KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka (stock futures) bergerak bervariasi pada Minggu, 5 Juli 2026 malam, setelah pekan solid di Wall Street berhasil mendorong indeks Dow Jones Industrial Average ke rekor tertinggi baru.
Seperti dilansir CNBC International, kontrak berjangka yang terikat pada indeks acuan 30 saham Dow Jones tergelincir 28 poin atau 0,1 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka S&P 500 menguat 0,4 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq-100 melesat 1,3 persen.
Sepanjang pekan lalu, indeks Dow Jones melonjak hampir 2 persen, menempatkannya kian dekat dengan level psikologis 53.000—sebuah level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga mencetak kenaikan tajam masing-masing sebesar 1,8 persen dan 2,1 persen.
Penguatan tersebut terjadi bahkan di saat sektor semikonduktor—yang menjadi motor utama reli pasar saham tahun ini—justru melemah pekan lalu. Kondisi ini dipicu oleh langkah investor yang memangkas kepemilikan pada saham-saham produsen cip dan melakukan rotasi modal ke sektor lain. Reksa dana berkode VanEck Semiconductor ETF (SMH) menyusut 3,2 persen, sekaligus menandai penurunan dalam dua pekan berturut-turut.
"Peluasan rotasi sektor ini merupakan sentimen positif yang besar. Sektor Finansial, Layanan Kesehatan, dan Industri seluruhnya ditutup pada rekor tertinggi mingguan baru pekan ini, dan mampu mengompensasi konsolidasi yang terjadi pada sektor Semikonduktor," tulis Mark Newton, Kepala Strategi Teknikal di Fundstrat.
"Meskipun penurunan sektor Semikonduktor menjadi hambatan jangka pendek yang membuat sektor lain lebih menarik untuk dimiliki sementara waktu, kondisi ini tidak merusak indeks secara keseluruhan," tambah Newton.
Newton memproyeksikan indeks S&P 500 mampu menyentuh level 8.000 pada pertengahan Agustus. Indeks acuan tersebut ditutup pada level 7.483,24 pekan lalu, atau sekitar 7 persen di bawah target level 8.000.
Pada pekan ini, para pelaku pasar akan mengalihkan fokus mereka ke Bank Sentral AS (Federal Reserve), seiring dengan akan dirilisnya risalah rapat bulan Juni pada hari Rabu mendatang. Ini merupakan risalah rapat perdana di bawah kepemimpinan Ketua anyar The Fed, Kevin Warsh.
Investor Alami Kejenuhan Terhadap Sentimen Kecerdasan Buatan (AI)
Presiden Yardeni Research menilai Wall Street saat ini tengah mengalami "kejenuhan terhadap AI" akibat belum yakinnya para pelaku pasar bahwa investasi masif pada infrastruktur kecerdasan buatan akan mampu menghasilkan tingkat pengembalian modal (rate of return) yang baik.
"Investor mengkhawatirkan potensi terjadinya kelebihan kapasitas produksi (excess capacity) serta ketatnya persaingan di antara para penyedia layanan AI, termasuk yang berasal dari China. Mereka juga merasa cemas dengan penurunan harga token AI, meskipun dampaknya terhadap pendapatan penyedia layanan kemungkinan bisa diimbangi oleh volume penggunaan yang lebih besar," tambahnya.
"Kendati demikian, kami tidak memercayai narasi gelembung (bubble) yang menyamakan pasar bullish saat ini dengan gelembung teknologi pada akhir dekade 1990-an, yang kemudian diikuti oleh kehancuran besar sektor teknologi (Great Tech Wreck) di awal tahun 2000-an," pungkasnya.
Pekan Lalu, Dow Jones Pecah Rekor Baru, Nasdaq Tertekan Saham Semikonduktor
Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi pada Kamis setelah investor merespons data laporan nonfarm payrolls (data ketenagakerjaan non-pertanian) Amerika Serikat bulan Juni yang berada di bawah ekspektasi.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melemah akibat tekanan berkelanjutan pada saham-saham sektor semikonduktor.
Indeks Dow Jones yang berisikan 30 saham unggulan menguat 594,83 poin atau 1,14 persen, ditutup pada rekor 52.900,07. Indeks ini sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) secara intraday di level 52.903,85. Di sisi lain, indeks S&P 500 naik tipis kurang dari 1 poin ke level 7.483,24, sedangkan Nasdaq merosot 0,8 persen ke level 25.832,67.
Saham semikonduktor melemah selama dua hari berturut-turut, yang turut membebani indeks S&P 500 dan Nasdaq. VanEck Semiconductor ETF (SMH) jatuh 4,5 persen, dipimpin oleh penurunan saham Teradyne sebesar 13,6 persen dan KLA sebesar 11,5 persen. Saham Nvidia juga terkoreksi 1,4 persen, sementara saham Micron kehilangan 5,5 persen nilainya.
"Ini berpotensi menjadi rotasi keluar dari sektor yang telah sangat panas dalam beberapa bulan terakhir ke sektor lain, tetapi saya juga melihat adanya penilaian ulang terhadap tren perdagangan AI itu sendiri," ujar Anshul Sharma, Chief Investment Officer di Savvy Wealth.
"Jika perusahaan menjadi lebih sensitif terhadap biaya komputasi, apakah itu akan menjadi area fokus berikutnya bagi mereka?" tegas dia.
Tiga indeks utama Wall Street mengakhiri pekan yang lebih pendek akibat libur nasional dengan kenaikan yang solid. Indeks S&P 500 menguat 1,8 persen, sementara Dow Jones dan Nasdaq masing-masing melonjak hampir 2 persen dan 2,1 persen.(*)