini menggunakan teknologi LFP, sebagian investor mulai mempertanyakan apakah permintaan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat masih mampu menyerap tambahan kapasitas pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) yang terus bertambah di Indonesia.
Isu tersebut menjadi salah satu pertanyaan investor dalam Public Expose Tahunan PT Trimegah Bangun Persada Tbk pada akhir Juni 2026 lalu. Investor meminta penjelasan mengenai prospek bisnis bahan baku baterai nikel di tengah meningkatnya adopsi teknologi LFP.
Menanggapi hal tersebut, manajemen Harita Nickel menilai persaingan antara baterai berbasis nikel dan LFP tidak dapat dilihat sebagai hubungan saling menggantikan. Perseroan menilai kedua teknologi berkembang untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda.
“Terkait dengan persaingan antara baterai berbasis Lithium Ferro Phosphate (LFP) dan baterai berbasis nikel, Perseroan memandang bahwa kedua jenis baterai tersebut pada dasarnya melayani segmen pasar yang berbeda,” demikian seperti dilihat dalam laporan hasil Public Expose Tahunan NCKL.
Menurut Harita Nickel, baterai berbasis nikel umumnya digunakan pada kendaraan listrik kelas menengah hingga premium yang membutuhkan kepadatan energi lebih tinggi dan jarak tempuh lebih jauh. Karakteristik tersebut dinilai masih menjadi kebutuhan utama di pasar Eropa maupun Amerika Serikat yang memiliki pola perjalanan jarak jauh serta infrastruktur pengisian daya yang belum sepadat China.
Perseroan menyebut sejumlah produsen otomotif global seperti BMW, Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, Volkswagen, hingga Toyota masih memanfaatkan baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) pada berbagai model kendaraan listrik yang mengutamakan performa dan daya jelajah.

Sebaliknya, baterai LFP dinilai berkembang pesat di China karena didukung jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik yang jauh lebih luas. Dengan infrastruktur tersebut, kendaraan yang menggunakan baterai berkapasitas lebih kecil tetap dapat beroperasi secara optimal karena pengisian daya dapat dilakukan lebih sering.
Selain menyasar segmen pasar yang berbeda, Harita Nickel juga menilai baterai berbasis nikel memiliki keunggulan dari sisi ekonomi sirkular. Perseroan menyebut baterai NMC lebih mudah didaur ulang sehingga material berharganya dapat kembali dimanfaatkan dalam rantai pasok industri baterai.
“Baterai NCM bekas dapat diolah kembali menjadi black mass atau black powder untuk diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat,” demikian penjelasan NCKL.
Menurut perseroan, kemampuan tersebut berpotensi memperkuat keberlanjutan industri baterai berbasis nikel dalam jangka panjang. Bahkan, Harita Nickel memperkirakan dalam 20 hingga 30 tahun mendatang sebagian kebutuhan nikel industri baterai dapat dipenuhi dari hasil daur ulang baterai bekas, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari aktivitas pertambangan baru.
Pandangan tersebut menjadi perspektif lain di tengah berkembangnya berbagai teknologi baterai alternatif seperti LFP, Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP), solid-state, hingga sodium-ion yang sebelumnya dinilai BRIN sebagai sinyal bahwa strategi pengembangan industri kendaraan listrik Indonesia perlu lebih adaptif terhadap perubahan teknologi global.(*)