Logo
>

DPR Kritik Kebijakan Impor 105 Ribu Mobil dari India

Ditulis oleh Pramirvan Datu
DPR Kritik Kebijakan Impor 105 Ribu Mobil dari India
Langkah pemerintah mengimpor 105 ribu unit kendaraan dari India, di tengah kondisi industri otomotif nasional

KABARBURSA.COM - Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, mempertanyakan langkah pemerintah mengimpor 105 ribu unit kendaraan dari India, di tengah kondisi industri otomotif nasional yang tengah lesu. Menurutnya, keputusan ini perlu dikaji ulang karena berpotensi menekan pelaku industri dalam negeri.

“Di saat industri otomotif kita sedang lesu, kenapa justru ada impor dalam jumlah besar?” ungkap Darmadi dalam keterangan resmi yang diterima Parlementaria di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026.

Nilai total impor disebut mencapai Rp24,66 triliun. Pengadaan dilakukan oleh BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih, dengan rincian 35 ribu unit berasal dari Mahindra & Mahindra dan 70 ribu unit dari Tata Motors.

Darmadi menegaskan, belanja publik seharusnya menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan industri nasional, bukan justru melemahkannya.

“Belanja negara itu harus menjadi pengungkit ekonomi dalam negeri. Kalau kapasitas produksi kita ada, mestinya itu yang diprioritaskan,” tegas legislator Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Ia menambahkan, penjualan mobil domestik tercatat turun sekitar 7 persen, sementara permintaan kendaraan niaga dalam dua tahun terakhir juga mengalami penurunan. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa industri otomotif membutuhkan stimulus permintaan.

“Industri kita sedang butuh order. Kalau ada pesanan besar seperti ini, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjaga utilisasi pabrik dan lapangan kerja,” ujarnya.

Dampak lebih luas dari kebijakan impor juga menjadi sorotan Darmadi. Jika produksi dilakukan di dalam negeri, nilai tambah ekonomi akan berputar di sektor manufaktur, industri komponen, logistik, hingga UMKM pendukung.

“Kalau diproduksi di dalam negeri, efek gandanya jelas. Tenaga kerja terserap, rantai pasok bergerak, industri komponen hidup,” katanya.

Sebaliknya, ia mengingatkan, impor dalam jumlah besar berisiko mengalirkan manfaat ekonomi ke luar negeri.

“Kita jangan sampai kehilangan momentum untuk memperkuat industri sendiri. Kemandirian ekonomi tidak dibangun dari impor yang sebenarnya bisa kita produksi,” pungkas Darmadi, menekankan urgensi prioritas pada produksi lokal.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.